Friday, July 9, 2010

KONSEP MASA NIFAS (PUERPERIUM)

Dr. Suparyanto, M.Kes

KONSEP MASA NIFAS

Definisi Masa Nifas
  • Masa nifas (Puerperium) adalah mulai partus selesai, dan berakhir setelah kira-kira 6 minggu. Akan tetapi, seluruh alat genetalia baru pulih kembali seperti sebelum ada kehamilan dalam waktu 3 bulan. (Prawirohardjo, 2005)
  • Masa nifas (Puerperium) adalah periode dimana organ-organ reproduksi kembali kepada keadaan sebelum hamil, lama masa nifas ini 6 minggu. (Farrer, 1999)

Pembagian Nifas (Nifas dibagi dalam 3 periode) :
  1. Puerperium Dini: Yaitu kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan. Dalam agama islam dianggap telah bersih dan boleh bekerja setelah 40 minggu.
  2. Puerperium Intermedial: Yaitu kepulihan yang menyeluruh alat-alat genetalia yang lamanya 6-8 minggu.
  3. Remote Puerperium: Yaitu waktu persalinan mempunyai komplikasi waktu untuk sempurna bisa berminggu-minggu, atau bulanan atau tahunan.

Perubahan-perubahan Fisiologi Masa Nifas
  1. Perubahan fisik
  2. Involusi uterus dan pengeluaran lokia
  3. Perubahan sistem tubuh lainnya
  4. Perubahan psikis (Sarwono, 2002)

Perawatan Pasca Persalinan

Mobilisasi
  • Ibu yang melahirkan secara normal bisa melakukan mobilisasi 6 jam setelah melahirkan dan 8 jam setelah melahirka untuk ibu yang menjalani operasi cesar kemudian ibu dianjurkan melaksanakan mobilisasi dini, misalnya ibu miring kanan-miring kiri, turun dari tempat tidur, belajar duduk, dan berjalan sendiri. Pada hari ke 2 diperbolehkan duduk, hari ke3 diperbolehkan jalan-jalan, dan hari ke 4 atau ke 5 sudah diperbolehkan pulang. Mobilisasi ini bertujuan agar sirkulasi darah menjadi lancar, menghindari pembengkakan, dan mencegah trombosis.
  • Mobilisasi diatas mempunyai variasi, tergantung pada komplikasi persalinan, nifas dan sembuhnya luka-luka. (Sinsin, 2009).
  • Mobilisasi dini sangat penting dalam mencegah trombosis vena. Setelah proses persalinan yang normal, jika gerakannya tidak terhalang oleh pemasangan infus, atau kateter dan tanda vitalnya juga memuaskan, biasanya ibu diperbolehkan untuk mandi dan pergi ke WC dengan dibantu satu atau 2 jam setelah melahirkan secara normal. Sebelum waktu ini, ia harus diminta untuk melakukan latihan menarik napas yang dalam serta latihan tungkai yang sederhana dan harus duduk serta mengayunkan tungkainya dari tepi ranjang. Pasien sectio caesarea biasanya mulai mobilisasi dini 24–36 jam sesudah melahirkan. Jika pasien menjalani analgesia epidural, pemulihan sensibilitas yang total harus dibuktikan dahulu sebelum mobilisasi dimulai. (Farrer,1999)

Diet
  • Diet untuk ibu masa nifas harus banyak mengandung protein, besi, serta kalsium, vitamin serta serat makanan dan harus mencakup 3000 ml cairan yang 1000 ml diantaranya berupa susu. Asupan kalori per hari harus di tingkatkan sampai 2700 kalori (11.500 kilojoule). (Farrer,1999)

Miksi
  • Hendaknya kencing dapat dilakukan sendiri secepatnya. Bila kandung kemih penuh wanita sulit kencing. Sebaiknya dilakukan kateterisasi.
  • Stres inkontinensia dapat terjadi hanya sementara dan akan menghilang setelah tonus otot dasar panggulnya membaik.

Defikasi
  • Buang air besar harus dilakukan 3–4 kali setelah melahirkan

Perawatan payudara
  • Perawatan payudara telah dimulai sejak wanita hamil supaya putting susu lemas, tidak keras dan kering sebagai persiapan untuk mengurus bayinya.

Perubahan-perubahan terjadi pada kelenjar payudara :
  • Poliferasi jaringan pada kelenjar-kelenjar alveoli dan jaringan lemak bertambah
  • Keluar cairan susu jolog dari duktus laktiferus disebut kolostrum berwarna kuning-putih susu.
  • Hipervaskularisasi pada permukaan dan bagian dalam dimana vena-vena berdilatasi sehingga tampak jelas.
  • Setelah persalinan pengaruh supresi estrogen dan progesteron hilang, maka timbul pengaruh hormon laktogenik (LH) atau prolaktin yang akan merangsang air susu.

Cuti hamil dan bersalin
  • Menurut undang-undang bagi wanita pekerja berhak mengambil cuti hamil dan bersalin selama 3 bulan, yaitu 1 bulan sebelum bersalin ditambah 2 bulan setelah bersalin.

Pemeriksaan pasca persalinan
Pemeriksaan post natal antara lain meliputi :
  1. Pemeriksaan umum : TTV, keluhan dan sebagainya.
  2. Keadaan umum : kesadaran, selera makan dan lain-lain
  3. Payudara, ASI, putting susu
  4. Dinding perut, perineum, kandung kemih dan rektum
  5. Sekret yang keluar misalnya lokia, flour albus
  6. Keadaan alat-alat kandungan

Nasehat untuk ibu post natal
  • Sebaiknya bayi segera disusui
  • Untuk kesehatan ibu, bayi dan keluarga sebaiknya melakukan KB untuk mengatur jarak kelahiran berikutnya
  • Bawalah bayi anda untuk memperoleh imunisasi. (Mochtar, 1998)

Tujuan Asuhan Masa Nifas
  1. Menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologi.
  2. Melakukan skrining yang komperhensif, mendeteksi masalah, mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun bayinya.
  3. Memberikan pedidikan kesehatan tentang kesehatan diri, nutrisi, keluarga berencana, pemberian imunisasi kepada bayinya dan perawatan bayi sehat.
  4. memberikan pelayanan keluarga berencana. (Mochtar, 1998).


DAFTAR PUSTAKA
  1. Alimul, A. (2007), Metode Penelitian Penulisan Ilmiah, Jakarta: Salemba Medika.
  2. Alimul, H. A, dan Musrifatul, U. (2004), Buku Saku Pratikan Kebutuhan Dasar Manusia, Jakarta: EGC.
  3. Arikunto, S. (2006), Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Jakarta: PT Rineka Cipta.
  4. Cambridge, C. L. (1998) Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia dan System Reproduksi, Jakarta: EGC.
  5. Desiyati, D. (2008) Fisiologi Nifas, from Http://we-littlefairy. blogspot.com
  6. Fizari, S. (2009) Perubahan Fisiologi pada Masa Nifas, From Http://sekuracity/blogspot.com
  7. Hincliff, S. (1999) Kamus Keperawatan, Jakarta: EGC.
  8. Ibrahim, C.S. (1996) Perawatan Kebidanan, Jakarta: Bhratara.
  9. Manuaba, I. B. G. (1998) Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan, Jakarta: EGC.
  10. Mochtar, R. (1998) Sinopsis Obstetric, Jakarta: EGC.
  11. Notoadmodjo, S. (2005) Metodologi Penelitian Kesehatan, Jakarta: PT. Rineka Cipta.
  12. Nursalam, (2003) Konsep Dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan, Jakarta: Salemba Medika.
  13. Nursalam, dan Pariani, S. (2001) Pendekatan Praktis Metodologi Riset Keperawatan, CV, Info Medika.
  14. Prawirohardjo, S. (2002) Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, Jakarta: Yayasan Bina Pustaka.
  15. ___________, (2002) Ilmu Kebidanan, Jakarta: Yayasan Bina Pustaka.
  16. Pusdiknakes, WHO, JHPIEGO. (2001) Post Partum, Jakarta: MNH
  17. Ramali, A. (2003) Kamus Kedokteran, Jakarta: Djambatan.
  18. Rambey, R. (2008) Tetap Sehat Setelah Bersalin, from Http:// nursingwear/wordpress.
  19. Roper, N. (2002) Prinsip-Prinsip Keperawatan, Yogyakarta: Yayasan Essentia Medika.
  20. Sinsin, L. (2009). Masa Kehamilan dan Persalinan. PT. Elex Media Komputindo, from Http:// www.elexmedia.co.id, 118-119.



Thursday, July 8, 2010

KONSEP PEMBERIAN ASI (AIR SUSU IBU)

Dr. Suparyanto, M.Kes

KONSEP PEMBERIAN ASI

  • ASI dalam jumlah cukup merupakan makanan terbaik dan dapat memenuhi kebutuhan gizi bayi selama enam bulan pertama. Sesudah umur enam bulan, bayi memerlukan makanan pelengkap karena kebutuhan gizi bayi meningkat dan tidak seluruhnya dapat dipenuhi oleh ASI. Produksi ASI dirangsang oleh isapan bayi dan keadaan ibu yang tenang. Disamping itu perlu diperhatikan kesehatan ibu pada umumnya, status gizi dan perawatan payudara. Penyuluhan tentang cara- cara pemberian ASI yang menjamin kelancaran produksi ASI sejak lahir sangat diperlukan ibu, terutama bagi ibu-ibu yang melahirkan untuk pertamakali. ASI dapat terus diberikan hingga anak umur 2 tahun (Mangunkusumo, 2003).

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Lama Pemberian ASI

Menurut Arifin Siregar (2004) faktor-faktor yang mempengaruhi pemberian ASI, diantaranya adalah :

(1). Pengetahuan
  • Pengertian: Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui pancaindera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Sebagaian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2003:121).

  • Penelitian Rogers 1974 (dalam Notoatmodjo, 2003) mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru (berperilaku baru) di dalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan, yaitu :
  1. Awareness (kesadaran), dimana orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui stimulus (objek) terlebih dahulu.
  2. Interest (merasa tertarik), dimana orang tersebut mulai tertarik kepada stimulus.
  3. Evaluation (menimbang-nimbang) baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya. Hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi.
  4. Trial, dimana orang telah mulai mencoba perilaku baru.
  5. Adoption, dimana subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus.

  • Namun demikian dari penelitian selanjutnya Rogers menyimpulkan bahwa perubahan perilaku tidak selalu melewati tahap-tahap tersebut di atas. Apabila penerimaan pelaku baru atau adopsi perilaku melalui proses seperti ini, dimana didasari oleh pengetahuan kesadaran dan sikap-sikap yang positif, maka perilaku tersebut bersifat langgeng (long lasting), sebaliknya apabila perilaku itu tidak didasari oleh pengetahuan dan kesadaran maka tidak akan berlangsung lama.

Pengetahuan seseorang terhadap objek mempunyai intensitas atau tingkat yang berbeda-beda.

Secara garis besarnya dibagi dalam 6 tingkat pengetahuan, yaitu :
Tahu (know)
  • Tahu diartikan sebagai pengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima.

Memahami (comprehension)
  • Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari.

