Friday, March 5, 2010

PENGANTAR BIOSTATISTIK (BIOSTATISTIC INTRODUCTION)

Dr. Suparyanto, M.Kes

Sejarah Statistik
  • Statistik berasal dari bahasa Yunani (states): artinya negara, waktu itu banyak digunakan untuk urusan negara misalnya biaya pajak, jumlah penduduk sehingga muncul istilah statistik penduduk, statistik pendidikan, statistik kelahiran, statistik kematian
  • Statistika adalah ilmu yang mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan data, serta sifat-sifat data
  • Biostatistik adalah statistik tentang makluk hidup (termasuk kesehatan)

  • Statistika: metode (prosedur, ilmu) untuk pengumpulan, pengorganisasian, penyajian, dan analisa data
  • Statistik: ukuran (karakter, besaran) dari sampel, merupakan informasi
  • Contoh: rata-rata hitung (rerata, mean), median, modus, proporsi, jangkauan (range)
  • BB (berat badan) adalah data , bukan statistik
  • Rata-rata BB mahasiswa Stikes Pemda adalah Statistik

Langkah Statistik:
  1. Pengumpulan data
  2. Pengolahan data
  3. