Tuesday, January 25, 2011

PEDOMAN PELAKSANAAN PENGEMBANGAN DESA SIAGA

Dr. Suparyanto, M.Kes

PEDOMAN PELAKSANAAN PENGEMBANGAN DESA SIAGA

PENGERTIAN
  • Desa Siaga adalah Desa yang penduduknya memiliki kesiapan sumber daya dan kemampuan serta kemauan untuk mencegah dan mengatasi masalah2 kesehatan, secara mandiri.

TUJUAN :
  • Terwujudnya masyarakat sehat, serta peduli dan tanggap terhadap permasalahan kesehatan

SASARAN :
  1. Semua Individu dan keluarga di desa setempat
  2. Pihak2 yang mempunyai pengaruh (toma, toga, tokoh perempuan dan pemuda, kader serta petugas kesehatan)
  3. Pihak2 yang diharapkan memberi dukungan kebijakan,peraturan perundang-undangan,dana,tenaga,sarana.(kepala desa, Camat,pejabat terkait,swasta para donatur dan pemangku kepentingan lainnya)

KRITERIA :
  • Desa telah menjadi desa siaga bila memiliki Pos Kesehatan Desa (Poskesdes)

PENGERTIAN POSKESDES
  • Poskesdes adalah UKBM yang dibentuk di desa dalam rangka mendekatkan pelayanan kesehatan dasar bagi masy desa.
  • Pelayanannya meliputi upaya promotif, preventif, dan kuratif yang dilaksanakan oleh tenaga kesehatan (perawat/ bidan)dibantu kader

KEGIATAN POSKESDES
  1. Pengamatan epidemologis sederhana
  2. Penanggulangan penyakit menular, dan penyakit KLB
  3. Kesiapsiagaan dan penanggulangan bencana dan kegawatdaruratan kesehatan
  4. Pelayanan medis dasar, sesuai dengan kompetensinya
  5. Kegiatan lain : promosi kesehatan untuk Kadarzi, PHBS, penyehatan lingkungan dll.

SUMBERDAYA POSKESDES
  1. Tenaga kesehatan (minimal bidan, idealnya: perawat, bidan dan petugas gizi))
  2. 2 (dua) orang kader/bagas

PEMBANGUNAN SARANA FISIK POSKESDES :
  1. Mengembangkan Polindes
  2. Memanfaatkan bangunan yang sudah ada, yaitu Balai RW, Balai Desa dll.
  3. Membangun baru dengan pendanaan dari pemerintah (Pusat dan daerah), donatur, dunia usaha atau swadaya masyarakat

ADA BANGUNAN FISIK POSKESDES DAN MENETAP
  1. Mudah koordinasi dengan bagas/ kader
  2. Memudahkan akses masyarakat
  3. Kegiatan lebih terencana dan terarah.
  4. Polindes dan Poskesdes terdapat dalam satu tempat dengan fungsinya masing2

TIDAK ADA BANGUNAN FISIK POSKESDES DAN TIDAK MENETAP
  1. Sulit koordinasi dengan bagas/ kader
  2. Menyulitkan akses Masyarakat
  3. Kegiatan tidak terencana dan tdk terarah.
  4. Polindes tetap ada, Poskesdes sulit berjalan (beban ganda untuk bidan)

LANGKAH-LANGKAH PENGEMBANGAN DESA SIAGA

PERSIAPAN
PUSAT:
  1. Penyusunan pedoman
  2. Pembuatan modul pelatihan
  3. Penyelenggaraan pelatihan bagi pelatih (TOT)

PROVINSI:
  1. Penyelenggaraan TOT (tenaga kab/kota)

KABUPATEN/KOTA:
  1. Penyelenggaraan pelatihan nakes
  2. Penyelenggaraan pelatihan kader

PELAKSANAAN
PUSAT:
  1. Penyediaan dana dan dukungan sumber daya lain

PROVINSI:
  1. Penyediaan dana dan dukungan sumber daya lain

KABUPATEN/KOTA:
  1. Penyediaan dana dan dukungan sumber daya lain
  2. Penyiapan PKM & RS dlm rangka penanggulangan bencana & kegawatdaruratan kesehatan

KECAMATAN:
  1. Pengembangan dan Pembinaan desa siaga


PEMANTAUAN DAN EVALUASI
PUSAT:
  1. Memantau kemajuan dan mengevaluasi keberhasilan pengembangan desa siaga

PROVINSI:
  1. Memantau kemajuan pengembangan desa siaga
  2. Melaporkan hasil pemantauan ke pusat

KABUPATEN/KOTA:
  1. Memantau kemajuan pengembangan desa siaga
  2. Melaporkan hasil pemantauan ke provinsi

KECAMATAN
  1. Melakukan Pemantauan Wilayah Setempat (PWS)
  2. Melaporkan perkembangan ke Kab/Kota

PENDEKATAN PENGEMBANGAN DESA SIAGA

Langkah2 pokok yang perlu ditempuh :
  1. Pengembangan Tim Petugas
  2. Pengembangan Tim di Masyarakat
  3. Survei mawas Diri (SMD)
  4. Musyawarah Masyarakat Desa (MMD)

PELAKSANAAN KEGIATAN
  1. Pemilihan Pengurus dan Kader Desa Siaga
  2. Orientasi / Pelatihan Kader Desa Siaga
  3. Pengembangan Poskesdes dan UKBM lain
  4. Penyelenggaraan Kegiatan Desa Siaga

PEMBINAAN DAN PENINGKATAN
  1. Pembinaan jejaring lintas sektor, khususnya dengan program2 pembangunan yang bersasaran desa
  2. Pembinaan perlu dikembangkan upaya-upaya untuk memenuhi kebutuhan para kader agar tidak drop-out.(dibantu memperoleh pendapatan tambahan, misalnya pemberian gaji insentif atau difasilitasi untuk berwirausaha).

PERAN JAJARAN KESEHATAN DAN PEMANGKU KEPENTINGAN TERKAIT

Puskesmas:
  1. Yankesdas & PONED
  2. Mengembangkan komitmen & Kerjasama TimTk. Kec. dan desa
  3. Memfasilitasi pengembangan Desi & Poskesdes
  4. Monev dan Pembinaan desi

Rumah Sakit:
  1. Menyelenggarakan pelayanan rujukan & PONEK
  2. Melaksanakan bimbingan teknis medis
  3. Menyelenggarakan Promosi Kesehatan dalam rangka pengembangan kesiapsiagaan dan penanggulangn kedaruratan dan bencana

Dinas Kesehatan Kab/Kota:
  1. Mengembangkan komitmen & kerjasama tim di Tk. Kab/Kota
  2. Merevitalisasi PKM
  3. Merevitalisasi RS
  4. Merekrut / Menyediakan calon fasilitator
  5. Menyelenggarakan pelat bagi petugas kesehatan & kader
  6. Melakukan advokasi ke berbagai pihak
  7. Menyediakan anggaran dan sumber daya lain

