Showing posts with label ILMU KESEHATAN MASYARAKAT. Show all posts
Showing posts with label ILMU KESEHATAN MASYARAKAT. Show all posts

Sunday, January 24, 2010

PARADIGMA SEHAT MENUJU INDONESIA SEHAT 2010 (HEALTH PARADIGM TOWARDS HEALTHY INDONESIA 2010) 2

Dr. Suparyanto, M.Kes

Paradigma Sehat

Pengertian :
  • Cara pandang, pola pikir atau model pembangunan kesehatan yang melihat masalah kesehatan saling berkait dan mempengaruhi dengan banyak faktor yang bersifat lintas sektor, dan upayanya lebih diarahkan pada peningkatan, pemeliharaan dan perlindungan kesehatan, bukan hanya penyembuhan orang sakit atau pemulihan kesehatan


Secara makro
  • Berarti bahwa pembangunan semua sektor harus memperhatikan dampaknya di bidang kesehatan, minimal memberikan sumbangan dalam pengembangan lingkungan dan perilaku sehat


Secara mikro
  • Berarti bahwa pembangunan kesehatan harus menekankan pada upaya promotif dan preventif, tanpa mengesampingkan upaya kuratif dan rehabilitatif


  • Paradigma sehat dengan sebutan : “ Gerakan Pembangunan Yang Berwawasan Kesehatan “ dicanangkan oleh Presiden RI pada tanggal : 1 Maret 1999


Latar Belakang / Dasar Pemikiran:
  • Sehat adalah hak asasi manusia : Sehat merupakan sesuatu yang sangat esensial dalam diri manusia, yang perlu dipertahankan dan dipelihara

  • Sehat merupakan investasi. Untuk kehidupan yang produktif, sehat bukannya sesuatu yang konsumtif, tetapi merupakan prasyarat agar hidup kita menjadi berarti, sejahtera dan bahagia

  • Health is not everything, but without health everything is nothing

  • Sehat merupakan salah satu dari tiga faktor utama kualitas sdm. Disamping Pendidikan dan Pendapatan

  • Sehat merupakan karunia tuhan yang patut disyukuri. Bersyukur dengan perbuatan berarti berupaya memelihara dan meningkatkan

  • Memelihara dan meningkatkan kesehatan lebih efektif daripada mengobati

  • Derajat kesehatan dipengaruhi oleh faktor lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan dan keturunan. Faktor lingkungan dan perilaku mempunyai kontribusi sangat besar terhadap kualitas derajat kesehatan


Berdasarkan Paradigma Sehat :
Dirumuskan Visi Misi Dan Strategi Pembangunan Kesehatan

Visi Pembanguan Kesehatan: “ Indonesia Sehat 2010 “
  • Adalah gambaran masyarakat Indonesia dimasa depan yang penduduknya hidup dalam lingkungan dan perilaku sehat, mampu menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu, adil dan merata, serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi tingginya

  • Sehat : Meliputi kesehatan jasmani, rohani, serta sosial dan bukan hanya keadaan yang bebas dari penyakit, cacat dan kelemahan.

  • Lingkungan Sehat : Lingkungan yang konduksif bagi terwujudnya keadaan sehat yaitu lingkungan yang : (Bebas polusi; Tersedianya air bersih; Sanitasi lingkungan yang memadai; Perumahan dan pemukimam yang sehat; Perencanaan kawasan berwawasan kesehatan; Kehidupan masyarakat saling tolong menolong)

  • Perilaku Sehat : Perilaku proaktif untuk: Memelihara dan meningkatkan kesehatan, Mencegah resiko terjadinya penyakit; Melindungi diri dari ancaman penyakit; Berperan aktif dalam gerakan kesehatan masyarakat


Misi Pembangunan Kesehatan:
  1. Menggerakan pembangunan nasional berwawasan kesehatan

  2. Mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup sehat

  3. Meningkatkan pelayanan kesehatan bermutu , merata, terjangkau

  4. Meningkatkan kesehatan individu, keluarga, masyarakat dan lingkungan


Strategi Pembangunan Kesehatan
  1. Pembangunan nasional berwawasan kesehatan

  2. Profesionalisme

  3. JPKM

  4. Desentralisasi


Referensi:

  1. Vaughan, Morrow, 1993, Panduan Epidemiologi Bagi Pengelolaan Kesehatan Kabupaten, Bandung, ITB

  2. Entjang, Indan, 2000, Ilmu Kesehatan Masyarakat, Bandung, Citra Aditya Bakti

  3. M. N. Buston, 1977, Pengantar Epidemiologi, Rineka Cipta, Jakarta

  4. M. N. Buston, 1977, Epidemiologi penyakit Tidak Menular, Rineka Cipta, Jakarta

  5. Azrul Azwar, 1989, Penanggulangan Wabah oleh Puskesmas, Binarupa, Jakarta

  6. Noor Nasri N, 1997, Dasar Epidemiologi, Rineka Cipta, Jakarta

  7. Sukidjo Notoatmodjo, 2001, Ilmu Kesehatan Masyarakat, Rineka Cipta, Jakarta

  8. Azrul Azwar, 2001, Ilmu Kesehatan Masyarakat, Binarupa, Jakarta

  9. Bambang, 1990, Dasar dasar Epidemiologi



PHC ( Primary Health Care)

Dr. Suparyanto, M.Kes

PHC (Primary Health Care)

Pada tahun 1978, dalam konferensi Alma Alta ditetapkan prinsip-prinsip Primary Health Care sebagai pendekatan atau strategi global guna mencapai kesehatan bagi semua. Lima prinsip dasar Primary Health Care meliputi tiga unsure utama yaitu: upaya dasar kesehatan, peran serta masyarakat dan kerjasama lintas sektoral, sebagai berikut:
  1. Pemerataan upaya kesehatan;
  2. Penekanan pada upaya preventif;
  3. Penggunaan teknologi tepat guna dalam upaya kesehatan;
  4. Peran serta masyarakat dalam semangat kemandirian;
  5. Kerjasama lintas sektoral dalam membangun kesehatan

Pengertian Primary Health Care, menurut deklarasi Alma Alta 1978, adalah sebagai berikut:
  • “Primary Health Care is essential health care, based on practical, scientifically sound socially acceptable methods and technology made universally accessible to individuals and families in the community, through their full participation and at a cost that the community and the country can afford to maintain at every stage of their development, in the spirit of self reliance and self determination”
  • “It forms and integral part both of the country’s health system, of which it is the central function and its main focus, and of the overall social and economic development of the community. It is the first level of contact of individuals, the family and community with the national health system bringing health care as close as possible to where people live and work, and constitutes the first element of a continuing health care process”.

Primary Health Care:
  1. Menggambarkan keadaan social ekonomi, budaya dan politik masyarakat dan berdasarkan penerapan hasil penelitian kesehatan-sosial-biomedis dan pelayanan kesehatan masyarakat.
  2. Ditujukan untuk mengatasi masalah utama kesehatan masyarakat dengan upaya preventif, promotif, kuratif dan rehabilitatif.
  3. Minimal mencakup: penyuluhan tentang masalah kesehatan utama dan cara pencegahan dan pengendaliannya, penyediaan makanan dan peningkatan gizi, penyediaan sanitasi dasar dan air bersih, pembinaan kesehatan ibu dan anak termasuk keluarga berencana, imunisasi terhadap penyakit menular utama dan penyegahan penyakit endemic, pengobatan penyakit umum dan cedera serta penediaan obat esensial.
  4. Melibatkan dan meningkatkan kerjasama lintas sector dan aspek-aspek pembangunan nasional dan masyarakat di samping sector kesehatan, terutama pertanian, peternakan, industri makanan, pendidikan, penerangan, agama, perumahan, pekerjaan umum, perhubungan dan sebagainya.
  5. Membutuhkan sekaligus meningkatkan kepercayaan diri serta masyarakat dalam perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengendalian PHC serta penggunaan sumberdaya yang ada.
  6. Ditunjang oleh system rujukan upaya kesehatan secara terpadu fungsional dan timbal balik guna memberikan pelayanan secara menyeluruh, dengan memprioritaskan golongan masyarakat yang paling membutuhkan.
  7. Didukung oleh tenaga kesehatan professional dan masyarakat, termasuk tenaga kesehatan tradisonal yang terlatih di bidang teknis dan social untuk bekerja sebagai tim kesehatan yang mampu bekerja bersama masyarakat dan membangunkan peran serta masyarakat.

Hal-hal yang mendorong pengembangan konsep Primary Health Care adalah:
  1. Kegagalan penerangan teknologi pelayanan medis tanpa disertai orientasi aspek social-ekonomi-politik.
  2. Penyebaran konsep pembangunan yang mengaitkan kesehatan dengan sektor pembangunan lainnya serta menekankan pentingnya keterpaduan, kerjasama lintas sektor dan pemerataan/perluasan daya jangkau upaya kesehatan.
  3. Keberhasilan pembangunan kesehatan dengan pendekatan peran serta masyarakat di beberapa negara.

  • Dengan demikian PHC sesungguhnya terjadi perubahan sosial dalam pembangunan kesehatan, diperlukan perubahan mental, perubahan struktur sistem kesehatan dan reorientasi pendayagunaan sumberdaya dan cara kerja petugas kesehatan. Pemerataan kesehatan menjadi esensi pendekatan ini, sehingga semakin disadari kaitan luas antara kesehatan dengan sektor lain, termasuk kesempatan kerja, lingkungan dan kedamaian hidup manusia.

PEMBANGUNAN KESEHATAN MASYARAKAT DESA (PKMD)

  • PKMD adalah bentuk operasional dari PHC di Indonesia. PKMD mencakup serangkaian kegiatan swadaya masyarakat berazaskan gotong royong, yang didukung oleh pemerintah melalui koordinasi lintas sektoral dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan kesehatan atau yang terkait dengan kesehatan, agarmasyarakat dapat hidup sehat guna mencapai kualitas hidup dan kesejahteraan yang lebih baik.

Upaya Kesehatan Dasar PKMD mempunyai 8 upaya kesehatan dasar yang mencakup:
  1. Pendidikan masyarakat tentang masalah kesehatan dan upaya penanggulangannya.
  2. Pemberantasan dan pencegahan penyakit endemik setempat.
  3. Program Imunisasi
  4. Kesehatan ibu, anak dan keluarga berencana
  5. Pengadaan obat esential
  6. Pengadaan pangan dan gizi
  7. Pengobatan penyakit umum dan cedera
  8. Penyediaan air bersih dan sanitasi lingkungan

Program PKMD mencakup kegiatan seperti:
  1. Asuransi kesehatan
  2. Pos obat desa (POD)
  3. Tanaman obat keluarga (TOGA)
  4. Pos kesehatan
  5. Pondok bersalin Desa (Polindes)
  6. Tenaga kesehatan sukarela
  7. Kader kesehatan
  8. Kegiatan peningkatan pendapatan (perkreditan, perikanan, industri rumah tangga)

  • Program PKMD merupakan bagian integral dari pembangunan pedesaan yang menyeluruh, dibawah naungan LKMD, sekarang namanya BPD (Badan Perwakilan Desa). BPD bertanggung jawab terhadap sepuluh sisi pembangunan, termasuk kesehatan dengan tujuan untuk meningkatkan kehidupan ekonomi dan sosial masyarakat.

Hubungan PHC, PKMD dan Posyandu
  • Pendekatan PHC dimantapkan oleh adanya prioritas untuk menurunkan tngkat kematian bayi, ibu dan tingkat kelahiran. Strategi ini ditandai dengan pembangunan jaringan pelayanan ke tingkat masyarakat melalui Posyandu. Posyandu mencakup tiga unsur utama PHC, yang meliputi peran serta masyarakat, kerjasama lintas sektoral dan perluasan jangkauan upaya kesehatan dasar. Posyandu dengan ”lima kridanya” merupakan bentuk PHC atau PKMD yang berprioritas. Apabila selanjutnya memungkinkan untuk melengkapi krida (kegiatan) Posyandu dengan kebutuhan dasar yang lain yaitu sanitasi dasar dan penyediaan obat esensial sehingga menjadi sapta krida Posyandu, lengkaplah upaya kesehatan dasar yang dilaksanakan melalui Posyandu untuk meningkatkan kemampuan hidup sehat penduduk guna mencapai ”kesehatan bagi semua tahun 2000”

REFERENSI:

  1. Vaughan, Morrow, 1993, Panduan Epidemiologi Bagi Pengelolaan Kesehatan Kabupaten, Bandung, ITB
  2. Entjang, Indan, 2000, Ilmu Kesehatan Masyarakat, Bandung, Citra Aditya Bakti
  3. M. N. Buston, 1977, Pengantar Epidemiologi, Rineka Cipta, Jakarta
  4. M. N. Buston, 1977, Epidemiologi penyakit Tidak Menular, Rineka Cipta, Jakarta
  5. Azrul Azwar, 1989, Penanggulangan Wabah oleh Puskesmas, Binarupa, Jakarta
  6. Noor Nasri N, 1997, Dasar Epidemiologi, Rineka Cipta, Jakarta
  7. Sukidjo Notoatmodjo, 2001, Ilmu Kesehatan Masyarakat, Rineka Cipta, Jakarta
  8. Azrul Azwar, 2001, Ilmu Kesehatan Masyarakat, Binarupa, Jakarta
  9. Bambang, 1990, Dasar dasar Epidemiologi

