Monday, May 2, 2011

EMESIS GRAVIDARUM Menurut dr-suparyanto

Dr. Suparyanto, M.Kes

EMESIS GRAVIDARUM

PENGERTIAN EMESIS GRAVIDARUM
  • Morning sickness disebut juga sakit pagi adalah gejala muntah (emesis gravidarum), biasanya terjadi pada pagi hari (Rustam, 2002). Morning sickness adalah mual (nausea) atau muntah (vormitusi) yang terjadi dalam awal bulan kehamilan, biasanya hanya saat ba

PENILAIAN STATUS GIZI Menurut dr-suparyanto

Dr. Suparyanto, M.Kes

PENILAIAN STATUS GIZI

PENGERTIAN STATUS GIZI
  • Status Gizi adalah ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam bentuk tertentu atau perwujudan dari nutriture dalam bentuk variable tertentu. Contoh: Gondok merupakan

PENYAKIT DARAH TINGGI (HIPERTENSI) Menurut dr-suparyanto

Dr. Suparyanto, M.Kes

PENYAKIT DARAH TINGGI (HIPERTENSI)

PENGERTIAN HIPERTENSI
  • Hipertensi atau tekanan darah adalah kekuatan yang digunakan oleh darah yang bersirkulasi pada dinding-dinding dari pembuluh-pembuluh darah, dan merupakan satu dari tanda-tanda vital yang utama dari kehidupan, yang juga termasuk detak jantung, kecepatan pernapasan, dan temperatur. (Muhammadun, 2010).
  • Hipertensi adalah keadaan ketika seseorang mengalami peningkatan tekanan darah di atas normal atua kronis dalam waktu yang lama. Hipertensi merupakan kelainan yan

HIV/AIDS Menurut dr-suparyanto

Dr. Suparyanto, M.Kes

HIV/AIDS

PENGERTIAN HIV/AIDS
  • HIV (Human Immuno Deficiency Virus) adalah virus penyebab AIDS yang menyerang system kekebalan tubuh manusia sehingga tidak mampu melindungi dari serangan penyakit lain (Dinkes Nganjuk, 2009:18)).
  • HIV yaitu virus yang merusak system kekebalan tubuh manusia (Dinkes Jatim, 2008: 31).
  • AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome) adalah kumpulan dari beberapa gejala penyakit akibat menurunnya system kekebalan tubuh yang disebabkan oleh HIV (Dinkes Nganjuk, 2009:18).
  • AIDS adalah sekumpulan gejala yang diakibatkan oleh menurunya system kekebalan tubuh manusia karena terinfeksi HIV (Dinkes Jatim, 2008:31).
  • AIDS adalah suatu sindrom penyakit defisiensi imunitas selular yang didapat, yang pada penderitannya tidak dapat ditemukan penyebab defisiensi tersebut (Unandar B, 1999: 401).
  • AIDS merupakan gangguan immunodefisiensi yang sekunder yang disebabkan oleh retrovirus (HIV) yang telah terisolasi dalam cairan tubuh orang yang terinfeksi (C.Long Barbara, 1996: 572).

GAMBARAN KLINIS
  • Infeksi oleh HIV memberikan gambaran klinik yang tidak spesifik dengan spectrum yang lebar, mulai dari infeksi tanpa gejala pada stadium awal sampai pada gejala-gejala yang berat pada stadium yang lebih lanjut. Dua minggu setelah penularan beberapa penderita terjadi demam, nyeri tenggorok, keringat pada malam hari, diare. Gejala-gejala ini hilang sendiri, dan setelah itu 6 bulan sampai 8 tahun akan lebih tidak memberi gejala. Pada tahap selanjutnya sistim kekebalan tubuh mulai terganggu dan timbul gejala-gejala dari AIDS related complex berupa demam, berat badan turun lebih dari 10%, diare yang lama atau berulang-ulang, keringat pada malam hari dan perasaan lelah yang berlangsung lebih dari satu bulan. Pada tingkat akhir yang dinamakan AIDS, kekebalan tubuh sudah sangat menurun dan terjadi infeksi berat yang lama atau timbul beberapa jenis kanker dan akhirnya penderita meninggal (Tjahyo D, 2000: 76).