Dinas Kesehatan Provinsi
  1. Mengembangkan komitmen & kerjasama tim di tingkat. Provinsi
  2. Membantu Dinkes Kab/kota melalui pelatihan2 manajemen, teknis, dll.
  3. Membantu Dinkes Kab/kota mengembangkan kemampuan PKM dan RS di bidang konseling
  4. Menyelenggarakan pelatihan fasilitator
  5. Melakukan advokasi ke berbagai pihak tingkat. Provinsi
  6. Bersama Dinkes Kab/Kota melakukan pemantauan, evaluasi dan bimbingan teknis terhadap desi.
  7. Menyediakan anggaran dan sumber daya lain bagi kelestarian desi
  8. Kementrian Kesehatan
  9. Menyusun konsep dan pedoman pengembangan desi,mensosialisasikan & mengadvokasi
  10. Memfasilitasi Dinkes, PKM, RS serta Posy dan UKBM lainnya.
  11. Memfasilitasi pembangunan Poskesdes dan pengembangan desi
  12. Memfasilitasi pengembangan sistem surveilans, sistem informasi / pelaporan dan spenaggulkangan kegawatdaruratan dan bencana berbasis masyarakat.
  13. Menyelenggarakan pelatihan bagi pelatih (TOT)
  14. Menyediakan dan dan dukungan sumber daya lain
  15. Menyelenggarakan pemantauan dan evaluasi.

Peran Pemangku Kepentingan Terkait

Pejabat Pemerintah Daerah
  1. Memberi dukungan kebijakan, sarana dan dana
  2. Mengkoordinasikan penggerakan masy untuk pelayanan Poskesdes/PKM/pustu/UKBM lain
  3. Mengkoordinasikan penggerakan masy untuk berperan aktif dalam penyelenggaraan desi & UKBM yang ada
  4. Melakukan Pembinaan untuk terselenggaranya kegiatan Desi sec ara teratur dan lestari

Tim Penggerak PKK
  1. Berperan aktif dalam pengembangan dan penyelenggaraan UKBM di Desi (posyandu,dll)
  2. Menggerakkan masy utk mengelola, menyelenggarakan dan memanfaatkan UKBM yang ada.
  3. Menyelenggarakan penyuluhan kesehatan dalam rangka menciptakan kadarzi dan PHBS

Tokoh Masyarakat
  1. Menggali sumber daya utk kelangsungan penyelenggaraan desi
  2. Menaungi dan membina kegiatan desi
  3. Menggerakkan masy utk berperan aktif

Organisasi Kemasyarakatan/LSM/Dunia Usaha/Swasta
  1. Berperan aktif dalam penyelenggaraan desi
  2. Memberikan dukungan sarana dan dana utk pengembangan dan penyelenggaraan desi

INDIKATOR KEBERHASILAN

INPUT:
  1. Ada Tidaknya Forum Desa
  2. Ada Tidaknya Poskesdes dan sarana bangunan serta perlengkapannya
  3. Ada tidaknya UKBM yang dibutuhkan masyarakat
  4. Ada tidaknya nakes (minimal bidan)

PROSES:
  1. Frekuensi Pertemuan forum desa
  2. Berfungsi tidaknya poskesdes
  3. Berfungsi tidaknya UKBM yang ada
  4. Berfungsi tidaknya Sistem Kegawatdaruratan dan Penanggulangan bencana

OUTPUT:
  1. Cakupan yankesdas Poskesdes
  2. Cakupan pelayanan UKBM lainnya
  3. Jumlah kasus Kegawatdaruratan dan KLB
  4. Cakupan RT yang mendapat kunjungan rumah untuk kadarzi dan PHBS

OUTCOME:
  1. Jumlah Penduduk yang sakit
  2. Jumlah Penduduk yang menderita gangguan Jiwa
  3. Jumlah Ibu melahirkan yang meninggal
  4. Jumlah bayi dan balita yang meninggal
  5. Jumlah balita Gizi buruk

Friday, January 21, 2011

KISI-KISI SOAL KMB 5 D3 KEBIDANAN 2013

Dr. Suparyanto, M.Kes

KISI-KISI SOAL KMB 5 D3 KEBIDANAN 2011

  1. Apa yang dimaksud dengan Epidemiologi?
  2. Jelaskan apa yang dimaksud dengan penyakit yang dinamakan “Black Death” dan itu terjadi di benua mana?
  3. Jelaskan perbedaan Epidemiologi Deskriptif dan epidemiologi Analitik?
  4. Jelaskan cara menyelesaikan masalah kesehatan menurut prinsip epidemiologi?
  5. Bagaimana cara merencanakan kebutuhan obat, pada saat kita mau membuka praktek kebidanan?
  6. Bagaimana cara menggambarkan besarnya masalah kesehatan pada epidemiologi deskriptif?
  7. Apa saja macam variabel epidemilogi dan berikan contohnya?
  8. Jelaskan cara membuat judul tabel yang benar?
  9. Apa beda tabel distribusi dan tabel silang, termasuk badan tabelnya?
  10. Jelaskan bagaimana cara menghitung prosentase pada tabel silang raw, colum dan total?
  11. Jelaskan perbedaab KLB dan Wabah?
  12. Sebutkan macam kriteria wabah dan beri contoh?
  13. Perhatikan data kasus Campak per bulan sebagai berikut: Januari: 15 kasus, Februari 18 kasus, Maret 7 kasus, April 11 kasus, dan Mei 12 kasus. Maka kejadian KLB Campak terjadi pada bulan apa?
  14. Jelaskan berbedaan toksin biologis dan toksin kimia, beri contohnya?
  15. Sebutkan tanda dan gejala penyakit: kolera, DB, hepatitis, pes dan campak
  16. Apa perbedaan screening massa dan screening spesifik dan beri contohnya?
  17. Apa yang dimaksud dengan validitas, screening, dan reliabilitas?
  18. Apa beda sensitivitas dan spesifisitas?
  19. Apa saja yang mempengaruhi reliabilitas dan jelaskan cara mengatasinya?
  20. Apa perbedaan antara screening seri dan screening paralel, beri contohnya?

Saturday, January 15, 2011

HUBUNGAN ANTARA POLA ASUH ORANG TUA DENGAN SIKAP REMAJA TENTANG NAPZA PADA SISWA KELAS XI DI SMA PGRI 1 JOMBANG KABUPATEN JOMBANG 2010.

ABSTRAK

HUBUNGAN ANTARA POLA ASUH ORANG TUA DENGAN SIKAP REMAJA TENTANG NAPZA PADA SISWA KELAS XI DI SMA PGRI 1 JOMBANG KABUPATEN JOMBANG 2010.

Peneliti: Vani Bagus Setiana
Pembimbing 1 : dr. Suparyanto, M.Kes,
Pembimbing 2 : Shanti Rosmaharani, S.Kep.Ns.

Penggunaan NAPZA sekarang ini banyak dilakukan oleh remaja. Dari data yang diperoleh didapat peningkatan kasus penggunaan NAPZA di Indonesia sebesar 29 %. Kabupaten Jombang didapat 44 kasus pada tahun 2009. Salah satu yang mempengaruhi remaja menggunakan NAPZA adalah pola asuh orang tua. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara pola asuh orang tua dengan sikap remaja tentang NAPZA pada siswa kelas XI di SMA PGRI 1 Jombang.

Desain penelitian ini adalah analitik Korelasi dengan pendekatan Cross Sectional, sampel sebagian siswa kelas XI SMA PGRI 1 Jombang sebanyak 195 responden, dengan teknik simple random sampling, dan uji statistik dengan Spearman rank.

Berdasarkan hasil analisa dan interpretasi data didapatkan 59,0% responden mempunyai sikap positif, 56,9% orang tua responden mempunyai pola asuh positif, dan 41,1% responden mempunyai sikap dan pola asuh orang tua yang positif. Setelah dilakukan uji statistik dengan spearman rank dengan menggunakan SPSS didapatkan bahwa (0,00) lebih kecil dari (0,05), maka H1 diterima atau H0 ditolak yang artinya ada hubungan antara pola asuh orang tua dengan sikap remaja tentang NAPZA pada siswa kelas XI di SMA PGRI 1 Jombang.

Berdasarkan hasil penelitian ini disimpulkan bahwa pola asuh orang tua dan sikap remaja tentang NAPZA di SMA PGRI 1 Jombang sebagian besar adalah positif dan ada hubungan antara pola asuh orang tua dengan sikap remaja tentang NAPZA di SMA PGRI 1 Jombang. Disarankan bagi institusi pendidikan untuk memberikan informasi tentang NAPZA pada remaja dengan cara memasukkannya kedalam sistem pembelajaran. Orang tua hendaknya memberikan pola asuh yang demokratis pada anak sehingga anak dapat mengerti hal positif dan negatif tentang NAPZA. Dengan diberikan informasi dan pola asuh yang tepat diharapkan angka penyalahgunaan NAPZA pada kalangan remaja bisa ditekan dan bahkan bisa dihilangkan.

Kata kunci : Pola Asuh Orang Tua, Remaja, Sikap, NAPZA

HUBUNGAN ANTARA PERILAKU IBU DENGAN KETEPATAN JADWAL IMUNISASI DASAR LENGKAP DI DESA MADE KECAMATAN KUDU KABUPATEN JOMBANG

ABSTRAK

HUBUNGAN ANTARA PERILAKU IBU DENGAN KETEPATAN JADWAL IMUNISASI DASAR LENGKAP DI DESA MADE KECAMATAN KUDU KABUPATEN JOMBANG

Multi Sari Diyanto
Dr. Suparyanto, M.Kes
Dr. Heri Wibowo, M. Kes
Miftakul Huda, SKM

Indonesia masih mengalami banyak masalah kesehatan yang cukup serius terutama dalam bidang kesehatan ibu dan anak. Menurut Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2003 Angka Kematian Bayi (AKB) yaitu 35 per 1000 kelahiran hidup dan Angka Kematian Balita (AKABA) 46 per 1000 kelahiran hidup. Di Kecamatan Kudu tahun 2009 sebesar cakupan Imunisasi Dasar Lengkap sebesar 1 (9,1%) dari 11 Desa yang ada dan yang paling rendah di Desa Made. Faktor yang mempengaruhi ketepatan jadwal imunisasi dasar lengkap yaitu perilaku ibu yang mencangkup pengetauan ibu, sikap ibu, dan psikomotor ibu. Tujuan Penelitian Mengetahui hubungan antara perilaku ibu dengan ketepatan jadwal imunisasi dasar lengkap di Desa Made Kecamatan Kudu Kabupaten Jombang.

Jenis penelitian ini adalah penelitian analitik. Pada penelitian ini populasinya adalah semua ibu yang mempunyai bayi usia 12 bulan di Desa Made Kecamatan Kudu Kabupaten Jombang sebanyak 120 orang dengan Jumlah sampel 30 orang, teknik sampling yang digunakan Simpel Random Sampling. Dengan menggunakan desain penelitian Analitik-cross sectional, untuk mengumpulkan data menggunakan instrumen yaitu kuesioner dan observasi register imunisasi, Uji statistik yang digunakan pada penelitian ini adalah chi square. Untuk mengetahui hubungan antara perilaku ibu dengan ketepatan jadwal imunisasi dilakukan uji statistik chi square dengan tingkat signifikan 0,05 menggunakan SPSS 16 for windows untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh antara dua variabel yaitu variabel independent (perilaku ibu dalam mendapatkan imunisasi dasar lengkap) dan variabel dependent (ketepatan jadwal imunisasi) yang berskala nominal dan nominal. Jika < 0,05 maka Ho (Hipotesa Nol) ditolak, artinya ada hubungan antara perilaku ibu dengan ketepatan jadwal imunisasi Dasar Lengkap

Berdasarkan hasil penelitian di Desa Made Kecamatan Kudu Kabupaten Jombang 21 Agustus 2010 didapatkan bahwa: lebih dari 50% responden berperilaku negatif sejumlah 17 orang, lebih dari setengahnya responden tidak tepat dalam pelaksanaan jadwal imunisasi sejumlah 16 orang, dari 17 responden yang memiliki perilaku negatif dan 15 diantaranya tidak tepat dalam melakukan jadwal imunisasi. Berdasarkan hasil penelitian di Desa Made Kecamatan Kudu Kabupaten Jombang 21 Agustus 2010 dapat disimpilkan bahwa: Perilaku ibu dalam memberikan imunisasi adalah negatif, ketepatan jadwal imunisasi bayi adalah tidak tepat, didapatkan bahwa ada Hubungan kuat antra Perilaku ibu dengan ketepatan jadwal imunisasi dasar lengkap. Untuk meningkatkan pengetahuan ibu sehingga mahasiswa dapat memberikan penyuluhan kepada ibu yang memiliki balita agar pengetahuan ibu bertambah, Untuk meningkatkan ketepatan jadwal imunisasi maka diharapkan tenaga kesehatan memberikan konseling kepada ibu tentang pentingnya imunisasi pada balita


Kata kunci : Perilaku, Ketepatan jadwal imunisasi

HUBUNGAN ANTARA PERAN IBU DENGAN KESIAPAN REMAJA PUTRI MENGHADAPI MENARCHE PADA SISWI KELAS 4 – 6 ( DI MADRASAH IBTIDAIYAH MUHAMMADIYAH 05 MOJOAGUNG KECAMATAN MOJOAGUNG KABUPATEN JOMBANG )

ABSTRAK

HUBUNGAN ANTARA PERAN IBU DENGAN KESIAPAN REMAJA PUTRI MENGHADAPI MENARCHE PADA SISWI KELAS 4 – 6 ( DI MADRASAH IBTIDAIYAH MUHAMMADIYAH 05 MOJOAGUNG KECAMATAN MOJOAGUNG KABUPATEN JOMBANG )

Peneliti: Rifky Alfiansyah,
Pembimbing 1: dr. Suparyanto, M.Kes
Pembimbing 2: Heni Maryati, S.Kep. Ners

Peristiwa terpenting yang terjadi pada masa pubertas remaja putri adalah datangnya menstruasi pertama yang dinamakan menarche yang menjadi pertanda biologis dari kematangan seksual. Menarche adalah keluarnya guguran – guguran sel telur (ovum) yang tidak dibuahi sperma berupa butiran-butiran sel darah merah dari rahim seorang wanita, merupakan kejadian alamiah yang menandai pergantian fase kehidupan dari masa usia kanak-kanak menjadi masa usia remaja.

Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskritif. Populasi dalam penelitian ini adalah semua Ibu dan siwi kelas 4-6 di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah 05 Mojoagung Jombang sebanyak 34 orang. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September 2010 dengan cara membagikan kuesioner. Untuk mengetahui pengaruh antara kedua variabel maka dilakukan uji statistic Chi-Square.

Berdasarkan hasil analisa melalui uji Chi - Square dengan SPSS, di dapat Chi - Square hitung = 4.030 Pada taraf kesalahan α = 0,05 atau nilai p = 0,045 < 0,05 maka H1 diterima atau H0 ditolak yang artinya ada hubungan antara peran Ibu dengan kesiapan remaja putri menghadapi menarche.

Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ada hubungan peran ibu dengan kesiapan remaja putri dalam menghadapi menarche pada siswi kelas 4-6 Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah 05 Mojoagung Kecamatan Mojoagung Kabupaten Jombang Tahun 2010.

Kata kunci : peran ibu, kesiapan, remaja putri, menarche


Wednesday, January 12, 2011

KISI-KISI SOAL SITOHISTOLOGI D3 ANALIS 2013

Dr. Suparyanto, M.Kes

KISI-KISI SOAL SITOHISTOLOGI D3 ANALIS 2011

  1. Bagaimana caramembuat sediaan yang tipis?
  2. Bagaimana cara mencegah perubahan jaringan?
  3. Bagaimana cara memfixasi jaringan?
  4. Apa yang dimaksud dengan embedding?
  5. Bagaimana cara pengeluaran cairan dalam jaringan?
  6. Bagaimana cara menghilangkan cairan dalam jaringan?
  7. Bagaimana cara menghilangkan bekas alkohol dalam jaringan?
  8. Apa itu Mikrotom?
  9. Sebutkan contoh cat asam dan cat basa ?
  10. Sebutkan Kombinasi pengecatan yang sering dipakai?
  11. Jelaskan apa yang dimaksud dengan pemeriksaan pap smear?
  12. Pap smear merupakan screening untuk penyakit apa?
  13. Bagi wanita yang sudah menikah, kapan Pap smear sebaiknya dilakukan?
  14. Pada keadaan atau kondisi apa Pap smear tidak boleh dilakukan?
  15. Jelaskan persiapan yang perlu diberitahukan kepada pasien sebelum melakukan pemeriksaan pap smear?
  16. Sebutkan jenis obat yang dilarang digunakan sebelum pemeriksaan pap smear?
  17. Siapa yang boleh melakukan pengambilan sample pap smear?
  18. Sebutkan peralatan yang digunakan untuk pemeriksaan pap smear?
  19. Sebutkan bahan yang biasa digunakan untuk fiksasi sediaan pap smear?
  20. Pada wanita. pap smeaer rutin dilakukan pada usia berapa?
  21. Jelaskan apa yang dimaksud dengan inflamasi?
  22. Sebutkan tanda peradangan jaringan?
  23. Apa arti tanda peradangan?
  24. Apa beda transudat dan eksudat?
  25. Apa yang dimaksud dengan migrasi?
  26. Apa yang dimaksud dengan diapedesis?
  27. Sebutkan macam Sel yang terlibat dalam proses peradangan?
  28. Apa ciri mperadangan akut dan kronis?
  29. Sebutkan macam media peradangan?
  30. Apa yang dimaksud dengan pus?
  31. Apa beda furunkel dan karbunkel?
  32. Apa nama Peradangan supuratif di folikel rambut?
  33. Sebutkan peda sinus dan fistula?
  34. Apa nama saluran abnormal yang menghubungkan dua organ atau lumen organ berongga dan permukaan tubuh?
  35. Apa nama peradangan supuratif subkutan?

KISI-KISI SOAL PROMOSI KESEHATAN 2011

Dr. Suparyanto, M.Kes

KISI-KISI SOAL PROMOSI KESEHATAN 2011

  1. Apa saja aspek kesehatan, menurut Undang-undang Kesehatan nomer 23 tahun 1992
  2. Apa perbedaan Kesehatan menurut WHO dan Undang-undang Kesehatan nomer 23 tahun 1992?
  3. Apa saja komponen kesehatan mental?
  4. Beri contoh orang tidak sehat dalam aspek ekonomi?
  5. Apa yang dimaksud dengan upaya kesehatan?
  6. Apa beda upaya kesehatan tingkat pertama, kedua dan ketiga?
  7. Sebutkan program Posyandu?
  8. Menurut Blum, apa saja yang mempengaruhi faktor kesehatan masyarakat?
  9. Sebutkan macam pencegahan penyakit?
  10. Sebutkan definisi promosi kesehatan menurut beberapa pakar?
  11. Teori perilaku menurut Lawrence Green ada berapa faktor?
  12. Apa Tujuan utama promosi kesehatan?
  13. Sebutkan misi promosi kesehatan?
  14. Sebutkan strategi promosi kesehatan?
  15. Sebutkan dan beri contoh jenis promosi kesehatan?
  16. Jelaskan apa yang dimaksud dengan komunikasi?
  17. Sebutkan komponen komunikasi?
  18. Sebutkan macam model komunikasi?
  19. Apa yang dimaksud dengan pemasaran sosial kesehatan?
  20. Sebutkan macam variabel pemasaran?
  21. Apa yang dimaksud dengan operan respon menurut Skiner?
  22. Apa yang dimaksud dengan perilaku tertutup?
  23. Beri contoh perilaku pencarian pelayanan kesehatan?
  24. Beri contoh perilaku sakit?
  25. Sebutkan dan jelaskan domain perilaku?
  26. Sebutkan dan jelaskan tingkatan pengetahuan?
  27. Apa yang dimaksud dengan masyarakat?
  28. Apa yang dimaksud dengan komunitas?
  29. Sebutkan macam unsur budaya?
  30. Sebutkan aspek sosial yang mempengaruhi status kesehatan?
  31. Beri contoh aspek budaya?
  32. Proses perubahan kebudayaan yang terjadi dalam jangka waktu pendek disebut apa?
  33. Apa yang dimaksud dengan motivasi?
  34. Apa yang dimaksud dengan instink?
  35. Sebutkan macam pendekatan dalam motivasi?
  36. Sebutkan tingkat kebutuhan menurut Maslow?
  37. Sebutkan macam teori motivasi?
  38. Beri contoh motif biologis dan sosial?
  39. Sebutkan sub sistem dari sistem sosial?
  40. Sebutkan sub sistem keluarga?
  41. Profesi apa yang membutuhkan sistem sosial?
  42. Beri contoh sumber energi individu?
  43. Apa yang dimaksud dengan Securing External (mengamankan masukan energi dari luar) pada sistem keluarga?
  44. Apa yang dimaksud dengan pengendalian sosial?
  45. Apa yang dimaksud dengan persepsi?
  46. Sebutkan faktor yang mempengaruhi persepsi?
  47. Apa yang membedakan antara figur dan latar?
  48. Sebutkan macam hukum dalam persepsi?
  49. Proses persepsi dimana kita mengorganisasikan stimulus yang kita lihat dengan cara mengisi bagian bagianya yang hilang, merupakan hukum apa dalam persepsi?
  50. Jika kita melihat pelayan membawa piring, dan kita terus melihat piring yang bundar, ini adalah hukum apa dalam teori persepsi?

Sunday, January 9, 2011

PENINGKATAN KINERJA MENURUT JHPIEGO

Dr. Suparyanto, M.Kes

PENINGKATAN KINERJA MENURUT JHPIEGO



Sumber: htpp://www.jhpiego.org
Gambar 2.2: Bagan Peningkatan kinerja menurut JHPIEGO

  • Bagan diatas menjabarkan langkah-langkah peningkatan kinerja menurut JHPIEGO, dimana hasil peningkatan kinerja diperoleh melalui proses yang mempertimbangkan tujuan organisasi, menjabarkan kinerja yang diinginkan, identifikasi gap antara pencapaian kinerja sekarang dan kinerja yang diinginkan, identifikasi penyebab masalah, memilih intervensi untuk menutup gap yang ada serta monitoring dan evaluasi perubahan kinerja.

  • JHPIEGO, sebuah afiliasi dari Universitas Hopkins, adalah suatu perusahaan non-profit yang bergerak meningkatkan kesehatan wanita dan keluarga. Menurut JHPIEGO yang dimaksud dengan peningkatan kinerja adalah suatu proses untuk mewujudkan/meraih keinginan/tujuan organisasi atau individu. Tujuan dari peningkatan kinerja adalah tercapainya kualitas yang tinggi dan pelayanan kesehatan yang berkesinambungan.


Langkah-langkah peningkatan kinerja selengkapnya menurut JHPIEGO adalah sebagai berikut:

1.Analisa Kinerja
  • Menganalisis kinerja untuk mengidentifikasi gap/kesenjangan antara kondisi yang sebenarnya dan kondisi yang diharapkan. Fokus analisis pada kinerja individu atau kinerja organisasi.

2.Mencari Penyebab Masalah
  • Mengumpulkan informasi dari berbagai stakeholder untuk menanyakan mengapa gap kinerja terjadi serta mengidentifikasi penyebab rendahnya kinerja sebelum memilih intervensi yang sesuai. Penyebab yang umum rendahnya kinerja adalah: tidak jelasnya kinerja yang diharapkan, lemahnya umpan balik hasil kinerja, rendahnya motivasi, rendahnya dukungan organisasi, kurangnya pengetahuan dan ketrampilan, kurangnya fasilitas dan peralatan serta belum fokus pada pelanggan.


3.Pemilihan Intervensi
  • Memilih dan mendisain intervensi untuk mengatasi penyebab gap kinerja, prioritaskan pemilihan intevensi dengan mempertimbangkan biaya dan manfaat. Dalam menentukan prioritas, pertimbangkan hal-hal sebagai berikut:

  1. Ketepatan, sejauh mana kontribusi intervensi dalam mengatasi gap kinerja, serta sejauh mana efektifitasnya dalam meningkatkan kualitas pelayanan.

  2. Ekonomis, secara ekonomis hendaknya “affordable” dan berkelanjutan

  3. Kemudahan, apakah sistem yang ada mendukung adanya intervensi dan apakah dapat mencapai kesuksesan dengan sumberdaya yang terbatas?

  4. Budaya penerimaan, akankah masyarakat dan klien merespon dengan senang intervensi tersebut serta sejauh mana dukungannya?

  5. Penerimaan provider, apakah organisasi pelaksana pelayanan kesehatan dan supervisor mendukung intervensi tersebut?


  • Hutchison dan Stein (1998) dalam Caiola (2000) mengatakan ada 20 klas intervensi yaitu: career development systems, communications systems, documentation and standards,ergonomics and human factors, feedback systems, financial systems, human development systems, industrial engineering, information systems, instruction systems, job and workflow design and redesign, labor relations systems, management practices, measurement and evaluation systems, organizational anthropology, organizational design and development, quality improvement systems, resource systems, reward and recognition systems and selection systems.

  • Stolovitch dan Keeps (1999) dalam Caiola (2000) menyebutkan ada dua kategori utama intervensi yaitu: Learning interventions dan non-learning intervensions. Learning interventions terdiri lima kategori yaitu: group-based learning, on-the-job training, experiential learning, self-paced learning and feedback systems, sedangkan non-learning interventions terdiri tiga kategori yaitu: environmental interventions, incentives/consequences/motivation inter-ventions and job aids. Fokus dari peningkatan kinerja adalah followup, measurement and evaluation.


4.Penerapan Intervensi
  • Pada fase ini tetapkan intervensi dan ciptakan sistem monitoring. Integra-sikan konsep perubahan pada pekerjaan dan secara hati-hati aturlah dampak langsung dan tidak langsung dari perubahan itu untuk memelihara efektifitas organisasi serta untuk mencapai tujuan peningkatan kinerja.


5.Monitoring dan Evaluasi Kinerja
  • Monitoring dan evaluasi perlu dilaksanakan untuk mengetahui pengaruh inter-vensi dalam mengatasi gap kinerja, disamping itu juga berguna untuk mendapat-kan informasi untuk bahan kajian analisis lebih lanjut tentang gap kinerja dan penyebab masalahnya, serta mendapatkan informasi untuk memodifikasi disain intervensi yang dibutuhkan.


REFERENSI
  1. Algifari, 2000, Analisis Regresi, Teori, Kasus, dan Solusi, edisi 2, Jogjakarta: BPFE, hlm 61—82.

  2. Anonymous, 2003, Pedoman Penulisan Usulan Penelitian Tesis Disertasi, Surabaya: Program Pascasarjana Universitas Airlangga.

  3. Arifin, A., 2001, Koordinasi Pemrograman sebagai Upaya Peningkatan Kinerja Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak di Puskesmas, Desertasi, Program Pascasarjana Universitas Airlangga Surabaya.

  4. As’ad, M., 2003, Psikologi Industri, Yogyakarta: Liberty, hlm 45—64.

  5. Azwar, A., 1996, Pengantar Administrasi Kesehatan, edisi ke 3, Jakarta: Bina Rupa Aksara, hlm 287—321.

  6. Brata, N., W., 2004, Upaya Peningkatan Cakupan Penderita Tuberkulosis Melalui Analisis Faktor petugas Puskesmas dan Masyrakat di Kabupaten Tabanan, Tesis, Program Pascasarjana Universitas Airlangga Surabaya.

  7. Brotowidjojo, M., 1988, Penulisan Karangan Ilmiah, Jakarta CV. Akademika Pressindo, hlm 166—170.

  8. Caiola, N., Sullivan, R.L., 2000, Performance Improvement: Developing a Strategy for Reproductive Health Services, http://www.jhpiego.org/, senin 17 Januari 2005, pukul: 08:15 WIB

  9. Dep.Kes., R.I, 1999, Pedoman Penanggulangan Tuberculosis, cetakan ke 4, Jakarta: Ditjen PPM-PLP, hlm 1—40.

  10. Dep.Kes., R.I, 2000, Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberculosis, cetakan ke-5, Jakarta: Ditjen PPM-PLP, hlm 1—31.

  11. Dep.Kes., R.I, 1990, Pedoman Puskesmas, jilid 3, Jakarta: Dep. Kes. R.I., hlm 31—38.

  12. Dep.Kes., R.I, 2003, Indikator Indonesia Sehat 2010 dan Pedoman Penetapan Indikator Provinsi Sehat dan Kabupaten/Kota Sehat, Jakarta: Dep. Kes. RI., hlm 17—21.

  13. Dep.Kes., R.I, 2004, Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Nomor 128/MENKES/SK/II/2004, Tentang Kebijakan Dasar Pusat Kesehatan Masyarakat , Jakarta: Dep. Kes. RI., hlm 5—12.

  14. Dep.Kes., R.I, 2004, Sistem Kesehatan Nasional, Jakarta: Dep. Kes. R.I., hlm 21—23.

  15. Dessler, G., 1997, Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: PT. Prenhallindo, hlm 1—40.

  16. Fridawaty, 2002, Analisis Faktor Dominan yang Mempengaruhi Kinerja Perawat dalam Asuhan Keperawatan di RS Haji Surabaya, Tesis, Program Pascasarjana Universitas Airlangga, Surabaya.

  17. Gibson, J.L., J.M. Ivancevich, J.H. Donnelly, Jr., 1996, Organisasi, Perilaku, Struktur, Proses, Jakarta: Bina Rupa Aksara, hlm 119—275 .

  18. Gomes, F.C., 1997, Manajemen Sumber Daya Manusia, Yogyakarta: Andi Offset, hlm 134—196.

  19. Gunaya, I N.D., 2004, Analisis Faktor Dominan Perawat yang Mempengaruhi Pelaksanaan Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Umum Negara, Tesis, Program Pascasarjana Universitas Airlangga Surabaya.

  20. Hague, P., 1995, Merancang Kuesioner, Jakarta: PT. Pustaka Binaman Pressindo, hlm 115—144.

  21. Hanafi, M., 1997, Manajemen, Yogyakarta: UPP AMP YKPN, hlm 337—356.

  22. Handoko, H., 1996, Manajemen, edisi 2, Yogyakarta: BPFE, hlm 251—270.

  23. Ilyas, Y., 2001, Kinerja, Teori, Penilaian dan Penelitian, Jakarta: Pusat Kajian Ekonomi Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat, hlm 66—150.

  24. Kopelman, R.E., 1998, Managing Productivity in Organization a Practical-people Oriented Prespective, New York: MC. Graw Hill Book Company, pp 3—18.

  25. Mathis, R.L., J.H. Jackson, 2001, Manajemen Sumber Daya Manusia, Buku 1, Jakarta: PT. Salemba Emban Patria, hlm 75—114.

  26. Mathis, R.L., J.H. Jackson, 2001, Manajemen Sumber Daya Manusia, Buku 2, Jakarta: PT. Salemba Emban Patria, hlm 89—91.

  27. McCaffery, J., M. Heerey, K. P. Bose (2003), Refining Performance Improvement Tools and Methods: lessons and Challenges, www.ispi.org.

  28. Nimran, U., 1997, Perilaku Organisasi, Surabaya: CV. Citra Media,. Hlm 9—19.

  29. Notoatmodjo, S., 2003, Pendidikan dan Perilaku Kesehatan, Jakarta: PT. Rineka Cipta, hlm 36—54.

  30. Pujiharti, Y., 2002, Analisis Faktor Organisasi Yang Berpengaruh Terhadap Motivasi dan Kinerja Bidan Petugas KIA Puskesmas Kota Malang. Tesis, Program Pascasarjana Universitas Airlangga, Surabaya.

  31. Purnomo, W., 2002, Statistika & Statistika Manajemen, Surabaya: Universitas Airlangga Program Pascasarjana Program Studi S2 Administrasi Kebijakan Kesehatan.

  32. Rakhmat, J., 2004, Psikologi Komunikasi, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, hlm 79—98.

  33. Robbins, S., 2003, Perilaku Organisasi, Jakarta: PT. Indeks, hlm 45—80.

  34. Santoso, S., 2003, SPSS versi 10 Mengolah Data Statistik secara Profesional, Jakarta: PT. Elex Media Komputindo, hlm 285—377.

  35. Satyawan, D., S., 2003, Kinerja Bidan Di Desa Dalam Pertolongan Persalinan di Pedesaan (Analisis Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja Bidan di desa Dalam Pertolongan Persalinan di Kabupaten Malang), Tesis, Program Pascasarjana Universitas Airlangga Surabaya.

  36. Siagian, S.P., 2002, Manajemen Sumber Daya Manusia, Jakarta: Bumi Aksara, hlm 252—294.

  37. Singarimbun, M., 1995, Metode Penelitian Survei, Jakarta: PT. Pustaka LP3ES Indonesia, hlm 122—146.

  38. Sudjana, 2003, Tehnik Analisis Regresi dan Korelasi bagi para Peneliti, Bandung: Tarsito, hlm 145—167.

  39. Suprihanto, J., TH.A.M.Harsiwi, P.Hadi, 2003, Perilaku Organisasi, Yogyakarta: Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Yayasan Keluarga Pahlawan Negara, hlm 21—54.

  40. Supriyanto, 2003, Metodologi Riset, Surabaya: Administrasi & Kebijakan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, hlm 93—96.

  41. Thoha, M., 2003, Perilaku Organisasi Konsep Dasar dan Aplikasinya, Cetakan ke 14, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, hlm 203—253.

  42. Umar, H., 2003, Evaluasi Kinerja Perusahaan, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, hlm 99—106.

  43. ¬¬ Umar, H., 2001, Riset Sumber Daya Manusia dalam Organisasi, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, hlm 126—138.

  44. Usmara, A., L.Dwiantara, 2004, Strategi Organisasi, Jogjakarta: Amara Books, hlm 131—142.

  45. WHO, 2001, Tuberculosis Control an Annotated Bibliography, New Delhi: World health Organization South-East Asia Regional Office, pp 5—8.

  46. Winarto, Y.T., Totok S., Ezra M.c., 2004, Karya Tulis Ilmiah Sosial, Menyiapkan, Menulis, dan Mencermatinya, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, hlm 175—193.

  47. Wulandari, W., 2004, Kinerja Perawat Pada Unit BP Puskesmas di Kabupaten Lumajang, Tesis, Program Pascasarjana Universitas Airlangga Surabaya.

  48. Zainuddin, M., 2003, Metode Penelitian, Surabaya: Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, hlm 58—72.

  49. Zainun, B., 1989, Manajemen dan Motivasi, Jakarta: Balai Aksara, hlm 49—64.


PROMOSI KESEHATAN

Dr. Suparyanto, M.kes

PROMOSI KESEHATAN

PENGERTIAN PROMOSI KESEHATAN
  • Heath promotion is the process of enabling people to control over and improve their health (WHO, 1986). Menurut Departemen Kesehatan, yang dimaksud Promosi Kesehatan adalah proses pemberdayaan masyarakat agar mampu memelihara dan meningkatkan kesehatanya. (Ewles, Linda, Ina Simmet (1994)
  • Pemberdayaan di bidang kesehatan adalah upaya untuk memampukan masyarakat sehingga mereka mempunyai daya atau kekuatan untuk hidup mandiri di bidang kesehatan. Upaya pemberdayaan tersebut dilakukan dengan menumbuhkan kesadaran, kemauan dan kemampuan untuk hidup sehat, disertai dengan pengembangan iklim yang mendukung. (Departemen Kesehatan RI. (2002).

STRATEGI PROMOSI KESEHATAN

a.Strategi Global Menurut WHO, 1984
  1. Advokasi : kegiatan yang ditujkan kepada pembuat keputusan (decission makers) atau penentu kebijakan (policy makers) baik dibidang kesehatan maupun sektor lain diluar kesehatan, yang mempunyai pengaruh terhadap publik.
  2. Dukungan sosial (social support): kegiatan yang ditujukan kepada para tokoh masyarakat, baik formal (guru, lurah, camat, petugas kesehatan dan sebagainya) maupun informal (tokoh agama, dan sebagainya) yang mempunyai pengaruh di masyarakat.
  3. Pemberdayaan Masyarakat (empowerment): pemberdayaan ini ditujukan kepada masyarakat langsung, sebagi sasaran primer promosi kesehatan. Tujuanya agar masyarakat memiliki kemampuan dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan mereka sendiri. (Notoatmojo, Soekijo. (2003).

b.Strategi Promosi Kesehatan berdasar Piagam Ottawa
  • Konferensi International Promosi Kesehatan di Ottawa Canada tahun 1986 menghasilkan piagam Ottawa (Ottawa Charter), dan salah satu rumusanya adalah strategi promosi kesehatan yang dikelompokan menjadi lima butir: (Notoatmojo, Soekijo. (2003).
  1. Kebijakan berwawasan kesehatan (healthy public policy)
  2. Lingkungan yang mendukung (supportive environment)
  3. Reorientasi pelayanan kesehatan (reorient health service)
  4. Ketrampilan individu (personal skill)
  5. Gerakan masyarakat (community action)
  6. Kegiatan Berbasis Masyarakat dalam Promosi Kesehatan
  • Kegiatan masyarakat dalam promosi kesehatan berarti kegiatan yang secara langsung melibatkan ahli promosi kesehatan bekerja dengan publik yang akan membuat mereka mampu mengendalikan dan memperbaiki kesehatanya.
  • Prinsip prinsip kegiatan berdasarkan kebutuhan masyarakat ada empat dasar, yaitu: (Ewles, Linda, Ina Simmet (1994).
  1. Sentralisasi masyarakat
  2. Peran pekerja Kesehatan Masyarakat sebagi fasilitator
  3. Pentingnya menyampaikan ketidakadilan
  4. Sebuah gambaran luas mengenai kesehatan

MODEL MODEL PENDEKATAN (APROACH MODEL)

a.Health Belief Model (HBM)
  • Health Belief Model merupakan model kognitif, yang berarti bahwa khususnya proses kognitif, dipengaruhi oleh informasi dari lingkungan, termasuk hitungan. Menurut HBM, kemungkinan individu akan melakukan tindakan pencegahan tergantung secara langsung pada hasil dari dua keyakinan atau penilaian kesehatan (health beliefs) yaitu ancaman yang dirasakan dari sakit atau luka (perceived threat of injury or illness) dan pertimbangan tentang keuntungan dan kerugian (benefits and costs)



Gambar: II-1: Health Belief Model. Sumber: Smet (1994, hal: 160)

  • Penilaian pertama adalah ancaman yang dirasakan terhadap resiko yang akan muncul. Hal ini mengacu pada sejauh mana seseorang berpikir penyakit atau kesakitan betul betul merupakan ancaman kepada dirinya. Asumsinya adalah bahwa bila ancaman yang dirasakan tersebut meningkat maka perilaku pencegahan akan meningkat juga. (Bart, Smert (1994).

b.Theory of Reasoned Action (TRA)
  • Theory of Reasoned Action atau Behavioral Intention Theory dari Ajzen dan Fishbein, menggunakan pendekatan kognitif juga, dan didasari ide bahwa “..humans are reasonable animals who, in deciding what action to take, systematically process and utilize the information available to them...”. tetapi kebalikan dengan HBM, TRA merupakan teori perilaku manusia secara umum.




Gambar: II-2: Theory of Reasoned Action (Fishbein & Ajzen)
Sumber: Smet (1994, hal: 165)

  • Teori ini menghubungkan keyakinan (beliefs), sikap (attitude), kehendak (intention) dan perilaku. Intensi merupakan prediktor terbaik dari perilaku. Jika ingin mengetahui apa yang akan dilakukan seseorang, cara terbaik untuk meramalkan adalah mengetahui intensi orang tersebut. (Bart, Smert (1994).

c.Model Pemberdayaan Masyarakat
  • Prinsip pemberdayaan masyarakat :
  1. Menumbuh kembangkan potensi masyarakat
  2. Menumbuhkan kontribusi masyarakat dalam upaya kesehatan
  3. Mengembangkan kegiatan kegotongroyongan di masyarakat
  4. Bekerja bersama masyarakat
  5. Promosi, pendidikan dan pelatihan dengan sebanyak mungkin menggunakan dan memanfaatkan potensi setempat
  6. Upaya dilakukan secara kemitraan dengan berbagai pihak
  7. Desentralisai: sesuai dengan keadaan dan budaya setempat. (Departemen Kesehatan RI. (2002).

Berbagai model / bentuk pemberdayaan masyarakat:
  1. Pemberdayaan pimpinan masyarakat (community leaders), misalnya melalui sarasean.
  2. Pengembangan upaya kesehatan bersumber daya masyarakat (Community organization) misalnya Posyandu, Polindes, Pokjanal DBD
  3. Pemberdayaan pendanaan masyarakat (Community fund) misalnya dana sehat, jamnan pemeliharaan kesehatan masyarakat (JPKM)
  4. Pemberdayaan sarana masyarakat (Community material) misalnya membangun sumur, jamban keluarga.
  5. Peningkatan pengetahuan masyarakat (Community knowledge) misalnya lomba asah trampil, lomba lukis anak anak
  6. Pengembangan teknologi tepat guna (Community technology) misalnya penyederhanaan deteksi dini kanker, ISPA
  7. Peningkatan manajemen / proses pengambilan keputusan (Community decision maker) misalnya pendekatan edukati, manajemen ARIF. (Departemen Kesehatan RI. (2002).


REFERENSI
  1. Bart, Smert (1994). Psikologi Kesehatan. Jakarta: Gramedia
  2. Ewles, Linda, Ina Simmet (1994). Promosi Kesehatan, Terjemahan Ova Emilia. Jogjakarta: Gajah Mada University Press
  3. Departemen Kesehatan RI. (2002). Promosi Kesehatan dalam Era Desentralisasi, Jakarta: Pusat Promosi Kesehatan Dep.Kes.RI
  4. Departemen Kesehatan RI. (2002). Advokasi Kesehatan menuju Indonesia Sehat 2010, Jakarta: Pusat Promosi Kesehatan Dep.Kes.RI
  5. Departemen Kesehatan RI. (2002). Pemberdayaan Masyarakat Bidang Kesehatan, Jakarta: Pusat Promosi Kesehatan Dep.Kes.RI
  6. Departemen Kesehatan RI. (1995). Menuju Desa Bebas Demam Berdarah, Jakarta: Dirjen P2PL. Dep.Kes.RI
  7. Departemen Kesehatan RI. (1990). Petunjuk Teknis Pemantauan Jentik Berkala, Jakarta: Dirjen P2PL. Dep.Kes.RI
  8. Departemen Kesehatan RI. (1999). Petunjuk Tehnis Bulan Bakti Gerakan 3M Demam Berdarah Dengue (DBD), Jakarta: Dirjen P2PL. Dep.Kes.RI
  9. Departemen Kesehatan RI. (1998). Menggerakan Masyarakat dalam ”3M” guna Memberantas Demam Berdarah Dengue (DBD), Jakarta: Dirjen P2PL. Dep.Kes.RI
  10. Notoatmojo, Soekijo. (2003). Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta : PT Rineka Cipta

PEMBERANTASAN PENYAKIT DEMAM BERDARAH DENGUE (DB/DHF)

Dr. Suparyanto, M.Kes

PEMBERANTASAN PENYAKIT DEMAM BERDARAH DENGUE

APA PENYAKIT DBD ITU?
  • Penyakit demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti. Tanda tanda penyakit ini adalah panas mendadak disertai dengan perdarahan. Bila tidak segera mendapat pertolongan dapat menyebabkan kematian dalam waktu beberapa hari. (Depkes. RI 1998)
  • Penyakit ini belum ada obatnya. Pertolongan utama yang dapat dilakukan adalah memberi minum sebanyak mungkin atau memberi infus (memasukan cairan melalui pembuluh darah yang jamlahnya disesuaikan dengan keadaan penderita). Maksud pertolongan ini adalah untuk mencegah agar penyakitnya tidak menjadi lebih parah. . (Depkes. RI 1995)

MENGAPA PENYAKIT DBD PERLU DIBERANTAS?
  • Penyakit DBD perlu diberantas karena:
  1. Penyakit ini sering menimbulkan wabah dan menyebabkan kematian pada banyak orang dalam waktu singkat.
  2. Penyakit DBD semakin menyebar luas sejalan dengan meningkatnya arus transportasi dan kepadatan penduduk.
  3. Semua desa mempunyai resiko untuk terjangkit penyakit DBD karena nyamuk penularnya (aedes aegypti) tersebar luas di seluruh pelosok tanah air, kecuali yang ketinggianya lebih dari 1000 meter diatas permukaan laut. . (Depkes. RI 1995)

CARA MEMBERANTAS PENYAKIT DBD
  • Untuk memberantas penyakit DBD, seluruh masyarakat harus menjaga kebersihan agar rumah dan lingkunganya bebas dari nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk Aedes aegypti suka berkembang di tempat penampungan air seperti bak mandi, bak WC, tempayan, drum dan barang barang yang memungkinkan air tergenang seperti tempat minum burung, pot tanaman air, vas bunga, ban bekas, kaleng kaleng bekas, plastik bekas, tempurung kelapa dan lain lain yang dibuang sembarangan. . (Depkes. RI 1995)
  • Oleh karena itu untuk memberantas nyamuk Aedes aegypti dilakukan dengan cara:
  1. Menguras tempat tempat penampungan air sekurang kurangnya seminggu sekali atau menutupnya rapat rapat atau menaburkan racun pembasmi jentik (abate) yang disebut dengan istilah abatisasi
  2. Mengubur atau menyingkirkan barang barang bekas dan sampah sampah linya yang dapat menampung air hujan sehingga dapat menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk. . (Depkes. RI 1999)
  • Cara cara diatas dikenal dengan istilah Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dengue (PSN-DBD). Penyemprotan racun serangga (fogging) juga dapat membunuh nyamuk, tetapi jika jentik jentiknya dibiarkan hidup, maka jentik itu akan menetas menjadi menjadi nyamuk nyamuk baru. Dengan demikian penyemprotan tidak dapat memberantas nyamuk secara tuntas. . (Depkes. RI 1995)

BAGAIMANA CARA AGAR MASYARAKAT BERPERAN SERTA DALAM PSN-DBD?
  • Semua keluarga harus diberi informasi tentang penyakit DBD dan dimotivasi untuk melaksanakan PSN-DBD secara terus menerus, sehingga PSN-DBD dan pemeliharaan kebersihan lingkungan menjadi kebiasaan sehari hari bagi tiap keluarga. . (Depkes. RI 1995)

Kegiatan pokok yang dapat dilakukan untuk menggerakan peran serta masyarakat dalam PSN-DBD adalah:
  1. Kunjungan rumah secara berkala untuk memberikan penyuluhan secara langsung kepada keluarga dan melakukan pemeriksaan jentik.
  2. Pertemuan pertemuan kelompok masyarakat seperti arisan, pertemuan PKK, pengajian, penyuluhan di Posyandu dan lain lain.
  3. Kerjabakti secara berkala untuk membersihkan lingkungan dan melaksanakan PSN-DBD . (Depkes. RI 1998)
  • Agar kegiatan penggerakan peran serta masyarakat dapat terlaksana secara berkesinambungan, diperlukan penggerak dari tokoh masyarakat di desa yang tergabung dalam Kelompok Kerja Pemberantasan Penyakit Demam Berdarah Dengue (POKJA DBD) yan mengkordinasikan kegiatan kegiatan tersebut diatas. . (Depkes. RI 1995)

REFERENSI
  1. Bart, Smert (1994). Psikologi Kesehatan. Jakarta: Gramedia
  2. Ewles, Linda, Ina Simmet (1994). Promosi Kesehatan, Terjemahan Ova Emilia. Jogjakarta: Gajah Mada University Press
  3. Departemen Kesehatan RI. (2002). Promosi Kesehatan dalam Era Desentralisasi, Jakarta: Pusat Promosi Kesehatan Dep.Kes.RI
  4. Departemen Kesehatan RI. (2002). Advokasi Kesehatan menuju Indonesia Sehat 2010, Jakarta: Pusat Promosi Kesehatan Dep.Kes.RI
  5. Departemen Kesehatan RI. (2002). Pemberdayaan Masyarakat Bidang Kesehatan, Jakarta: Pusat Promosi Kesehatan Dep.Kes.RI
  6. Departemen Kesehatan RI. (1995). Menuju Desa Bebas Demam Berdarah, Jakarta: Dirjen P2PL. Dep.Kes.RI
  7. Departemen Kesehatan RI. (1990). Petunjuk Teknis Pemantauan Jentik Berkala, Jakarta: Dirjen P2PL. Dep.Kes.RI
  8. Departemen Kesehatan RI. (1999). Petunjuk Tehnis Bulan Bakti Gerakan 3M Demam Berdarah Dengue (DBD), Jakarta: Dirjen P2PL. Dep.Kes.RI
  9. Departemen Kesehatan RI. (1998). Menggerakan Masyarakat dalam ”3M” guna Memberantas Demam Berdarah Dengue (DBD), Jakarta: Dirjen P2PL. Dep.Kes.RI
  10. Notoatmojo, Soekijo. (2003). Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta : PT Rineka Cipta