Aplikasi (application)
  • Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya). Aplikasi di sini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum, rumus, metode, prinsip, dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.

Analisis (analysis)
  • Analisis adalah kemampuan seseorang untuk menjabarkan atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam suatu struktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja, seperti dapat menggambarkan (membuat bagan), membedakan, memisahkan, mengelompokkan, dan sebagainya.

Sintesis (synthesis)
  • Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada.

Evaluasi (evaluation)
  • Evaluasi ini berkaita dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian itu didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan : 

Pendidikan kesehatan
  • Pendidikan kesehatan adalah suatu kegiatan atau usaha menyampaikan pesan kesehatan kepada masyarakat, kelompok atau individu. Dengan adanya pesan tersebut makan diharapkan masyarakat, kelompok atau individu dapat memperoleh pengetahuan tentang kesehatan yang lebih baik (Notoatmodjo, 2003:56).

Sumber informasi
  • Seseorang yang mempunyai sumber informasi yang lebih banyak akan mempunyai pengetahuan yang lebih luas. Informasi itu sebenarnya ada dimana-mana, antara lain di rumah, pasar, sekolahan, lembaga organisasi, media cetak, media elektronik, tempat pelayanan kesehatan dan masih banyak lagi. Ledakan pengetahuan menimbulkan informasi. Adanya ledakan pengetahuan sebagai akibat perkembangan dalam bidang ilmu penelitian akan semakin banyak pengetahuan yang bermunculan. Selanjutnya dengan adanya pengetahuan akan menimbulkan kesadaran dan pada akhirnya akan menyebabkan orang berperilaku sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki itu. Hasil atau perubahan yang dicapai akan bersifat langgeng, karena didasari pada kesadaran mereka sendiri (Notoatmodjo, 2003).

Pengalaman
  • Sesuatu yang pernah dialami seseorang akan menambah pengetahuan tentang sesuatu yang bersifat non formal (muliacom.2008). Untuk dapat menjadi dasar pembentukan sikap, pengalaman pribadi haruslah meninggalkan kesan yang kuat, karena itu sikap akan lebih mudah terbentuk apabila pengalaman pribadi tersebut terjadi dalam situasi yang melibatkan faktor emosional. Dalam situasi yang emosi, penghayatan akan lebih mendalam dan lebih lama membekas. (Azwar,2008:31).

Umur/Usia
  • Usia dan umur individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai saat berulang tahun (Hurlock, 1998). Semakin cukup umur, tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berpikir dan bekerja. Hal ini sebagai akibat dari pengalaman dan kematangan jiwanya. Semakin tua seseorang semakin konstruksi dengan menggunakan koping terhadap masalah yang dihadapi. Makin mudah seseorang akan mempengaruhi konsep klien.

Pekerjaan
  • Dengan adanya pekerjaan seseorang akan memerlukan banyaknya waktu dan tenaga untuk menyelesaikan pekerjaan yang dianggap penting dan memerlukan perhatian masyarakat yang sibuk hanya memiliki sedikit waktu untuk memperoleh informasi (Notoatmodjo, 1997).

Lingkungan
  • Lingkungan adalah seluruh kondisi di sekitar manusia dan pengaruhnya yang dapat mempengaruhi perkembangan perilaku orang atau kelompok. Lingkungan adalah input ke dalam diri seseorang sebagai faktor internal atau faktor eksternal (Nursalam, 2001:125).

Budaya
  • Tingkah laku manusia atau kelompok manusia dalam memenuhi kebutuhan yang meliputi sikap dan kepercayaan (muliacom.2008).

(2). Pendidikan
  • Pengertian: Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat (http://id.wikipedia. org/wiki/pendidikan/2003).

  • Pendidikan secara umum adalah segala upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain baik individu, kelompok, atau masyarakat sehingga mereka melakukan apa yang diharapkan oleh pelaku pendidikan.

  • Dari batasan ini tersirat unsur-unsur pendidikan yakni :
  1. Input adalah sasaran pendidikan (individu, kelompok, masyarakat) dan pendidik (pelaku pendidikan).
  2. Proses (upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain).
  3. Output (melakukan apa yang diharapkan atau perilaku).
  • Sedangkan pendidikan kesehatan adalah aplikasi atau penerapan pendidikan dalam bidang kesehatan (Notoatmodjo, 2003 : 16).

  • Pendidikan adalah upaya persuasi atau pembelajaran kepada masyarakat agar masyarakat mau melakukan tindakan-tindakan (praktik) untuk memelihara (mengatasi masalah-masalah), dan meningkatkan kesehatannya. Perubahan atau tindakan pemeliharaan atau peningkatan kesehatan yang dihasilkan oleh pendidikan kesehatan dan didasarkan kepada pengetahuan dan kesadarannya melalui proses pembelajaran. Sehingga perilaku tersebut diharapkan akan berlangsung lama (long lasting) dan menetap (langgeng), karena didasari oleh kesadaran (Notoatmodjo, 2005 : 26).

  • Pendidikan meliputi pengajaran keahlian khusus, dan juga sesuatu yang tidak dapat dilihat tetapi lebih mendalam yaitu pemberian pengetahuan, pertimbangan dan kebijaksanaan. Salah satu dasar utama pendidikan adalah untuk mengajar kebudayaan melewati generasi (http://id.wikipedia. org/wiki/pendidikan/2003)

Jenjang pendidikan
  • Jenjang pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, tujuan yang akan dicapai, dan kemampuan yang (http://id.wikipedia.org/wiki/ pendidikan/2003).

Pendidikan anak usia dini
  • Mengacu Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003, Pasal 1 butir 14 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

SD (Sekolah Dasar)
  • Pendidikan dasar merupakan jenjang pendidikan awal selama 6 (enam) tahun pertama masa sekolah anak-anak yang melandasi jenjang pendidikan menengah.

SLTP (Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama)
  • Pendidikan menengah merupakan jenjang pendidikan lanjutan pendidikan dasar yang harus dilaksanakan minimal 3 tahun.

SLTA (Sekolah Lanjutan Tingkat Atas)
  • Pendidikan yang ditempuh selama 3 tahun. Pendidikan ini merupakan lanjutan dari SLTP.

Pendidikan tinggi
  • Pendidikan tinggi adalah jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program pendidikan diploma, sarjana, magister, doktor, spesialis yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi. Mata pelajaran pada perguruan tinggi merupakan penjurusan dari SMA, akan tetapi semestinya tidak boleh terlepas dari pelajaran SMA (http://id.wikipedia. org/wiki/pendidikan/2003).

Materi Pendidikan
  • Materi pendidikan harus disajikan memenuhi nilai-nilai hidup, nilai hidup meliputi nilai hidup baik dan nilai hidup jahat. Penyajiannya tidak boleh pendidikan sifatnya memaksa terhadap anak didik, tetapi berikan kedua nilai hidup ini secara objektif ilmiah. Dalam pendidikan yang ada di Indonesia seharusnya berjalan di atas sistem tersebut agar Indonesia menjadi lebih baik (http://id. wikipedia.org/wiki/pendidikan/2003).

Jalur Pendidikan
  • Jalur pendidikan adalah wahana yang dilalui peserta didik untuk mengembangkan potensi diri dalam suatu proses pendidikan yang sesuai dengan tujuan pendidikan (http://id.wikipedia.org/wiki/pendidikan/ 2003).

Pendidikan formal
  • Pendidikan formal merupakan pendidikan yang diselenggarakan di sekolah-sekolah pada umumnya. Jalur pendidikan ini mempunyai jenjang pendidikan yang jelas, mulai dari pendidikan dasar, pendidikan menengah, sampai pendidikan tinggi. 

Pendidikan non-formal
  • Pendidikan non-formal meliputi pendidikan keluarga dan lingkungan lanjutan. 

Pendidikan informal
  • Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri.

Jenis Pendidikan
  • Jenis pendidikan adalah kelompok yang didasarkan pada kekhususan tujuan pendidikan suatu satuan pendidikan (http://id. ikipedia.org/wiki/ 2008/03/pendidikan) (diakses, 4 Juni 2009, jam 07.35 WIB).
  • Pendidikan umum
  • Pendidikan umum merupakan pendidikan dasar dan menengah yang mengutamakan perlunasan pengetahuan yang diperlukan oleh peserta didik untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Bentuknya Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas (SMA).

Pendidikan kejuruan
  • Pendidikan kejuruan merupakan pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu. Bentuk satuan pendidikannya adalah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), jenis ini termasuk ke dalam pendidikan formal.

Pendidikan akademik
  • Pendidikan akademik merupakan pendidikan tinggi program sarjana dan pasca sarjana yang diarahkan terutama pada penguasaan disiplin ilmu pengetahuan tertentu.

Pendidikan profesi
  • Pendidikan profesi merupakan pendidikan tinggi setelah program sarjana yang mempersiapkan peserta didik untuk memasuki satu profesi atau menjadi seorang profesional. Salah satu yang dikembangkan dalam pendidikan tinggi dalam keprofesian adalah yang disebut program diploma, mulai dari D-1 sampai dengan D-4 dengan berbagai konsentrasi bidang ilmu keahlian. Konsentrasi pendidikan profesi dimana para mahasiswa lebih diarahkan kepada minat menguasai keahlian tertentu. Dalam bidang keahlian dan keprofesian khususnya Desain Komunikasi Visual terdapat Jurusan seperti Desain Grafis untuk D-4 dan Desain Multimedia untuk D-3 dan Desain Periklanan (D-3). Dalam proses belajar mengajar dalam pendidikan keprofesian akan berbeda dengan jalur kesarjanaan (S-1) pada setiap bidang studi tersebut.

Pendidikan vokasi
  • Pendidikan vokasi merupakan pendidikan tinggi yang mempersiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan dengan keahlian terapan tertentu maksimal dalam jenjang diploma 4 setara dengan program sarjana (strata 1).

Pendidikan keagamaan
  • Pendidikan keagamaan merupakan pendidikan dasar, menengah, dan tinggi yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat menjalankan peranan yang menuntut penguasaan pengetahuan dan pengalaman terhadap ajaran agama dan/atau menjadi ahli ilmu agama.

Pendidikan khusus
  • Pendidikan khusus merupakan penyelenggaraan pendidikan untuk peserta didik yang berkelainan atau peserta didik yang memiliki kecerdasan luar biasa yang diselenggarakan secara inklusif (bergabung dengan sekolah biasa) atau berupa satuan pendidikan khusus pada tingkat pendidikan dasar dan menengah (dalam bentuk Sekolah Luar Biasa/SLB).

Kualitas Pendidikan
  • Ada dua faktor yang mempengaruhi kualitas pendidikan, khususnya di Indonesia, yaitu :
  • Faktor internal, meliputi jajaran dunia pendidikan baik itu Departemen Pendidikan Nasional, Dinas Pendidikan Daerah, dan juga sekolah yang berada di garis depan. Dalam hal ini, intervensi dari pihak-pihak yang terkait sangatlah dibutuhkan agar pendidikan senantiasa selalu terjaga dengan baik.

  • Faktor eksternal, adalah masyarakat pada umumnya yang merupakan icon pendidikan dan merupakan tujuan dari adanya pendidikan yaitu sebagai objek dari pendidikan (http://id. wikipedia.org/wiki/2008/03/ pendidikan) (diakses, 4 Juni 2009, jam 07.35 WIB).

(3). Pekerjaan
  • Pengertian: Pekerjaan dalam arti luas adalah aktivitas utama yang dilakukan oleh manusia, sedangkan dalam arti sempit istilah pekerjaan digunakan untuk suatu tugas atau kerja yang menghasilkan uang bagi seseorang (Wikipedia bahasa Indonesia).
  • Kerja merupakan sesuatu yang dibutuhkan oleh manusia. Kebutuhan itu bisa bermacam-macam, berkembang dan berubah, bahkan seringkali tidak disadari oleh pelakunya. Seseorang bekerja karena ada sesuatu yang hendak dicapainya, dan orang berharap bahwa aktivitas kerja yang dilakukannya akan membawanya kepada suatu keadaan yang lebih memuaskan daripada keadaan sebelumnya.

  • Pekerjaan ialah kegiatan fisik dan mental manusia untuk menghasilkan barang atau jasa bagi orang lain maupun dirinya yang dilakukan atas kemauan sendiri dan atau dibawah perintah orang lain dengan menerima upah atau tidak. Dalam pengertian ini tercakup setiap pekerjaan yang dijalankan atas dasar borongan dalam suatu perusahaan, baik oleh orang yang menjalankan sendiri maupun orang yang membantunya.
  • Pengertian Pekerjaan berdasarkan Klasifikasi Jabatan Nasional adalah sekumpulan kedudukan yang memiliki persamaan kewajiban atau tugas-tugas pokoknya. Satu pekerjaan dapat diduduki oleh satu orang atau beberapa orang yang tersebar di berbagai tempat.

  • Jadi nyatalah bahwa keinginan untuk mempertahankan hidup merupakan salah satu sebab yang terkuat yang dapat menjelaskan mengapa seseorang bekerja. Melalui kerja kita memperoleh uang dan uang tersebut dapat dipakai untuk memuaskan semua tipe kebutuhan. Kebutuhan itu baik kebutuhan fisiologis dasar, seperti makan, minum, tempat tinggal, pakaian dan sejenisnya. Maupun kebutuhan-kebutuhan sosial, kebutuhan yang timbul dalam hubungan atau interaksi seseorang dengan lingkungan.
  • Sementara yang dimaksud dengan tenaga kerja / pekerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan atau kegiatan baik fisik maupun non fisik didalam hubungan kerja maupun diluar hubungan kerja guna menghasilkan jasa atau barang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat atau kebutuhannya sendiri.

  • Selama ini pengertian dan pemahaman masyarakat tentang pekerjaan cenderung menunjuk pada jenis pekerjaan di lapangan kerja formal. Mereka yang dianggap bekerja hanya terbatas pada pegawai atau karyawan yang mempunyai kantor, setiap hari berangkat kerja, dan menerima gaji pada akhir bulan. Padahal dalam lapangan kerja informal kenyataannya banyak menampung dan menyerap tenaga kerja justru kurang mendapat perhatian dari para pencari kerja. Lapangan kerja informal biasanya dijadikan pilihan terakhir setelah mereka gagal memasuki lapangan kerja formal.

  • Lapangan Kerja Dibedakan Menjadi 2: Lapangan kerja dapat dibedakan menjadi lapangan kerja formal dan lapangan kerja informal. Lapangan kerja formal adalah lapangan kerja yang keberadaannya diatur dan dilindungi oleh peraturan ketenagakerjaan, misalnya Pegawai Negeri Sipil (PNS), ABRI, karyawan perusahaan swasta dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

  • Pegawai Negeri Sipil adalah pegawai yang bekerja pada instansi Pemerintah berdasarkan peraturan Pegawai Negeri Sipil, termasuk didalamnya adalah Pegawai Negeri Sipil di Departemen, Pemerintah Daerah, BUMN, dan lain-lain. Sementara Pegawai Swasta adalah pekerja / pegawai yang bekerja pada perusahaan swasta berdasarkan peraturan ketenagakerjaan, termasuk di dalamnya pegawai bank swasta dan perusahaan swasta.

  • Sistem penerimaan pegawai / karyawan dalam lapangan kerja formal sangat memperhatikan hal-hal berikut :
  1. Tingkat pendidikan.
  2. Pengalaman kerja.
  3. Keahlian / kompetensi.
  4. Performance / penampilan.
  5. Usia.

  • Seseorang dalam melakukan pekerjaan formal biasanya diatur dengan peraturan yang berlaku secara umum maupun khusus bagi instansi atau perusahaan yang bersangkutan. Untuk memperoleh kesempatan menduduki jabatan yang lebih tinggi atau mencapai posisi puncak, pegawai atau karyawan harus melalui tahapan yang telah dirumuskan dalam jenjang karier atau struktur jabatan dan memenuhi persyaratan-persyaratan yang berlaku.

  • Sementara lapangan kerja informal adalah lapangan kerja yang keberadaannya atas usaha sendiri dan upah tidak terjangkau oleh peraturan ketenagakerjaan, termasuk didalamnya usaha mandiri, pedagang, peternak, petani, nelayan, tukang kayu atau bangunan, tukang jahit, jasa profesi mandiri, dan sebagainya.

  • Setiap tenaga kerja dapat memasuki lapangan kerja informal karena jenis pekerjaan ini tidak menuntut persyaratan khusus atau spesifik. 
  • Modal utama untuk bekerja dalam lapangan kerja informal adalah :
  1. Tekad
  2. Kemauan dan kesungguhan.
  3. Ketrampilan

  • Dengan modal itulah maka faktor-faktor lain bersifat mendukung kelanjutan usaha dapat diupayakan seperti modal, ketrampilan, relasi, pengalaman, dan lain-lain.
  • Dalam melakukan pekerjaan informal seseorang akan menangani seluruh proses kerja, ia akan bertindak sebagai perencana, pelaksana, sekaligus sebagai pengontrol karena semua itu akan menjadi kewenangan dan tanggung jawabnya. Mereka bekerja secara bebas sesuai dengan keinginan dan kebutuhannya.

  • Banyak kisah sukses dari tokoh-tokoh terkenal yang dimulai dengan merintis usaha pada sektor informal. Dengan berkembangnya usaha yang dikelola mereka dapat menciptakan lapangan kerja yang menyerap pekerja dalam jumlah besar. Berdasarkan keberhasilan mereka dalam mengatasi usaha atau melakukan pekerjaannya sangat tergantung pada mereka sendiri.

  • Jenis-jenis Pekerjaan di Tinjau Secara Umum
  • Setiap orang bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Jenis-jenis pekerjaan dapat dibedakan berdasarkan hasil dari pekerjaannya,yaitu barang dan jasa

Pekerjaan yang menghasilkan barang
  • Jenis pekerjaan ini menghasilkan barang yang dapat dipakai untuk memenuhi kebutuhan hidup, seperti makanan minuman dan perabot rumah tangga, dan lain-lain.

  • Perhatikan contoh dan jenis-jenis pekerjaan serta hasilnya dibawah ini :
  • Petani menghasilkan padi, jagung, dan lain-lain.
  • Pengrajin menghasilkan meja, kursi dan kerajinan lain-lain.
  • Peternak menghasilkan telur,daging,dan susu.

Pekerjaan yang menghasilkan jasa.
  • Jenis pekerjaan ini menghasilkan jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat. Kita membutuhkan pendidikan, layanan kesehatan, layanan transportasi, dan lain-lain. Dokter merupakan pekerjaan yang menghasilkan jasa dalam bidang kesehatan.

  • Perhatikan contoh jenis pekerjaan serta jasanya berikut ini :
  1. Guru berjasa dalam pendidikan.
  2. Dokter berjasa dalam kesehatan.
  3. Sopir berjasa dalam layanan transportasi.

  • Jenis pekerjaan lain yang menghasilkan jasa ialah montir, sopir, pengacara, polisi tentara, jaksa, hakim, pegawai negeri, perias pengantin, dan perawat. Sumber (Disnaker Jatim, 2009).

Faktor Psikologis
  • Faktor psikologis dapat dicontohkan seorang wanita yang takut kehilangan daya tarik, mereka beranggapan bahwa menyusui akan merusak penampilan. Padahal setiap ibu yang mempunyai bayi payudaranya selalu berubah, walaupun menyusui atau tidak menyusui. Selain itu ibu yang mengalami tekanan batin di saat menyusui dapat mendesak si ibu untuk mengurangi frekuensi dan lama menyusui bayinya.

Faktor Fisik Ibu
  • Alasan yang cukup sering bagi ibu menyusui adalah karena ibu sakit. Keadaan yang paling sering dialami ibu adalah terjadinya bendungan ASI yang mengakibatkan ibu merasa sakit waktu bayinya menyusu. Bendungan itu disebabkan karena ASI tidak terhisap seluruhnya oleh bayi setiap kali menyusu, hal ini dapat diatasi dengan jalan mengurut buah dada berlahan-lahan atau dengan memompa kelebihan ASI selain itu luka-luka di puting susu dan kelainan pada puting susu ibu juga menjadi faktor kesukaran ibu dalam memberikan ASI.

Faktor Kesehatan Anak
  • Pada waktu anak sakit juga akan terjadi kesukaran dalam pemberian ASI karena anak menolak untuk menyusu. Berbagai macam cacat bibir juga dapat menimbulkan kesukaran bagi bayi untuk menyusu. Akan tetapi hal ini dapat diatasi dengan jalan memompakan ASI ke dalam botol kemudian diberikan kepada bayi melalui botol.

Kurangnya Petugas Kesehatan
  • Karena kurangnya petugas kesehatan, sehingga masyarakat kurang mendapat penerangan atau dorongan tentang manfaat pemberian ASI. Penyuluhan kepada masyarakat mengenai manfaat pemberian ASI akan meningkatkan pemahaman masyarakat.

Faktor Informasi
  • Peningkatan sarana komunikasi dan transportasi yang memudahkan periklanan susu buatan, menimbulkan tumbuhnya kesediaan menyusui dan lamanya baik di desa dan perkotaan, distribusi, iklan dan promosi susu buatan berlangsung terus dan bahkan meningkat tidak hanya di televisi, radio dan surat kabar melainkan juga di tempat-tempat praktek swasta dan klinik-klinik kesehatan masyarakat.

Faktor Lain
  • Ada beberapa keadaan yang tidak memungkinkan ibu untuk menyusui bayinya walaupun produksinya cukup, seperti

  • Adanya penyakit yang diderita ibu menyusui sehingga ibu dilarang untuk memberikan ASI kepada bayinya, yang dianggap baik untuk kepentingan ibu ( seperti : gagal jantung, Hb rendah ).
  • Masih sering dijumpai di rumah sakit ( rumah sakit bersalin ) pada hari pertama kelahiran oleh tenaga kesehatan dan sebagian besar ibu melahirkan di rumah sendiri, hampir setengah dari bayinya diberi susu buatan atau larutan glukosa.


DAFTAR PUSTAKA


  1. Arikunto, S. 2008. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Yogya : Rineka Cipta.
  2. Arikunto, S. 2009. Manajemen Penelitian. Yogya : Rineka Cipta.
  3. Budiasih, Kun Sri. 2008. Handbook Ibu Menyusui. Bandung : PT Karya Kita.
  4. Darwis, Sudarwan Danim. 2008. Metode Penelitian Kebidanan. Jakarta : Buku Kedokteran EGC. Hal : 174.
  5. Depkes RI. 2005. Manajemen Laktasi. Jakarta.
  6. Depkes RI. 2009. Petunjuk pelaksanaa peningkatan ASI. Dikutip dari http://depkes.go.id/Ptunjuk Pelaksanaa peningkatan ASI.htm. Diakses pada tanggal 11 Maret 2010.
  7. Evawani, 2008. Rendahnya Penggunaan ASI. www.Kuliah Bidan Diakses pada tanggal 15 Maret 2010
  8. Hidayat , Aziz H. 2007. Riset Keperawatan dan Tehnik Penulisan Ilmiah. Jakarta : Salemba Medika.
  9. Hidayat, Aziz H. 2007. Metodologi Penelitian Kebidanan dan Tehnik Analisis Data. Jakarta : Salemba Medika.
  10. Ikatan Dokter Anak Indonesia.2008. Bedah ASI. Jakarta : FKUI
  11. Karen Hogg, Britten Jane dkk. 2005. Menyusui cara Mudah, Praktis & Nyaman. Jakarta : Arcan.
  12. Kristiyansari, Weni.2009. ASI, Menyusui dan Sadari. Yogjakarta : Nuha Medika
  13. Machfoedz, I. 2006. Metodologi Penelitian Bidang Kesehatan, Keperawatan dan Kebidanan. Yogya : Fitramaya.
  14. Notoatmodjo. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.
  15. Nindya, Stefani. 2001. Dampak Pemberian ASI Eksklusif terhadap Penurunan Kesuburan Seorang Wanita. [Jurnal online]. www.kalbe.co.id [ 26 April 2009]
  16. Nursalam. 2008. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika.
  17. Pratiknya, Ahmad Watik. 2000. Dasar – dasar Metodologi Penelitian Kedokteran dan Kesehatan. Jakarta : PT Raja Grafindo.
  18. Purwanti, Sri Hubertin.2004. Kondep Penerapan ASI Eksklusif. Jakarta : EGC.
  19. Reyanto, A. 2009. Pengolahan dan Analisis Data Kesehatan. Yogya Muha Medika.
  20. Saleha, Siti.2009. Asuhan Kebidanan pada Masa Nifas. Jakarta : Salemba Medika.
  21. Siregar, Arifin. 2004. Pemberian ASI eksklusif dan Faktor- Faktor yang Mempengaruhinya. [jurnal online]. http://library.usu.ac.id [ 11Maret 2010]
  22. Siregar, Arifin. 2004. Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Pemberian ASI Oleh Ibu Melahirkan. [jurnal online]. http://library.usu.ac.id [11 Maret 2010]
  23. Sugiono. 2009. Statistika Untuk Penelitian. Bandung : Alfabeta

Tuesday, July 6, 2010

KONSEP KEPATUHAN

Dr. Suparyanto, M.Kes

KONSEP KEPATUHAN

Pengertian Kepatuhan
  • Sarfino (1990) di kutip oleh Smet B. (1994) mendefinisikan kepatuhan (ketaatan) sebagai tingkat penderita melaksanakan cara pengobatan dan perilaku yang disarankan oleh dokternya atau yang lain.

  • Kepatuhan adalah perilaku positif penderita dalam mencapai tujuan terapi (Degrest et al, 1998). Menurut Decision theory (1985) penderita adalah pengambil keputusan dan kepatuhan sebagai hasil pengambilan keputusan.
  • Perilaku ketat sering diartikan sebagai usaha penderita untuk mengendalikan perilakunya bahkan jika hal tersebut bisa menimbulkan resiko mengenal kesehatanya (Taylor, 1991).
  • Patuh adalah suka menurut perintah, taat pada perintah atau aturan. Sedangkan kepatuhan adalah perilaku sesuai aturan dan berdisiplin. Seseorang dikatakan patuh berobat bila mau datang ke petugas kesehatan yang telah ditentukan sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan serta mau melaksanakan apa yang dianjurkan oleh petugas (Lukman Ali et al, 1999).

Proses perubahan sikap dan perilaku (teori Kelman)
  • Menurut Kelman perubahan sikap dan perilaku individu dimulai dengan tahap kepatuhan, identifikasi kemudian baru menjadi internalisasi Mula-mula individu mematuhi anjuran atau instruksi petugas tanpa kerelaan untuk melakukan tindakan tersebut dan seringkali karena ingin menghindari hukuman/sanksi jika tidak patuh atau untuk memperoleh imbalan yang dijanjikan jika mematuhi anjuran tersebut tahap ini disebut tahap kesediaan, biasanya perubahan yang terjadi dalam tahap ini bersifat sementara, artinya bahwa tindakan itu dilakukan selama masih ada pengawasan petugas. Tetapi begitu pengawasan itu mengendur atau hilang, perilaku itupun ditinggalkan.
  • Pengawasan itu tidak perlu berupa kehadiran fisik petugas atau tokoh otoriter, melainkan cukup rasa takut terhadap ancaman sanksi yang berlaku, jika individu tidak melakukan tindakan tersebut. Dalam tahap ini pengaruh tekanan kelompok sangatlah besar, individu terpaksa mengalah dan mengikuti perilaku mayoritas kelompok meskipun sebenarnya dia tidak menyetujuinya. Namun segera setelah dia keluar dari kelompok tersebut, kemungkinan perilakunya akan berubah menjadi perilakunya sendiri.

  • Kepatuhan individu berdasarkan rasa terpaksa atau ketidakpahaman tentang pentingnya perilaku yang baru itu dapat disusul dengan kepatuhan yang berbeda, yaitu kepatuhan demi menjaga hubungan baik dengan petugas kesehatan atau tokoh yang menganjurkan perubahan tersebut (change agent).
  • Biasanya kepatuhan ini timbul karena individu merasa tertarik atau mengagumi petugas atau tokoh tersebut, sehingga ingin mematuhi apa yang dianjurkan atau diinstruksikan tanpa memahami sepenuhnya arti dan mamfaat dari tindakan tersebut, tahap ini disebut proses identifikasi.
  • Meskipun motivasi untuk mengubah perilaku individu dalam tahap ini lebih baik dari pada dalam tahap kesediaan, namun motivasi ini belum dapat menjamin kelestarian perilaku itu karena individu belum dapat menghubungkan perilaku tersebut dengan nilai-nilai lain dalam hidupnya, sehingga jika dia ditinggalkan petugas atau tokoh idolanya itu maka dia merasa tidak perlu melanjutkan perilaku tersebut.

  • Perubahan perilaku individu baru dapat menjadi optimal jika perubahan tersebut terjadi melalui proses internalisasi, dimana perilaku yang baru itu dianggap bernilai positif bagi diri individu dan diintegrasikan dengan nilai-nilai lain dari hidupnya.
  • Proses internalisasi ini dapat dicapai jika petugas atau tokoh merupakan seseorang yang dapat dipercaya (kredibilitasnya tinggi) yang dapat membuat individu memahami makna dan penggunaan perilaku tersebut serta membuat mereka mengerti akan pentingnya perilaku tersebut bagi kehidupan mereka sendiri.
  • Memang proses internalisasi ini tidaklah mudah dicapai sebab diperlukan kesediaan individu untuk mengubah nilai dan kepercayaan mereka agar menyesuaikan diri dengan nilai atau perilaku yang baru.Teori The Health Belief Model (Model Kepercayaan Kesehatan)

  • Model kepercayaan kesehatan adalah suatu bentuk penjabaran dari teori Sosial-Psikologi, model ini didasarkan pada kenyataan bahwa problem-problem kesehatan ditandai oleh kegagalan-kegagalan orang atau masyarakat untuk menerima usulan-usulan pencegahan dan penyembuhan penyakit yang diselenggarakan oleh provider.
  • Model kepercayaan kesehatan ini menyatakan, apabila individu bertindak untuk melawan atau mengobati penyakitnya, ada 5 (lima) variabel kunci yang terlibat dalam tindakan tersebut, yaitu:
  • Kerentanan yang dirasakan (Perceived Susceptibility)
  • Seseorang akan melakukan tindakan pengobatan atau pencegahan terhadap suatu penyakit bila individu merasa rentan terhadap penyakit tersebut.

Keseriusan yang dirasakan (Perceived Seriousness)
  • Seseorang akan terdorong untuk melakukan tindakan pengobatan atau pencegahan terhadap suatu penyakit oleh karena keseriusan penyakit yang dirasakannya.

Manfaat yang dirasakan (Perceived Benefits)
  • Seseorang akan terdorong untuk melakukan tindakan pengobatan atau pencegahan terhadap suatu penyakit oleh karena adanya manfaat yang dirasakannya dalam mengambil tindakan tersebut bagi penyakitnya.

Ancaman yang dirasakan (Perceived Threat)
  • Seseorang akan terdorong untuk melakukan tindakan pengobatan atau pencegahan terhadap suatu penyakit oleh karena adanya ancaman yang dirasakan dari penyakitnya.

Isyarat atau petunjuk untuk bertindak (Cues to Action)
  • Untuk dapat meningkatkan penerimaan yang benar tentang kerentanan, kegawatan dan keuntungan, perlu adanya isyarat atau petunjuk dari orang lain, misalnya; Media massa, Nasehat petugas kesehatan atau anggota keluarga.

Faktor - faktor yang mempengaruhi kepatuhan
  • Dalam hal kepatuhan Carpenito L.j.(2000) berpendapat bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kepatuhan adalah segala sesuatu yang dapat berpengaruh positif sehingga penderita tidak mampu lagi mempertahankan kepatuhanya, sampai menjadi kurang patuh dan tidak patuh. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan diantaranya:

Pemahaman tentang instruksi.
  • Tidak seorang pun mematuhi instruksi jika ia salah paham tentang instruksi yang diberikan padanya. Ley dan Spelman tahun 1967 menemukan bahwa lebih dari 60% responden yang di wawancarai setelah bertemu dengan dokter salah mengerti tentang instruksi yang diberikan kepada mereka. Kadang kadang hal ini disebabkan oleh kegagalan profesional kesalahan dalam memberikan informasi lengkap, penggunaan istilah-istilah medis dan memberikan banyak instruksi yang harus di ingat oleh penderita.

Tingkat pendidikan.
  • Tingkat pendidikan pasien dapat meningkatkan kepatuhan, sepanjang bahwa pendidikan tersebut merupakan pendidikan yang aktif yang diperoleh secara mandiri, lewat tahapan-tahapan tertentu (Feuer Stein et.al., 1986).
  • Singgih D. Gunarso ( 1990 ) mengemukakan bahwa semakin tua umur seseorang maka proses perkembangan mentalnya bertambah baik, akan tetapi pada umur – umur tertentu, bertambahnya proses perkembangan mental ini tidak secepat ketika berusia belasan tahun, dengan demikian dapat disimpulkan factor umur akan mempengaruhi tingkat pengetahuan seseorang yang akan mengalami puncaknya pada umur – umur tertentu dan akan menurun kemampuan penerimaan atau mengingat sesuatu seiring dengan usia semakin lanjut.Hal ini menunjang dengan adanya tingkat pendidikan yang rendah.

Kesakitan dan pengobatan.
  • Perilaku kepatuhan lebih rendah untuk penyakit kronis (karena tidak ada akibat buruk yang segera dirasakan atau resiko yang jelas), saran mengenai gaya hidup dan kebiasaan lama, pengobatan yang kompleks, pengobatan dengan efek samping, perilaku yang tidak pantas (Dikson dkk,1989,1990, ley,1992).

Keyakinan, sikap dan kepribadian.
  • Kepribadian antara orang yang patuh dengan orang yang gagal, Orang yang tidak patuh adalah orang yang mengalami depresi, ansietas, sangat memperhatikan kesehatannya, memiliki kekuatan ego yang lebih lemah dan memiliki kehidupan social yang lebih, memusatkan perhatian kepada dirinya sendiri. Kekuatan ego yang lebih ditandai dengan kurangnya penguasaan terhadap lingkunganya. Variabel-variabel demografis juga digunakan untuk meramalkan ketidak patuhan (Tylor, 1991). Sebagai contoh, di Amerika Serikat para wanita kaum kulit putih dan orang-orang tua cenderung mengikuti anjuran dokter (Sarafino, 1990).

Dukungan Keluarga
  • Dukungan Keluarga dapat menjadi faktor yang dapat berpengaruh dalam menentukan keyakinan dan nilai kesehatan individu serta menentukan program pengobatan yang akan mereka terima. Keluarga juga memberi dukungan dan membuat keputusan mengenai perawatan anggota keluarga yang sakit. Derajat dimana seseorang terisolasi dari pendampingan orang lain, isolasi sosial, secara negatif berhubungan dengan kepatuhan (Baekeland dan Lundawall)

Tingkat ekonomi
  • Tingkat ekonomi merupakan kemampuan finansial untuk memenuhi segala kebutuhan hidup, akan tetapi ada kalanya penderita TBC sudah pensiun dan tidak bekerja namun biasanya ada sumber keuangan lain yang bisa digunakan untuk membiayai semua program pengobatan dan perawatan sehingga belum tentu tingkat ekonomi menengah ke bawah akan mengalami ketidakpatuhan dan sebaliknya tingkat ekonomi baik tidak terjadi ketidakpatuhan (Power park C.E., 2002).

Dukungan sosial
  • Dukungan sosial dalam bentuk dukungan emosional dari anggota keluarga teman, waktu, dan uang merupakan factor penting dalam kepatuhan contoh yang sederhana, jika tidak ada transportasi dan biaya dapat mengurangi kepatuhan penderita. Keluarga dan teman dapat membantu mengurangi ansietas yang disebabkan oleh penyakit tertentu, mereka dapat menghilangkan godaan pada ketidakpatuhan dan mereka seringkali dapat menjadi kelompok pendukung untuk mencapai kepatuhan. Dukungan sosial nampaknya efektif di negara seperti Indonesia yang memeliki status sosial lebih kuat, dibandingkan dengan negara-negara barat (Meichenbaun, 1997).

Perilaku sehat.
  • Perilaku sehat dapat di pengaruhi oleh kebiasaan, oleh karena itu perlu dikembangkan suatu strategi yang bukan hanya untuk mengubah perilaku tetapi juga dapat mempertahankan perubahan tersebut. Sikap pengontrolan diri membutuhkan pemantauan terhadap diri sendiri, evaluasi diri dan penghargaan terhadap diri sendiri terhadap perilaku yang baru tersebut (Dinicola dan Dimatteo, 1984).

Dukungan profesi keperawatan (kesehatan)
  • Dukungan profesi kesehatan merupakan faktor lain yang dapat mempengaruhi perilaku kepatuhan penderita. Dukungan mereka terutama berguna pada saat penderita menghadapi kenyataan bahwa perilaku sehat yang baru itu merupakan hal yang penting. Begitu juga mereka dapat mempengaruhi perilaku penderita dengan cara menyampaikan antusias mereka terhadap tindakan tertentu dari penderita, dan secara terus menerus memberikan yang positif bagi penderita yang telah mampu beradabtasi dengan program pengobatanya (Meichhenbaum, 1997)

DAFTAR PUSTAKA

  1. Arikunto, S. (2000). Manajemen Penelitian. Rineka Cipta. Jakarta.
  2. Baughman, Diane C. et.al. (2000). Kepewatan Madikal Bedah. EGC. Jakarta.
  3. Brunner&Suddarth. (2002). Keperawatan Medikal - Bedah. EGC. Jakarta.
  4. Clark J, Marry (2003). Community Health Nursing. EGC. Jakarta.
  5. Corwin, Elizabeth J. (2001). Patofisiologi. EGC. Jakarta.
  6. Friedman, Marilyn M. (1998). Keperawatan Keluarga Teori dan Praktek. EGC. Jakarta.
  7. Hidayat, A. Aziz Alimul. (2007). Metode Penelitian Keperawatan dan Tehnk Analis Data. Salemba Medika. Jakarta.
  8. Lanywati, Endang. (2001). Diabetes Melitus Penyakit Kencing Manis. Kanisius. Yogyakarta.
  9. Mansjoer, Arif. et.al.(2000). Kapita Selekta Kedokteran. Media Aesculapius FKUI. Jakarta.

  10. Niven, Neil. (2002). Psikologi Kesehatan. EGC. Jakarta.
  11. Noer, Sjaifoellah. et.al. (1999). Ilmu Penyakit Dalam. FKUI. Jakarta.
  12. Notoatmodjo, Soekidjo. (2002). Metodologi Penelitian Kesehatan. PT Rineka Cipta. Jakarta.
  13. Notoatmodjo, Soekidjo (2003). Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Rineka Cipta. Jakarta.
  14. Nursalam (2003). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Salemba Medika. Jakarta.
  15. Patrick Davey. (2002). At a Glance Medicine. Erlangga. Surabaya.
  16. Ranakusuma, Boedisantoso. Et.al. (1999). Penatalaksanaan Diabetes Melitus Terpadu. CV Aksara Buana. Jakarta.
  17. Suprajitno (2004). Asuhan Keperawatan Keluarga. EGC. Jakarta.
  18. Askandar T. (2006). Hidup Sehat dan Bahagia bersama Diabetes Melitus. PT Gramedia Pustaka

DIABETES MELITUS (KENCING MANIS)

Dr. Suparyanto, M.Kes

DIABETES MELITUS (KENCING MANIS)

Pengertian diabetes melitus
  • Diabetes melitus adalah penyakit hiperglikemia yang ditandai oleh ketiadaan absolut insulin atau insensitivitas sel terhadap insulin.
  • Berdasarkan definisi, glukosa darah puasa harus lebih besar dari pada 140 mg/100 ml pada dua kali pemeriksaan terpisah agar diagnosis diabetes melitus dapat ditegakkan.
  • Diabetes adalah kata Yunani yang berarti mengalirkan /mengalihkan (siphon). Mellitus adalah kata latin untuk madu, atau gula. Diabetes melitus adalah penyakit dimana seseorang mengeluarkan/mengalirkan sejumlah besar urin yang terasa manis (Elizabeth J. C, 2001).

Etiologi
  • Etiologi diabetes melitus dibagi menjadi 2 yaitu: diabetes melitus tipe I dan diabetes melitus tipe II (Brunner & Suddarth, 2002)

Diabetes melitus tipe I
  • Diabetes melitus tipe I ditandai oleh penghancuran sel-sel pankreas. Kombinasi faktor genetik, imunologi dan mungkin pula lingkungan (misalnya, infeksi virus) diperkirakan turut menimbulkan destruksi sel .

Faktor-faktor genetik
  • Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri, tetapi mewarisi suatu predisposisi atau kecenderungan genetik ke arah terjadinya diabetes tipe I. Kecenderungan genetik ini ditemukan pada individu yang memiliki tipe antigen HLA (human leucocyte antigen) tertentu.
  • HLA merupakan kumpulan gen yang bertanggung jawab atas antigen tranplantasi dan proses imun lainnya. 95% pasien berkulit putih (Caucasian) dengan diabetes tipe I memperlihatkan tipe HLA yang spesifik (DR3 atau DR4).
  • Risiko terjadinya diabetes tipe I meningkat tiga hingga lima kali lipat pada individu yang memiliki salah satu dari kedua tipe HLA ini. Risiko tersebut meningkat sampai 10 hingga 20 kali lipat pada individu yang memiliki tipe HLA DR3 maupun DR4 (jika dibandingkan dengan populasi umum).

Faktor-faktor imunologi
  • Pada diabetes tipe I terdapat bukti adanya suatu respon auto imun. Respon ini merupakan respon abnormal dimana antibodi terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut yang dianggapnya seolah-olah sebagai jaringan asing. Otoantibodi terhadap sel-sel pulau Langerhans dan insulin endogen (internal) terdeteksi pada saat diagnosis dibuat dan bahkan beberapa tahun sebelum timbulnya tanda-tanda klinis diabetes tipe I.
  • Riset dilakukan untuk mengevaluasi efek preparat imuno supresif terhadap perkembangan penyakit pada pasien diabetes tipe I yang baru terdiagnosis atau pada pasien pradiabetes (pasien dengan antibodi yang terdeteksi tetapi tidak memperlihatkan gejala klinis diabetes). Riset lainnya menyelidiki efek protektif yang ditimbulkan insulin dengan dosis kecil terhadap fungsi sel .

Faktor-faktor lingkungan
  • Penyelidikan juga sedang dilakukan terhadap kemungkinan faktor-faktor eksternal yang dapat memicu destruksi sel. Sebagai contoh, hasil penyelidikan yang menyatakan bahwa virus atau toksin tertentu dapat memicu proses otoimun yang menimbulkan destruksi sel.
  • Interaksi antara faktor-faktor genetik, imunologi dan lingkungan dalam etiologi diabetes tipe I merupakan pokok perhatian riset yang terus berlanjut.
  • Meskipun kejadian yang menimbulkan destruksi sel tidak dimengerti sepenuhnya, namun pernyataan bahwa kerentanan genetik merupakan faktor dasar yang melandasi proses terjadinya diabetes tipe I merupakan hal yang secara umum dapat diterima.

Diabetes melitus tipe II
  • Mekanisme yang tepat yang menyebabkan resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin pada diabetes tipe II masih belum diketahui.
  • Faktor genetik diperkirakan memegang peranan dalam proses terjadinya resistensi insulin. Selain itu terdapat pula faktor-faktor risiko tertentu yang berhubungan dengan proses terjadinya diabetes tipe II.

Faktor-faktor ini adalah:
  • Usia (resistensi insulin cenderung meningkat pada usia diatas 65 tahun)
  • Obesitas
  • Riwayat keluarga
  • Kelompok etnik (di Amerika Serikat, golongan Hispanik serta penduduk asli Amerika tertentu memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk terjadinya dan tipe II dibandingkan dengan golongan Afro-Amerika)

Gejala
  • Gejala klasik penyakit diabetes melitus, dikenal dengan istilah trio-P, yaitu meliputi poliuria, polidipsi, dan polifagia (Endang l, 2001).

Poliuria
  • Merupakan gejala umum pada penderita diabetes melitus. Banyaknya kencing disebabkan kadar gula dalam darah berlebihan, sehingga merangsang tubuh untuk berusaha mengeluarkannya melalui ginjal bersama air seni. Gejala banyak kencing ini terutama menonjol pada waktu malam hari, yaitu saat kadar gula dalam darah relatif tinggi.

Polidipsi
  • Merupakan akibat reaksi tubuh dari banyak kencing tersebut. Untuk menghindari tubuh kekurangan cairan (dehidrasi), maka secara otomatis akan timbul rasa haus/kering yang menyebabkan timbulnya keinginan untuk terus minum selama kadar gula darah belum terkontrol dengan baik (gula darah dalam keadaan normal).

Polifagia
  • Polifagia disebabkan oleh berkurangnya cadangan glukosa dalam tubuh meskipun kadar glukosa dalam darah tinggi. Sehingga dengan demikian, tubuh berusaha untuk memperoleh tambahan glukosa dari makanan yang dikonsumsi.

Gejala-gejala yang biasa tampak pada penderita diabetes melitus adalah sebagai berikut (Endang l, 2001):
  • Adanya perasaan haus yang terus-menerus.
  • Sering BAK dalam jumlah yang banyak.
  • Timbulnya rasa letih yang tidak dapat dijelaskan sebabnya.
  • Timbulnya rasa gatal dan peradangan kulit yang menahun.

Pada penderita yang kronis, akan timbul beberapa gejala lain, yaitu sebagai berikut (Endang l, 2001):
  • Terjadinya penurunan berat badan.
  • Timbulnya rasa kesemutan atau rasa nyeri pada tangan atau kaki.
  • Timbulnya luka gangren pada kaki.
  • Hilangnya kesadaran diri (koma).

Patofisiologi diabetes melitus
  • Pada manusia bahan bakar itu berasal dari bahan makanan yang kita makan sehari-hari, yang terdiri dari karbohidrat, protein, dan lemak. Pengolahan bahan makanan dimulai di mulut kemudian lambung dan selanjutnya usus.
  • Di dalam saluran pencernaan itu makanan dipecah menjadi bahan dasar makanan itu. Karbohidrat menjadi glukosa, protein menjadi asam amino dan lemak menjadi asam lemak. Ketiga zat makanan itu akan diserap oleh usus kemudian masuk ke dalam pembuluh darah dan disedarkan ke seluruh tubuh untuk dipergunakan oleh organ-organ di dalam tubuh sebagai bahan bakar.
  • Supaya dapat berfungsi sebagai bahan bakar, zat makanan itu harus masuk dulu ke dalam sel supaya dapat diolah. Di dalam sel, zat makanan terutama glukosa dibakar melalui proses yang rumitm yang hasil akhirnya adalah timbulnya energi. Proses ini disebut metabolisme.

  • Dalam proses metabolisme itu insulin memegang peran yang sangat penting yaitu bertugas memasukkan glukosa ke dalam sel, untuk selanjutnya dapat digunakan sebagai bahan bakar. Insulin ini adalah suatu zat atau hormon yang dikeluarkan oleh sel di pankreas.
  • Pada diabetes tipe I insulin tidak ada, hal ini disebabkan oleh karena pada jenis diabetes ini timbul reaksi otoimun yang disebabkan oleh adanya peradangan pada sel-insulitis. Ini menyebabkan timbulnya antibodi terhadap sel yang disebut ICA (Islet Cell Antibody). Reaksi antigen (sel ) dengan antibodi (ICA) yang ditimbulkannya menyebabkan hancurnya sel beta (Boedisantoso Ranakusuma. et.al., 1999).

  • Pada diabetes tipe II jumlah insulin normal, malah mungkin lebih banyak tetapi jumlah reseptor insulin yang terdapat pada permukaan sel yang kurang.
  • Reseptor insulin ini dapat di ibaratkan sebagai lubang kunci pintu masuk ke dalam sel. Pada keadaan terdiri dari jumlah lubang kunci yang kurang, sehingga menkipun anak kuncinya (insulin) banyak, tetapi karena lubang kuncinya (reseptor) kurang, maka glukosa yang masuk sel akan sedikit, Sehingga sel akan kekurangan bahan bakar (glukosa) dan glukosa di dalam pembuluh darah meningkat.
  • Dengan demikian keadaan ini sama dengan pada diabetes tipe I. Perbedaannya adalah diabetes tipe II disamping kadar glukosa tinggi, juga kadar insulin tinggi atau normal. Keadaan ini disebut resistensi insulin (Boedisantoso Ranakusuma. et.al., 1999).

Penatalaksanaan
  • Penatalaksanaan utama terapi diabetes adalah mencoba menormalkan aktivitas insulin dan kadar glukosa darah dalam upaya untuk mengurangi terjadinya komplikasi vaskuler serta neuropatik.
  • Tujuan terapeutik pada setiap tipe diabetes adalah mencapai kadar glukosa darah normal (euglikemia) tanpa terjadi hipoglikemia dan gangguan serius pada pola aktivitas pasien (Brunner&Suddarth, 2002)

Diet
  • Prinsip umum diet dan pengendalian berat badan merupakan dasar dari penatalaksanaan diabetes. Penatalaksanaan nutrisi pada penderita diabetes diarahkan untuk mencapai tujuan berikut ini:
  1. Memberikan semua unsur makanan esensial (misalnya vitamin, mineral)
  2. Mencapai dan mempertahankan berat badan yang sesuai
  3. Memenuhi kebutuhan energi
  4. Mencegah fluktuasi kadar glukosa darah setiap harinya dengan mengupayakan kadar glukosa darah mendekati normal melalui cara-cara yang aman dan praktis
  5. Menurunkan kadar lemak darah jika kadar ini meningkat

  • Bagi pasien yang memerlukan insulin untuk membantu mengendalikan kadar glukosa darah, upaya mempertahankan konsistensi jumlah kalori dan karbohidrat yang dikonsumsi pada jam - jam makan yang berbeda merupakan hal penting. Disamping itu, konsistensi interval waktu diantara jam makan dengan mengkonsumsi camilan (jika diperlukan), akan membantu mencegah reaksi hipoglikemia dan pengendalian keseluruhan kadar glukosa darah.

  • Bagi semua penderita diabetes, perencanaan makan harus mempertimbangkan pula kegemaran pasien terhadap makanan tertentu, gaya hidup, jam-jam makan yang biasa diikutinya dan latar belakang etnik serta budayanya. Bagi pasien yang mendapatkan terapi insulin intensif, penentuan jam makan dan banyaknya makanan mungkin lebih fleksibel dengan cara mengatur perubahan kebiasaan makan serta latihan.

Latihan
  • Latihan sangat penting dalam penatalaksanaan diabetes karena efeknya dapat menurunkan kadar glukosa darah dan mengurangi faktor risiko kardiovaskuler. Latihan akan menurunkan kadar glukosa darah dengan meningkatkan pongambilan glukosa oleh otot dan memperbaiki pemakaian insulin.

  • Sirkulasi darah dan tonus otot juga diperbaiki dengan berolahraga. Latihan dengan cara melawan tahanan (resistance training) dapat meningkatkan lean body mass dan dengan demikian menambah laju metabolisme laju istirahat (resting metabolic rate). Semua efek ini sangat bermanfaat pada diabetes karena dapat menurunkan berat badan, mengurangi rasa stress dan mempertahankan kesegaran tubuh.

  • Latihan juga akan mengubah kadar lemak darah yaitu meningkatkan kadar HDL-kolesterol dan menurunkan kadar kolesterol total dan trigliserida. Semua manfaat ini sangat penting bagi penyandang diabetes mengingat adanya peningkatan risiko untuk terkena penyakit kardiovaskuler pada diabetes.
  • Meskipun demikian, penderita diabetes dengan kadar glukosa darah lebih dari 250mg/dl (14mmol/L) dan menunjukkan adanya keton dalam urin tidak boleh melakukan latihan sebelum pemeriksaan keton urin memperlihatkan hasil negative dan kadar glukosa darah telah mendekati normal.

  • Latihan dengan kadar glukosa darah tinggi akan meningkatkan sekresi glukagon, growth hormone dan katekolamin. Peningkatan hormon ini membuat hati melepas lebih banyak glukosa sehingga terjadi kenaikan kadar glukosa darah.

Pemantauan
  • Dengan melakukan pemantauan kadar glukosa darah secara mandiri (SMBG: self-monitoring of blood glucose), penderita diabetes kini dapat mengatur terapinya untuk mengendalikan kadar glukosa darah secara optimal.

  • Cara ini memungkinkan deteksi dan pencegahan hipoglikemia serta hiperglikemia, dan berperan dalam menentukan kadar glukosa darah normal yang memungkinkan akan mengurangi komplikasi diabetes jangka panjang. Berbagai metode kini tersedia untuk melakukan pemantauan mandiri kadar glukosa darah.

  • Kebanyakan metode tersebut mencakup pengambilan setetes darah dari ujung jari tangan, aplikasi darah tersebut pada strip pereaksi khusus, dan kemudian darah tersebut dibiarkan pada strip selama periode waktu tertentu (biasanya antara 45 dan 60 detik sesuai ketentuan pabrik). Untuk beberapa produk, darah diapus dari strip (dengan menggunakan kapas atau kertas tissue sesuai ketentuan pabrik).

  • Bantalan pereaksi pada strip akan berubah warnanya dan kemudian dapat dicocokkan dengan peta warna pada kemasan produk atau disisipkan ke dalam alat pengukur yang memperlihatkan angka digital kadar glukosa darah.

Terapi Insulin dan Obat Hiperglikemia
  • Sebagaimana dinyatakan sebelumnya, hormon insulin disekresikan oleh sel-sel pulau Langerhans. Hormon ini berkerja untuk menurunkan kadar glukosa darah postprandial dengan mempermudah pengambilan serta penggunaan glukosa oleh sel-sel otot, lemak dan hati. Selama periode puasa, insulin menghambat pemecahan simpanan glukosa, protein dan lemak.

  • Pada diabetes tipe I, tubuh kehilangan kemampuan untuk memproduksi insulin. Dengan demikian, insulin eksogenus harus diberikan dalam jumlah tak terbatas. Pada diabetes tipe II, insulin mungkin diperlukan sebagai terapi jangka panjang untuk mengendalikan kadar glukosa darah jika diet dan obat hipoglikemia oral tidak berhasil mengontrolnya. Di samping itu, sebagian pasien diabetes tipe II yang biasanya mengendalikan kadar glukosa darah dengan diet atau dengan diet dan obat oral kadang membutuhkan insulin secara temporer selama mengalami sakit, infeksi, kehamilan, pembedahan atau beberapa kejadian stress lainnya.

  • Penyuntikan insulin sering dilakukan dua kali perhari (atau bahkan lebih sering lagi) untuk mengendalikan kenaikan kadar glukosa darah sesudah makan dan pada malam hari. Karena dosis insulin yang diperlukan masing-masing pasien ditentukan oleh kadar glukosa darah dalam darah, maka pemantauan kadar glukosa darah yang akurat sangat penting. Pemantauan kadar glukosa darah telah menjadi dasar dalam memberikan terapi insulin. Agen diabetik oral mungkin berkhasiat bagi pasien diabetes tipe II yang tidak dapat diatasi hanya dengan diet dan latihan. Meskipun demikian, obat ini tidak dapat digunakan pada kehamilan.

Di Amerika obat anti diabetik digolongkan menjadi:
Sulfonilurea
  • Golongan sulfonilurea bekerja terutama dengan merangsang langsung pankreas untuk mensekresikan insulin. Dengan demikian, pankreas yang masih berfungsi merupakan syarat utama agar obat-obat ini bekerja efektif. Golongan sulfonilurea tidak dapat digunakan pada pasien diabetes tipe I dan pasien diabetes yang cenderung mengalami ketoasidosis. Kerja penting lainnya dari preparat ini, yang tidak berakibat langsung pada pankreas, adalah memperbaiki kerja insulin ditingkat seluler. Sulfonilurea juga dapat menurunkan secara langsung produksi glukosa oleh hati.

Biguanid
  • Kelompok obat antidiabetik oral yang lain adalah biguanid. Metformin (Glucophage), yang merupakan biguanid yang disetujui pemakaiannya di Amerika menimbulkan efek antidiabetik dengan memfasilitasi kerja insulin pada tempat reseptor perifer. Oleh karena itu, obat ini hanya digunakan jika masih terdapat insulin. Biguanid tidak memberikan efek pada sel-sel beta pankreas.

Pendidikan Kesehatan
  • Diabetes melitus merupakan sakit kronis yang memerlukan perilaku penanganan-mandiri yang khusus seumur hidup. Karena diet, aktivitas fisik dan stress fisik serta emosional dapat mempengaruhi pengendalian diabetes, maka pasien harus belajar untuk mengatur keseimbangan berbagai faktor.
  • Pasien bukan hanya harus belajar ketrampilan untuk merawat diri sendiri setiap hari guna menghindari penurunan atau kenaikan kadar glukosa darah yang mendadak, tetapi juga harus memiliki perilaku preventif dalam gaya hidup untuk menghindari komplikasi diabetik jangka panjang. Penghargaan pasien tentang pentingnya pengetahuan dan ketrampilan yang harus dimiliki oleh penderita diabetes dapat membantu perawat dalam melakukan pendidikan dan penyuluhan.

Komplikasi diabetes
  • Komplikasi diabetes dibagi menjadi dua yaitu (Brunner & Suddarth, 2002):

Komplikasi akut diabetes
  • Ada tiga komplikasi akut pada diabetes yang penting dan berhubungan dengan gangguan keseimbangan kadar glukosa darah jangka pendek. Ketiga komplikasi tersebut adalah hipoglikemia, ketoasidosis diabetik, dan sindrom HHNK (juga disebut koma hiperglikemik hiperosmolar nonketotik atau HONK: hiperosmoler nonketotik)

Hipoglikemia
  • Hipoglikemia terjadi kalau kadar glukosa darah turun dibawah 50 hingga 60 mg/dl (2,7 hingga 3,3 mmol/L). Keadaan ini dapat terjadi akibat pemberian insulin atau preparat oral yang berlebihan, konsumsi makanan yang terlalu sedikit atau karena aktivitas fisik yang berat. Hipoglikemia dapat terjadi setiap saat pada siang atau malam hari. Kejadian ini bisa dijumpai sebelum makan, khususnya jika waktu makan tertunda atau bila pasien lupa makan camilan.

  • Gejala hipoglikemia dapat dikelompokkan menjadi dua kategori: gejala adrenergik dan gejala sistem saraf pusat. Pada hipoglikemia ringan ketika kadar glukosa darah menurun, sistem saraf simpatik akan teransang. Pelimpahan adrenalin kedalam darah menyebabkan gejala seperti perspirasi, tremor, takikardi, palpitasi, kegelisahan dan rasa lapar.

  • Pada hipoglikemia sedang penurunan kadar glukosa darah menyebabkan sel-sel otak tidak memperoleh cukup bahan bakar untuk bekerja dengan baik. Tanda-tanda gangguan fungsi pada sistem saraf pusat mencakup ketidakmampuan berkonsentrasi, sakit kepala, vertigo, konfusi, penurunan daya ingat, patirasa, di daerah bibir serta lidah, bicara pelo, gerakan tidak terkoordinasi, perubahan emosional, perilaku yang tidak rasional, penglihatan ganda dan perasaan ingin pingsan. Kombinasi semua gejala ini (disamping adrenergik) dapat terjadi pada hipoglikemia sedang.

  • Pada hipoglikemia berat fungsi sistem saraf pusat mengalami gangguan yang sangat berat sehingga pasien memerlukan pertolongan orang lain untuk mengatasi hipoglikemia yang dideritanya. Gejala dapat mencakup perilaku yang mengalami disorientasi, serangan kejang, sulit dibangunkan dari tidur atau bahkan kehilangan kesadaran.

  • Gejala hipoglikemia dapat terjadi mendadak dan tanpa terduga sebelumnya. Kombinasi semua gejala tersebut dapat bervariasi antara pasien yang satu dan lainnya. Sampai derajat tertentu gejala ini dapat berhubungan dengan tingkat penurunan kadar glukosa darah yang sebenarnya atau dengan kecepatan penurunan kadar tersebut.

  • Faktor lain yang berperan dalam menimbulkan perubahan gejala hipoglikemia adalah penurunan respon hormonal (adrenergik) terhadap hipoglikemia. Keadaan ini terjadi pada pasien yang telah menderita diabetes selama bertahun-tahun.
  • Penanganan hipoglikemia berat bagi pasien yang tidak sadarkan diri, tidak mampu menelan atau menolak terapi, preparat glukagon 1 mg dapat disuntikkan secara subkutan atau intramuskuler. Glukagon adalah hormon yang diproduksi oleh sel-sel alfa pankreas yang menstimulasi hati untuk melepas glukosa (melalui pemecahan glikogen).

Ketoasidosis diabetik
  • Diabetes ketoasidosis disebabkan oleh tidak adanya insulin atau tidak cukupnya jumlah insulin yang nyata. Keadaan ini mengakibatkan gangguan pada metabolisme karbohidrat, protein dan lemak. Ada tiga gambaran klinis yang penting pada diabetes ketoasidosis, yaitu: dehidrasi, kehilangan elektrolit, asidosis.

  • Apabila jumlah insulin berkurang, jumlah glukosa yang memasuki sel akan berkurang pula. Disamping itu produksi glukosa oleh hati menjadi tidak terkendali. Kedua faktor ini akan menimbulkan hiperglikemia. Dalam upaya untuk menghilangkan glukosa yang berlebihan dari dalam tubuh, ginjal akan mengekskresikan glukosa bersama air dan elektrolit (seperti natrium dan kalium).

  • Diuresis osmotik yang ditandai oleh urinasi berlebihan (poliuria) ini akan menyebabkan dehidrasi dan kehilangan elektrolit. Penderita ketoasidosis diabetik yang berat dapat kehilangan kira-kira 6,5 liter air dan sampai 400 hingga 500 mEq natrium, kalium serta klorida selama periode 24 jam.

  • Terapi yang diberikan bagi penderita ketoasidosis diabetik diarahkan pada perbaikan tiga permasalahan utama: dehidrasi, kehilangan elektrolit, dan asidosis. Untuk dehidrasi, rehidrasi merupakan tindakan yang paling penting untuk mempertahankan perfusi jaringan. Disamping itu, penggantian cairan akan menggalakkan ekskresi glukosa yang berlebihan melalui ginjal. Pasien mungkin memerlukan 6 hingga 10 liter cairan infuse untuk menggantikan kehilangan cairan yang disebabkan oleh poliuria, hiperventilasi, diare, dan muntah.

  • Untuk kehilangan elektrolit, masalah elektrolit utama selama terapi ketoasidosis adalah kalium. Meskipun konsentrasi kalium plasma pada awalnya rendah, normal atau tinggi namun simpanan kalium tubuh dapat berkurang secara signifikan. Selanjutnya kadar kalium akan menurun selama proses penanganan diabetes ketoasidosis sehingga perlu dilakukan pamantauan kalium yang sering.

  • Untuk asidosis, akumulasi badan keton (asam) merupakan akibat pemecahan lemak. Asidosis yang terjadi pada diabetik ketoasisdosis dapat diatasi melalui pemberian insulin. Insulin menghambat pemecahan lemak sehingga menghentikan pembentukan senyawa-senyawa yang bersifat asam.

Sindrom hiperglikemik hiperosmolar nonketotik
  • Sindrom hiperglikemia hiperosmolar nonketosis (HHNK) merupakan keadaan yang didominasi oleh hiperosmolaritas dan hiperglikemia dan disertai perubahan tingkat kesadaran (sense of awareness). Pada saat yang sama tidak ada atau terjadi ketosis ringan. Kelainan dasar biokimia pada sindrom ini berupa kekurangan insulin efektif. Keadaan hiperglikemia persisten menyebabkan diuresis osmotik sehingga terjadi kehilangan cairan dan elektrolit. Untuk mempertahankan keseimbangan osmotik, cairan akan berpindah dari ruang intrasel kedalam ruang ekstrasel. Dengan adanya glukosuria dan dehidrasi akan menjumpai keadaan hipernatremia dan peningkatan osmolaritas.

  • Penatalaksanaan sindrom HHNK serupa dengan terapi DKA, yaitu: cairan, elektrolit, dan insulin. Karena peningkatan usia yang khas pada penderita sindrom HHNK, maka pemantauan ketat terhadap status volume dan elektrolit diperlukan untuk mencegah gagal jantung kongestif serta disritmia jantung.

Komplikasi kronis (jangka panjang) diabetes
  • Angka kematian yang berkaitan dengan ketoasidosis dan infeksi pada pasien-pasien diabetes tampak terus menurun, tetapi kematian akibat komplikasi kardiovaskuler dan renal mengalami kenaikan yang mengkhawatirkan. Komplikasi jangka panjang atau komplikasi kronis diabetes semakin tampak pada penderita diabetes yang berumur panjang. Komplikasi jangka panjang diabetes dapat menyerang semua sistem organ tubuh.

Katagori komplikasi kronis diabetes yang lazim digunakan adalah:

  • Komplikasi makrovaskuler
  • Komplikasi makrovaskuler dibagi menjadi:
  • Penyakit arteri koroner
  • Perubahan aterosklerotik dalam pembuluh darah arteri koroner menyebabkan peningkatan insidens infark miokard pada penderita diabetes. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa penyakit arteri koroner menyebabkan 50% hingga 60% dari semua kematian pada pasien-pasien diabetes.


Penyakit serebrovaskuler
  • Perubahan aterosklerotik dalam pembuluh darah serebral atau pembentukan emboli ditempat lain dalam sistem pembuluh darah yang kemudian terbawa aliran darah sehingga terjepit dalam pembuluh darah serebral dapat menimbulkan serangan iskemia sepintas dan stroke.