CARA PENULARAN
  • HIV hanya bisa ditularkan oleh orang yang telah terinfeksi HIV melalui :
  1. Hubungan seks berganti-ganti pasangan. Penampilan seseorang tidak menjamin orang tersebut bebas dari HIV. Makin banyak pasangan seks, makin berisiko. Risiko semakin besar jika pasangannya terkena IMS (Infeksi Menular Seksual) karena luka dan jaringan tubuh yang terbuka akibat IMS merupakan pintu masuk HIV.
  2. Pengunaan jarum suntik narkoba, tindik dan tatto yang tidak steril/bergantian. Sisa darah yang tertinggal pada jarum sangat potensial menularkan HIV jika tanpa disterilkan.
  3. Ibu ke bayinya, Bisa terjadi selama proses kehamilan, melahirkan, dan menyusui. Penelitian menyatakan bahwa risiko penularan dari ibu yang terinfeksi kebayinya rata-rata 30%.
  4. Transfusi darah tanpa screening. Penularan HIV melalui transfuse darah akan terjadi bila :
  • Darah yang didonorkan tidak discreening terlebih dahulu sebelum ditransfusikan.
  • Pendonor yang terinfeksi HIV pada periode jendela bisa jadi belum terdeteksi kebenaran virus HIV-nya. Maka darahnya berpotensi menularkan HIV (Dinkes Nganjuk, 2009: 19)

KELOMPOK YANG BERESIKO TINGGI TERKENA HIV/AIDS
  • Sesuai dengan sifat-sifat AIDS maka kelompok risiko tinggi ini harus mempunyai cirri-ciri sebagai berikut :
  1. Aktif dalam perilaku seksual menyimpang. Makin aktif, makin tinggi risikonya. Golongan yang sangat aktif adalah WTS (Wanita Tuna Susila), PTS (Pria Tuna Susila), dan pencari kepuasan seksual (pelanggan WTS atau PTS). Ditinjau dari usianya yang mempunyai kemungkinan tertinggi untuk berperilaku seksual aktif adalah orang remaja keatas.
  2. Kaum biseksual maupun homoseksual
  3. Mereka yang suka/pernah melakukan hubungan seksual dengan orang yang berasal dari daerah-daerah dimana insiden AIDS tinggi. Mereka tinggal di daerah tujuan wisata atau yang senang melayani wisatawan mempunyai peluang yang lebih besar (Depkes RI, 2002: 62).

PREVALENSI
  • Ratio kasus AIDS antara laki-laki dan perempuan adalah 3:1. Cara penularan kasus AIDS kumulatif yang dilaporkan melalui Heteroseksual 48,8%, IDU (Injecting Drug User) 41,5%, dan Homoseksual 3,3%. Proporsi kasus AIDS tertinggi dilaporkan pada kelompok umur 20-29 tahun (50,07%), disusul kelompok umur 30-39 tahun (29,63%) dan kelompok umur 40-49 tahun (8,49%) (Dinkes Nganjuk, 2009: 18).

TAHAP / FASE HIV/AIDS
  1. Tahap 1 (tahap Window), infeksi dimulai dengan masuknya HIV dan diikuti terjadinya perubahan serologis ketika antibody terhadap virus tersebut berubah dari negatif menjadi positif. Lama periode jendela yaitu 1-3 bulan, bahkan ada yang dapat berlangsung sampai 6 bulan (Nursalam, 2007: 47).
  2. Tahap 2 : Asimptomatik (tanpa gejala), belum ada gejala khas. Keadaan ini dapat berlangsung rerata selama 5-10 tahun. Cairan tubuh pasien HIV/AIDS yang tampak sehat ini sudah dapat menularkan HIV kepada orang lain (Nursalam, 2007 : 47).
  3. Tahap 3, keringat berlebihan pada waktu malam hari, diare terus menerus, berat badan terus menurun, pembengkakan kelenjar getah bening, Flu (Dinkes Jatim, 2008 : 31).
  4. Tahap 4 (tahap AIDS), system kekebalan tubuh sangat lemah, mulai muncul gejala-gejala infeksi oportunistik (Infeksi yang muncul karena system kekebalan tubuh lemah) diantaranya : infeksi paru (TBC), Infeksi jamur pada mulut (sariawan yang parah), kanker kulit (sarcoma Kaposi), dll (Dinkes Jatim, 2008 : 31).

PENCEGAHAN
  1. Puasa seks yaitu tidak melakukan hubungan seks sebelum menikah.
  2. Setia pada pasangan seks yang sah, tidak berganti-ganti pasangan seks.
  3. Pemakaina kondom pada setiap melakukan hubungan seks yang berisiko tertular virus HIV atau penyakit menular seksual lainnya.
  4. Tidak menggunakan jarum suntik narkoba secara bergantian. (Tjahyo D, 2000 : 77)

DIAGNOSIS HIV/AIDS
  • Dengan tes darah standart (serologi), laboratorium pertama kali melakukan enzyme-linked immunoassay (ELISA atau EIA). Hasil elisa yang negatif berarti tidak terinfeksi. Bila hasilnya positif, laboratorium secara otomatis melakukan tes kedua yang disebut Western blot (WB). Bila kedua tes hasilnya positif, berarti orang tersebut terinfeksi HIV (Joel Gallant, 2010 : 30)

PENATALAKSANAAN 

1.Pengobatan medis
  • Sampai saat ini belum ada obat yang benar-benar dapat menyembuhkan penyakit HIV/AIDS. Obat-obatan yang telah ditemukan hanya menghambat proses pertumbuhan virus, sehingga jumlah virus dapat ditekan (Safri I, 2005 :5).
2.Pengobatan alternatif
  • Berbagai bentuk pengobatan alternatif untuk menangani gejala atau mengubah arah perkembangan penyakit. Akupuntur telah digunakan untuk mengatasi beberapa gejala, misalnya kelainan syaraf tepi (peripheral neuropathy) seperti kaki kram, kesemutan atau nyeri, namun tidak menyembuhkan infeksi HIV.
  • Tes-tes uji acak klinis terhadap efek obat-obatan jamu menunjukkan bahwa tidak terdapat bukti bahwa tanaman-tanaman obat tersebut memiliki dampak pada perkembangan penyakit ini, tetapi malah kemungkinan memberi beragam efek samping negatif yang serius.
  • Beberapa data memperlihatkan bahwa suplemen multivitamin dan mineral kemungkinan mengurangi perkembangan penyakit HIV pada orang dewasa, meskipun tidak ada bukti yang menyakinkan bahwa tingkat kematian akan berkurang pada orang-orang yang memiliki status nutrisi baik.
  • Jadi pengobatan alternatif memiliki hanya sedikit efek terhadap mortalitas dan morbiditas penyakit ini, namun dapat meningkatkan kualitas hidup individu yang mengidap AIDS (Wikipedia, 2011: 10)
3.Psikoterapi
  • Begitu besar dampak psikososial bagi penderita HIV/AIDS terhadap stigma / hukuman sosial dari masyarakat sehingga perlu penguatan psikologis bagi penderita (Depkes RI, 2002: 62).

RESPON SOSIAL TERHADAP HIV/AIDS
  • Ketakutan masyarakat terhadap AIDS tidak proporsional dengan ancaman yang sesungguhnya. AIDS merupakan penyakit orang dewasa yang hubungan seksnya sembarangan atau para pemakai obat yang menggunakan jarum bergantian. Ketakutan sementara orang berdasarkan kekurangan informasi atau informasi yang salah cerna sehingga ketakutan menjadi mendalam oleh AIDS. Bila dilandasi takut mati penyembuhan AIDS akan semakin sukar. Sebagaian orang yang berisiko tinggi seperti yang homoseksual merasa dikucilkan dan kehilangan mata pencaharian atau asuransi. Anak-anak penderita HIV/AIDS dilarang bersekolah, walaupun HIV/AIDS belum terbukti bisa ditularkan melalui kontak perorangan atau tempat duduk toilet. Yang sudah terbukti adalah perubahan perilaku pada orang homoseksual dan orang biseksual, kebanyakan memperhatikan kesehatan dan menjaga bahaya seksual (C. Long Barbara, 2006 : 573)
  • Hukuman sosial bagi penderita HIV/AIDS, umumnya lebih berat bila dibandingkan dengan penderita penyakit mematikan lainnya. Kadang – kadang hukuman sosial tersebut juga turut tertimpakan kepada petugas kesehatan atau sukarelawan, yang terlibat dalam merawat orang yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA) (Wikipedia, 2011 : 1).
  • Hukuman sosial atau stigma oleh masyarakat diberbagai belahan dunia terhadap pengidap AIDS terdapat dalam berbagai cara, antara lain tindakan-tindakan pengasingan, penolakan, diskriminasi dan penghindaran atas orang yang diduga terinfeksi HIV, diwajibkannya uji coba HIV tanpa mendapat persetujuan terlebih dahulu perlindungan kerahasiannya, dan penerapan karantina terhadap orang-orang yang terinfeksi HIV (Wikipedia, 2011 : 11-12).

DAFTAR PUSTAKA

  1. Amril Amarullah.(2009), Kasus HIV/AIDS di Jatim Memprihatinkan. http://nasional.vivanews.com. Diakses tanggal 4 Pebruari 2011
  2. Arikunto, Suharsimi. (2006), Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Rineka Cipta : Jakarta
  3. Azwar, S. (2009), Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya. Ed. 2. Pustaka Belajar Offset : Yogyakarta
  4. C. Long Barbara. (1996). Perawatan Medikal Bedah. Yayasan IAPK Padjajaran : Bandung
  5. Effendi N. (1998), Dasar-dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat. EGC : Jakarta
  6. Fahiyah Wardah. (2010), Jumlah Perempuan Indonesia Penderita HIV/AIDS Meningkat. http://www.voanews.com. Diakses tanggal 2 Pebruari 2011
  7. Joel Gallant. (2010), Tanya Jawab Mengenai HIV dan AIDS. PT. Indeks : Jakarta
  8. Notoatmodjo, Soekidjo (2003) Ilmu Kesehatan Masyarakat Prinsip-prinsip Dasar. PT. Rineka Cipta : Jakarta
  9. Notoatmodjo, Soekidjo (2005) Metode Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.
  10. Nursalam. (2003). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Salemba Medika : Jakarta
  11. Nursalam dan Pariani (2001). Pendekatan Praktis Metode Riset Keperawatan. Jakarta : Sagung Seto.
  12. Nursalam., dan Ninuk D. (2007), Asuhan Keperawatan Pada Pasien Terinfeksi HIV/AIDS. Ed.2. Salemba Medika : Jakarta
  13. Safri Ishmayana. (2005), Adakah Obat untuk HIV/AIDS Saat Ini. http://www.chem-is-try.org. Diakses Tanggal 4 Pebruari 2011
  14. Sugiyono. (2007), Statistik Untuk Penelitian. CV. Alfabeta : Bandung
  15. Sunaryo. (2004), Psikologi Untuk Keperawatan. EGC : Jakarta
  16. Tjahyo D., dan Ign Susanto. (2000). Materi Penyuluhan Remaja. Biro Penyuluhan Remaja Komisi Keluarga Keuskupan Surabaya : Surabaya
  17. Unandar B. (1999). Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. FKUI : Jakarta
  18. Unandar B. (2002). Pengenalan Masalah Psikososial. Depkes RI Ditjen Bina Kesehatan Masyarakat Direktorat Kesehatan Jiwa Masyarakat : Jakarta.
  19. Dinkes Prov Jatim, (2008), Info Remaja Gaul dan Sehat. Dinkes Provinsi Jatim : Surabaya
  20. Dinkes Nganjuk, (2009). Informasi Umum IMS dan HIV. Dinkes : Nganjuk
  21. (2009), Save Papua Save Lost Generation. Interaksi : Jakarta
  22. Dinkes Nganjuk, (2010), Laporan Kasus HIV/AIDS Kabupaten Nganjuk Tahun 2002-2010. Klinik VCT Adenium : Puskesmas Bagor


Friday, April 15, 2011

KISI-KISI SOAL FARMAKOLOGI S1 KEPERAWATAN 2011 Menurut dr-suparyanto


KISI-KISI SOAL FARMAKOLOGI S1 KEPERAWATAN 2011 / 2012 / 2013

  1. Sebutkan efek samping obat isosorbit dinitrat?
  2. Jelaskan cara kerja obat nitrogliserin?
  3. Sebutkan kontraindikasi obat Beta bloker non kardioselektif?
  4. Jelaskan cara kerja obat calsium antagonis?
  5. Beri contoh obat yang meningkatkan kontraksi miokardium?
  6. Beri contoh obat alfa bloker?
  7. Apa yang dimaksud dengan obat diuretik?
  8. Jelaskan cara kerja diuretic manitol?
  9. Beri contoh diuretic kuat?
  10. Beri contoh diuretic hemat kalium?
  11. Bagaimana cara menghindari efek samping aritmia pada pemakaian diuretik?
  12. Pada penderita edema paru, pemilihan diuretic apa yang sesuai?
  13. Jelaskan cara kerja obat parasetamol?
  14. Jelaskan apa saja efek samping dari aspirin?
  15. Sebutkan obat yang dapat digunakan sebagai antiinflamasi?
  16. Jelaskan asuhan keperawatan penderita gastritis yang harus memakai aspirin?
  17. Pada penderita artritis rematoid, anti inflamasi jenis apa yang paling efektif?
  18. Sebutkan obat yang dipergunakan untuk menurunkan kadar asam urat dalam darah?
  19. Apa yang dimaksud dengan obat otonomik?
  20. Sebutkan macam reseptor kolinergik dan adrenergik?
  21. Sebutkan kontraindikasi pemakaian obat kolinergik?
  22. Berikan contoh obat antispasmodic?
  23. Sebutkan obat penawar pada keracunan atropine?
  24. Sebutkan nama lain obat simpatolitik, dan parasimpatolitik?
  25. Beri contoh obat pelumpuh otot?

Monday, April 11, 2011

KISI-KISI SOAL KOMUNITAS 2 SI KEPERAWATAN Menurut dr-suparyanto

Dr. Suparyanto, M.Kes

KISI-KISI SOAL KOMUNITAS 2 SI KEP 2011, 2012, 2013

  1. Siapakah yang mendata masyarakat miskin?
  2. Bagaimana kriteria masyarakat miskin menurut BPS?
  3. Siapa saja yang dapat dilayani dengan berobat gratis di Puskesmas?
  4. Apa itu program Jampersal? Berapa biaya persalinan yang ditanggung pemerintah?
  5. Apa itu Jamkesmas?
  6. Apa beda Jamkesmas dan Jamkesda

Friday, April 8, 2011

tentang MENOPAUSE Menurut dr-suparyanto

Dr. Suparyanto, M.Kes

MENOPAUSE

PENGERTIAN MENOPAUSE
  • Menopause adalah berhentinya mens secara permanen (Varney. H, 2007:301).
  • Menopause adalah masa transisi atau peralihan, dari tahun sebelum menstruasi terakhir sampai setahun sesudahnya (Lestary. D, 2010: 14)
  • Menstruasi merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan perdarahan menstruasi terakhir dalam kehidupan wanita (Andrews. G, 2010:465).

KARAKTERISTIK USIA MENOPAUSE
  • Menopause (menstruasi terakhir) menandai akhir masa reproduksi seorang wanita dan biasanya terjadi pada wanita berusia antara 45 dan 55 tahun dengan usia rata-rata 51 tahun (Andrews. G, 2010: 532).
  • Biasanya terjadi pada usia 50 tahun (Utama. H, 2006: 2)
.
MACAM-MACAM MENOPAUSE

a. Menopause premature (Dini)
  • Menopause yang terjadi sebelum 40 tahun (Prawirohardjo. S, 2005: 241). Menurut Dr. Purwantyastuti, bila seseorang mengalami henti haid di usia 30-an atau awal 40-an, maka orang tersebut dapat dikatakan mengalami menopause dini.
b. Menopause Normal
  • Menopause yang alami dan umumnya terjadi pada usia diakhir 40 tahun atau diawal 50 tahun (Andrews. G, 2010:466).
c. Menopause Terlambat
  • Menopause yang terjadi apabila seorang wanita masih mendapat haid di atas 52 tahun (Prawirohardjo. S, 2005: 241).

TANDA DAN GEJALA MENOPAUSE

  • Tanda dan gejala Menopause (Varney. H, 2007: 306) adalah:
a. Perubahan Pola Perdarahan
  • Pola yang paling umum adalah penurunan bertahap jumlah dan durasi aliran menstruasi, menyebabkan terjadinya bercak darah dan kemudian berhenti. Beberapa wanita akan mengalami menstruasi yang lebih sering atau lebih berat, hal ini biasanya refleksi dan produksi estrogen folikuler yang terus-menerus dengan atau tanpa ovulasi
b. Hot flash
  • Periode berulang dan sementara terjadinya kemerahan, berkeringat, dan perasaan panas, sering kali disertai palpitasi dan perasaan ansietas, dan kadang-kadang diikuti dengan demam.
c. Gangguan tidur
  • Masalah tidur yang berkaitan dengan menopause mungkin berkaitan dengan hot flash atau gangguan napas saat tidur. Wanita menopause dengan keluhan hot flash berat beresiko gangguan tidur, sementara wanita gemuk, mendengkur keras atau tidur berlebihan beresiko terhadap gangguan napas saat tidur.
d. Perubahan Atropik
  • Efek jangka panjang penurunan kadar estrogen termasuk penipisan epitelium vagina dan serviks, lapisan kapiler menjadi lebih tampak sebagai kemerahan yang terputus-putus. Ukuran serviks biasanya mengecil dengan menurunnya produksi mukus yang dapat menyebabkan disparenia. Traktus urinarius juga menunjukkan perubahan setelah menopause. Gejalanya dapat meliputi kering atau gatal pada vulva dan vagina atau dispareunia.
e. Perubahan Psikofisiologis
  • Trias gejala psikologis yang sering kali disebut dalam hubungannya dengan menopause adalah depresi alam perasaan, insomnia, dan penurunan minat seksual. Terdapat perbedaan antara insomnia sejati dengan perubahan tidur yang dikaitkan dengan keringat malam berlebihan. Hilangnya libido dapat dipengaruhi sejumlah faktor termasuk peningkatan depresi atau ansietas.
f. Perubahan Berat Badan
  • Menopause seringkali dianggap sebagai penyebab peningkatan berat badan pada wanita usia paruh baya. Rekomendasi untuk meningkatkan olahraga dan diet sehat yang meliputi pengawasan asupan kalori dan lemak harus dibuat untuk wanita seiring pertambahan usia mereka.
g. Perubahan Kulit
  • Sebagian besar perubahan kulit yang diperhatikan wanita pada masa menopause adalah kerusakan karena sinar matahari. Perubahan lain meliputi kulit kering, banyak berkeringat, pengerutan, perubahan fungsi pelindung, penipisan, dan penurunan penyembuhan luka.
h. Seksualitas
  • Selama bertahun-tahun telah menjadi anggapan bahwa semakin tua usia wanita, maka minat seks dan responsif wanita akan menurun. Mayoritas wanita yang mengalami menopause alami tidak melaporkan penurunan dalam hasrat seksual, kesenangan erotik, atau orgasme dan penurunan potensi seksual lebih sedikit pada wanita dibanding pria selama proses penuaan.
i. Perubahan Fungsi Tiroid
  • Disfungsi tiroid menjadi lebih umum terjadi seiring pertambahan usia wanita.


FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN MENOPAUSE
  • Ada beberapa faktor yang mempengaruhi menopause (Baziad. A, 2003) yaitu:
a. Usia pertama haid
  • Beberapa ahli yang melakukan penelitian menemukan adanya hubungan antara usia pertama kali mendapat haid dengan usia seorang wanita memasuki menopause. Semakin muda seseorang mengalami haid pertama kalinya, semakin tua atau lama ia memasuki masa menopause.
b. Diabetes Melitus
  • Penyakit autoimun seperti Diabetes Melitus menyebabkan terjadinya menopause dini. Pada penyakit autoimun, antibodi yang terbentuk akan menyerang FSH.
c. Perokok berat
  • Pada wanita perokok diperoleh usia menopause lebih awal, sekitar 1,5 tahun (Varney. H, 2006: 302).
d. Minum alkohol
  • Wanita yang nulipara dan wanita yang banyak mengonsumsi daging, atau minum alkohol akan mengalami menopause yang lebih lambat .
e. Status gizi
  • Faktor yang juga mempengaruhi menopause lebih awal bisa dikarenakan konsumsi yang sembarangan. Jika ingin mencegah menopause lebih awal dapat dilakukan dengan menerapkan pola hidup sehat seperti berhenti merokok, serta mengonsumsi makanan yang baik misalnya sejak masih muda rajin mengonsumsi makanan sehat seperti kedelai, kacang merah, bengkoang, atau pepaya (Baziad. A, 2010).
f. Sosial ekonomi
  • Menopause dipengaruhi oleh status ekonomi, disamping pendidikan dan pekerjaan suami. Begitu juga hubungan antara tinggi badan dan berat badan wanita yang bersangkutan termasuk dalam pengaruh sosial ekonomi.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Achmadi. (2009), Faktor Lingkungan yang Mempengaruhi Status Gizi, Ketersediaan dan Produksi Pangan. http:/ anianaharani.blogspot.com diakses pada 17 Pebruari 2011
  2. Andrews, G, (2010), Buku Ajar Kesehatan Reproduksi Wanita: EGC. Jakarta
  3. Arisman. (2010), Gizi Dalam Daur Kehidupan: EGC. Jakarta
  4. Barasi, M. E, (2007), At A Glance Ilmu Gizi: Erlangga. Surabaya
  5. Baziad, Ali. (2003), Menopause dan Andropause: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Jakarta
  6. Baziad, Ali. (2010), Waspadai Menopause Dini. http://m.okezone.com diakses pada 7 Pebruari 2011
  7. Gibson. (1990). Pengertian Status Gizi. http:/www.rajawana.com diakses pada 15 Pebruari 2011
  8. Hadi. (2002). Pengertian Status Gizi. http:/www.rajawana.com diakses pada 15 Pebruari 2011
  9. Hanafiah. (1990). Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Wanita Menghadapi Pre Menopause. http://www.bascommetro.com diakses pada 25 Pebruari 2011
  10. Lestari, D. (2010), Seluk Beluk Menopause: Gara Ilmu. Jogjakarta
  11. Notoatmodjo, S. (2010), Metodologi Penelitian Kesehatan: Rineka Cipta. Jakarta
  12. Nursalam. (2008), Konsep Dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan: Salemba Medika. Jakarta
  13. Paath, E. F. (2005), Gizi Dalam Kespro: EGC. Jakarta
  14. Prasetyo, Iin. (2008), Hubungan Status Gizi dengan Kejadian Menopause Dini di Desa Kuncen, Kecamatan Ungaran, Kabupaten Semarang. http://digilib.unimus.ac.id diakses pada tanggal 7 Pebruari 2011
  15. Prawirohardjo, S. (2005), Ilmu Kandungan: Yayasan Bina Pustaka, Jakarta
  16. Purwantyastuti. (2008). Menopause Dini. http:/mimi-breastfriend.blogspot.com diakses pada 17 Pebruari 2011
  17. Sugiyono. (2007), Statistika Untuk Penelitian: Alfabeta. Bandung
  18. Supariasa, I.D.N. (2002), Penilaian Status Gizi: EGC. Jakarta
  19. Tirtawinata, T.C. (2006), Makanan Dalam Prespektif Al Qur’an dan Ilmu Gizi: FKUI. Jakarta
  20. Utama, H. (2006), Gizi Sehat Untuk Perempuan: FKUI. Jakarta
  21. Varney, H. (2007), Buku Ajar Asuhan Kebidanan: EGC. Jakarta
  22. (2009), Kehidupan Seksual Wanita Saat Memasuki Usia Menopause. http://psks.lppm.uns.ac.id diakses pada 17 Pebruari 2011

Saturday, April 2, 2011

PUSAT KESEHATAN MASYARAKAT (PUSKESMAS) 2 Menurut dr-suparyanto

Dr. Suparyanto, M.Kes

PUSAT KESEHATAN MASYARAKAT (PUSKESMAS)

PENGERTIAN PUSKESMAS
  • Puskesmas adalah unit pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten/ kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan pengembangan kesehatan di suatu wilayah kerja (Departemen Kesehatan RI, 2004).
a. Unit Pelaksana Teknis
  • Sebagai unit pelaksana teknis Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota (UPTD), puskesmas berperan menyelenggarakan sebagian dari tugas teknis operasional Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan merupakan unit pelaksana tingkat pertama serta u

KONSEP KLIEN / PENERIMA JASA Menurut dr-suparyanto

Dr. Suparyanto, M,Kes

KONSEP KLIEN / PENERIMA JASA

PENGERTIAN KLIEN
  • Klien adalah penerima jasa pelayanan kesehatan di rumah sakit baik dalam keadaan sakit maupun sehat (Wijono, 1999:1237)

HAK ASASI MANUSIA (HAM)
  • Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia. Hak asasi manusia adalah Merupakan hak-hak yang telah dimiliki seseorang sejak ia lahir dan merupakan pemberian dari Tuhan. Dasar-dasar HAM tertuang dalam deklarasi kemerdeka

AMENOREA Menurut dr-suparyanto

Dr. Suparyanto, M.Kes

KONSEP AMENOREA

PENGERTIAN
  • Amenorea ialah keadaan tidak adanya haid untuk sedikitnya 3 bulan berturut-turut. Lazim diadakan pembagian antara amenorea primer dan amenorea sekunder. Kita berbicara tentang amenorea primer apabila seorang wanita berumur 18 tahun ke atas tidak pernah mendapat haid, sedang pada amenorea sekunder penderita pernah mendapat haid, tetapi kemudian tidak da