Friday, January 22, 2010

PENGANTAR ILMU KESEHATAN MASYARAKAT (Introduction of Public Health Sciences)


Dr. Suparyanto, M.Kes

Winslow (1920) mendefisikan Kesesahan Masyarakat (Public Health) sebagai suatu Ilmu dan seni: mencegah penyakit, memperpanjang hidup, dan meningkatkan kesehatan, melalui “usaha-usaha pengorganisasian masyarakat” untuk:
  1. Perbaikan sanitasi lingkungan
  2. Pemberantasan penyakit menular
  3. Pendidikan untuk kebersihan perorangan
  4. Pengorganisasian pelayanan medis dan perawatan untuk diagnosis dini dan pengobatan
  5. Pengembanagan rekayasa sosial untuk menjamin setiap orang terpenuhi kebutuhan hidup yang layak dalam memelihara kesehatan.

Ikatan Dokter Amerika (1948) mendefinisikan Kesehatan Masyarakat adalah ilmu dan seni memelihara, melindungi dan meningkatkan kesehatan masyarakat melalui usaha-usaha pengorganisasian masyarakat.

SEJARAH ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

Mitos Yunani
  • Asclepius: dokter pertama yang dapat mengobati penyakit dan melakukan pembedahan dengan cara tertentu. Higiena, asisten/isri Asclepius, mengajarkan pada pengikutnya melalui pendekatan Hidup seimbang, menghindari makanan/minuman beracun, makan makan yang bergizi, cukup istirahat dan olah raga. Dari cerita mitos Yunani tersebut, muncul dua pendekatan dalam penangan kesehatan, aliran pertama lebih menekankan pengobatan (kuratif), aliran kedua lebih menekankan pencegahan (preventif) dan peningkatan (promosi) kesehatan.

Perbedaan curatif health care dan preventif heath care

NO   CURATIF HEALTH   CARE PREVENTIF HEATH CARE
1   Sasaran individul   Sasaran masyarakat
2   Pedekatan reaktif    Pendekatan proaktif
3   Penangganan bio-psikologis   Penangganan bio-psiko-sosial

Periode sebelum Ilmu Pengetahuan
  • Pada zaman Romawi kuno telah dibuat latrin/tempat pembuangan kotoran manusia, bukan untuk tujuan mencegah penyakit. Tetapi untuk mencegah bau dan pandangan yang tidak mengenakan.
  • Pada zaman Romawi telah ada peraturan yang mengharuskan untuk mencatatkan pembangunan rumah, melaporkan binatang berbahaya/ bau, melakukan supervisi pada tempat minum, warung, prostitusi.
  • Abad ketujuh, dirasakan kesehatan masyarakat sudah begitu penting, karena saat itu sudah ada wabah kolera dan kusta
  • Abad ke 12, terjadi wabah pes dasyat di Cina dan India. Pada tahun 1340 tercatat 13 juta meninggal karena pes.
  • Pada masa tersebut, masalah kesehatan masyarakat sudah demikian hebatnya, tetapi upaya pemecahan masalah kesehatan masyarakat secara menyeluruh belum dilakukan.

Periode Ilmu Pengetahuan
  • Pada abad ke 19 telah ditemukan vaksin cacar oleh Louis Pasteur, asam karbol untuk sterilisasi operasi oleh Joseph Lister, ether untuk anestesi oleh William Marton
  • Tahun 1832 dibentuk komisi untuk penyelidikan dan upaya kesehatan masyarakat di Inggris diketuai oleh Edwin Chadwich.
  • Tahun 1893, John Hopkins, mendirikan Fakultas Kedokteran di Amerika.
  • Tahun 1855, di Amerika dibentuk Departemen Kesehatan, yang berfungsi menyelenggarakan pelayanan kesehatan masyarakat. Termasuk pengawasan kesehatan lingkungan.
  • Tahun 1872, diadakan pertemuan orang-orang yang peduli pada kesehatan masyarakat dengan dibentuknya Asosiasi Kesehatan Masyarakat Amerika (American Public Health Assosiation).

Perkembangan IKM di Indonesia
  • Dimulai abad ke 16, pada saat pemerintahan Belanda. Tahun 1927, kolera masuk Indonesia, 1937 terjadi wabah kolera eltor, 1948 cacar masuk Indonesia, sejak adanya wabah kolera pemerintahan Belanda melakukan upaya kesehatan masyarakat.
  • Tahun 1807 oleh Gubernur Jendral Daendels dilakukan pelatihan dukun bayi dan praktek persalinan
  • Tahun 1851, dr.Bosch mendirikan STOVIA (School Tot Oplelding Van Indiche Arsten) sekolah kedokteran untuk pribumi di Jakarta, dan di Surabaya tahun 1913 didirikan NIAS (Nederland Indische Arsten School)
  • Tahun 1922, pes masuk Indonesia, setahun berikutnya telah terjadi wabah, 1935 dilakukan penyemprotan DDT dan vaksinasi masal.
  • Tahun 1951, Dr. Y. Leimena dan dr. Patah memperkenalkan Konsep Bandung, bahwa aspek kuratif dan preventif tidak dapat dipisahkan
  • Tahun 1956, dr. Y. Sulianti mendirikan “Proyek Bekasi” proyek keterpaduan pelayanan kesehatan pedesaan dan pelayanan medis.
  • Tahun 1967, seminar tentang kesehatan masyrakat terpadu, tentang konsep Puskesmas oleh dr. Achmad Dipodilogo, yang akhirnya pada tahun 1968 dikembangkan oleh Pemerintah

RUANG LINGKUP KESEHATAN MASYARAKAT

  1. Epidemiologi
  2. Biostatistik/statistik Kesehatan
  3. Kesehatan Lingkungan
  4. Pendidikan Kesehatan dan Perilaku
  5. Administrasi Kesehatan Masyarakat
  6. Gizi Masyarakat
  7. Kesehatan Kerja

UPAYA-UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT:

  1. Pemberantasan penyakit menular dan tidak menular
  2. Perbaikan sanitasi lingkungan
  3. Perbaikan Lingkungan Pemukiman
  4. Pemberantasan vektor
  5. Pendidikan/penyuluhan kesehatan masyarakat
  6. Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak
  7. Pembinaan Gizi masyarakat
  8. Pengawasan sanitasi tempat-tempat umum
  9. Pengawasan obat dan minuman
  10. Pembinaan peran serta masyarakat

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI DERAJAT KESEHATAN MASYARAKAT

Blum (1974) mengatakan bahwa ada 4 faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat:
  1. Lingkungan, yang mencakup lingkungan fisik, sosial, budaya, politik, ekonomi, dan sebagainya
  2. Perilaku
  3. Pelayanan Kesehatan
  4. Hereditas (keturunan)

  • Intervensi faktor lingkungan : perbaikan sanitasi, peningkatan pendidikan, perbaikan sosial ekonomi, stabilitas politik dan keamanan
  • Intervensi pelayanan kesehatan: penyediaan dan perbaikan fasilitas kesehatan, perbaikan sistem dan manajemen pelayanan kesehatan
  • Intervensi hereditas, perbaikan gizi ibu hamil, pendidikan kesehatan pada kelompok risiko penyakit keturunan.

REFERENSI:

  1. Vaughan, Morrow, 1993, Panduan Epidemiologi Bagi Pengelolaan Kesehatan Kabupaten, Bandung, ITB
  2. Entjang, Indan, 2000, Ilmu Kesehatan Masyarakat, Bandung, Citra Aditya Bakti
  3. M. N. Buston, 1977, Pengantar Epidemiologi, Rineka Cipta, Jakarta
  4. M. N. Buston, 1977, Epidemiologi penyakit Tidak Menular, Rineka Cipta, Jakarta
  5. Azrul Azwar, 1989, Penanggulangan Wabah oleh Puskesmas, Binarupa, Jakarta
  6. Noor Nasri N, 1997, Dasar Epidemiologi, Rineka Cipta, Jakarta
  7. Sukidjo Notoatmodjo, 2001, Ilmu Kesehatan Masyarakat, Rineka Cipta, Jakarta
  8. Azrul Azwar, 2001, Ilmu Kesehatan Masyarakat, Binarupa, Jakarta
  9. Bambang, 1990, Dasar dasar Epidemiologi