Penyakit vaskuler perifer
  • Perubahan aterosklerotik dalam pembuluh darah besar pada ekstremitas bawah merupakan penyebab meningkatnya insidens penyakit osklusif arteri perifer pada pasien diabetes. Bentuk penyakit oklusif arteri yang parah pada ekstremitas bawah ini merupakan penyebab utama meningkatnya insidens gangren dan amputasi pada pasien-pasien diabetes.

Komplikasi mikrovaskuler
  • Komplikasi mikrovaskuler dibagi menjadi:

Retinopati diabetik
  • Kelainan patologis mata yang disebut retinopati diabetik disebabkan oleh perubahan dalam pembuluh-pembuluh darah kecil pada retina mata. Ada tiga stadium utama retinopati: retinopati nonproliferatif (background retinopathy), praproliferatif dan retinopati proliferatif. Sebagian besar pasien diabetes mengalami retinopati nonproliferatif dengan derajat tertentu dalam waktu 5 hingga 15 tahun setelah diagnosis diabetes ditegakkan.

Komplikasi oftalmologi yang lain
  • Retinopati diabetik bukan merupakan satu-satunya komplikasi diabetes yang dapat mengganggu penglihatan. Katarak, hipoglikemia dan hiperglikemia, neuropati dan glaucoma dapat pula mengganggu penglihatan.

Nefropati
  • Penyakit diabetes turut menyebabkan kurang lebih 25% dari pasien-pasien dengan penyakit ginjal stadium terminal yang memerlukan dialysis atau tranplantasi setiap tahunnya di Amerika Serikat. Penyandang diabetes memiliki risiko sebesar 20% hingga 40% untuk menderita penyakit renal.

Neuropati diabetes
  • Neuropati dalam diabetes mengacu kepada sekelompok penyakit yang menyerang semua tipe saraf, termasuk saraf perifer (sensorimotor), otonom dan spinal. Kelainan tersebut tampak beragam secara klinis dan bergantung pada lokasi sel saraf yang terkena. Prevalensi neuropati meningkat bersamaan dengan pertambahan usia penderita dan lamanya penyakit tersebut. Angka prevalensi dapat mencapai 50% pada pasien-pasien yang sudah menderita diabetes selama 25 tahun. Kenaikan kadar glukosa darah selama bertahun-tahun telah membawa implikasi pada etiologi neuropati.
  • Patogenesis neuropati dalam diabetes dapat dikaitkan dengan mekanisme vaskuler atau metabolik atau keduanya, meskipun perannya yang berhubungan mekanisme ini masih belum berhasil ditentukan. Penebalan membran basalis kapiler dan penutupan kapiler dapat dijumpai. Disamping itu mungkin terdapat demielinisasi saraf yang diperkirakan berhubungan dengan hiperglikemia. Hantaran saraf akan terganggu apabila terdapat kelainan pada selubung myelin.

Diet Diabetes Melitus

Pengertian diet
  • Diet adalah makanan dan minuman yang jumlahnya diperhitungkan untuk tujuan tertentu (Hendra T. L, 2003).

Tujuan pelaksanaan diet diabetes melitus.
Tujuan umum pelaksanaan diet diabetes melitus menurut Sjaifoellah Noer tahun 1999 adalah:
  1. Mencapai dan kemudian mempertahankan kadar glukosa darah mendekati normal.
  2. Mencapai dan mempertahankan lipid mendekati kadar yang optimal.
  3. Mencegah komplikasi akut dan kronik.
  4. Meningkatkan kualitas hidup.

Persyaratan umum diet diabetes melitus
  • Meskipun susunan bermacam-macam diet diabetes berbeda-beda sesuasi dengan kondisi diabetesnya, tetapi setiap diet tetap diusahakan untuk memenuhi beberapa persyaratan sebagai berikut (Askandar T.2006):
  1. Memperbaiki kesehatan umum penderita.
  2. Menyesuaikan berat badan penderita ke berat badan normal
  3. Menormalkan pertumbuhan diabetes melitus anak atau diabetes melitus dewasa muda (masa pertumbuhan).
  4. Mempertahankan glukosa darah sekitar normal.
  5. Menekan atau menunda timbulnya angiopati diabetik.
  6. Memberikan modifikasi diet sesuai dengan keadaan penderita misalnya diabetisi yang hamil, diabetes melitus dengan penyakit hati, TB, dan lain-lain.
  7. Menarik dan mudah diterima penderita diabetes melitus.

Prinsip pelaksanaan diet diabetes mellitus
  • Menurut Askandar Tjokroprawiro tahun 2006 dalam melaksanakan diet diabetes sehari-hari hendaknya diikuti pedoman “3J” (jumlah, jadwal, jenis), artinya:
  • J1 : Jumlah kalori yang diberikan harus habis.
  • J2 : Jadwal diet harus diikuti sesuai dengan intervalnya, yaitu tiga jam.
  • J3 :Jenis makanan manis harus dihindari. Termasuk pantangan buah golongan A.

Cara-cara pemberian diet diabetes melitus
  • Mengukur BBR (berat badan relatif)
  • Penentuan gizi penderita dilaksanakan dengan menghitung Percentage of Relative Body Weight (RBW) atau BBR (berat badan relatif) dengan rumus (Askandar Tjokroprawiro, 2006):



Keterangan:
  • BBR: Berat badan relatif
  • BB (berat badan): Berat badan (kilogram)
  • TB (tinggi badan): Tinggi badan (centimeter)
  • Kriteria:
  1. Under nutrition : BBR <80% 
  2. Kurus (underweight) : BBR <90% 
  3. Normal (ideal) : BBR 90-100% 
  4. Gemuk (overweight) : BBR >110%
  5. Obesitas : BBR>120%

Penentuan kalori diet diabetes melitus
  • Dalam praktek, pedoman jumlah kalori yang diperlukan sehari untuk diabetasi yang bekerja biasa (Askandar Tjokroprawiro, 2006):
  1. Kurus : Berat badan X 40-60 kalori sehari
  2. Normal : Berat badan X 30 kalori sehari
  3. Gemuk : Berat badan X 20 kalori sehari
  4. Obesitas : Berat badan X 10-15 kalori sehari

Macam-macam diet diabetes melitus
  • Menurut Askandar Tjokroprawiro tahun 2006 ada berbagai macam diet-B, yaitu:

Diet-B
  • Komposisi: 68% karbohidrat, 12% protein, 20% lemak
  • Indikasi:
  1. Tidak tahan lapar dengan dietnya
  2. Mampu atau kaya, tetapi kadar kolesterol dalam darahnya tinggi.
  3. Mempunyai komplikasi penyempitan pembuluh darah.
  4. Telah menderita diabetes melitus lebih dari 15 tahun, penderita diabetes melitus yang lama ini biasanya mengidap angiopati diabetik.

Diet-B1
  • Komposisi: 60% karbohidrat, 20% Protein, 20% Lemak
  • Indikasi:
  1. Mampu atau mempunyai kebiasaan makan tinggi protein, tetapi kadar lemak darahnya normal.
  2. Kurus atau BBR <;90%. Masih muda (perlu pertumbuhan). Mengalami patah tulang. Menderita TB paru Dalam keadaan pasca bedah Menderita penyakit Graves atau Morbus Basedowi, yaitu: penyakit gondok dengan kadar hormon gondok yang tinggi Menderita tumor ganas, antara lain: kanker payudara, kanker rahim atau kanker lainnya Deit-B2 (Diit-B2 pra-Hemodialisa umum) Komposisi: 74% karbohidrat, 6% Protein, 20% lemak. Indikasi: Diberikan kepada penderita Nefropati diabetik dengan gagal ginjal kronik sedang, yang belum menjalani cuci darah (HD/HemoDialisis) Diit-B3 (Diit-B3 pra-Hemodialisa khusus) Komposisi: 72% karbohidrat, 8% Protein, 20% lemak. Indikasi: Diberikan kepada penderita Nefropati diabetik dengan gagal ginjal kronik khusus seperti, kehilangan protein dalam urine >3gram/hari (protein rebus urine +4) atau keadaan sakit berat (infeksi berat/operasi) yang menjalani cuci darah (HD/HemoDialisis).

Diet Be
  • Diet-Be atau Diet-bebas hanya diberikan kepada diabetasi dengan Nefropati Diabetik Tipe Be: Stadium akhir (Stadium IV). Pada Stadium IV ini biasanya faal ginjal sudah sangat jelek. Sehingga memerlukan terapi cuci darah. Pada saat ini diberikan makanan yang tinggi protein (1gr/kg berat badan/hari). Penderita ini boleh minum glukosa dan rasa manis lain (misalnya es krim dll). Oleh karena itu, disebut pula diet es krim, tetapi harus diberikan suntikan insulin. Aturan makan tetap tiga kali makanan utama dan tiga kali makanan kecil, interval tiga jam dengan kalori lebih dari 2000 kalori/hari.


DAFTAR PUSTAKA

  1. Arikunto, S. (2000). Manajemen Penelitian. Rineka Cipta. Jakarta.
  2. Baughman, Diane C. et.al. (2000). Kepewatan Madikal Bedah. EGC. Jakarta.
  3. Brunner&Suddarth. (2002). Keperawatan Medikal - Bedah. EGC. Jakarta.
  4. Clark J, Marry (2003). Community Health Nursing. EGC. Jakarta.
  5. Corwin, Elizabeth J. (2001). Patofisiologi. EGC. Jakarta.
  6. Friedman, Marilyn M. (1998). Keperawatan Keluarga Teori dan Praktek. EGC. Jakarta.
  7. Hidayat, A. Aziz Alimul. (2007). Metode Penelitian Keperawatan dan Tehnk Analis Data. Salemba Medika. Jakarta.
  8. Lanywati, Endang. (2001). Diabetes Melitus Penyakit Kencing Manis. Kanisius. Yogyakarta.
  9. Mansjoer, Arif. et.al.(2000). Kapita Selekta Kedokteran. Media Aesculapius FKUI. Jakarta.
  10. Niven, Neil. (2002). Psikologi Kesehatan. EGC. Jakarta.
  11. Noer, Sjaifoellah. et.al. (1999). Ilmu Penyakit Dalam. FKUI. Jakarta.
  12. Notoatmodjo, Soekidjo. (2002). Metodologi Penelitian Kesehatan. PT Rineka Cipta. Jakarta.
  13. Notoatmodjo, Soekidjo (2003). Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Rineka Cipta. Jakarta.
  14. Nursalam (2003). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Salemba Medika. Jakarta.
  15. Patrick Davey. (2002). At a Glance Medicine. Erlangga. Surabaya.
  16. Ranakusuma, Boedisantoso. Et.al. (1999). Penatalaksanaan Diabetes Melitus Terpadu. CV Aksara Buana. Jakarta.
  17. Suprajitno (2004). Asuhan Keperawatan Keluarga. EGC. Jakarta.
  18. Askandar T. (2006). Hidup Sehat dan Bahagia bersama Diabetes Melitus. PT Gramedia Pustaka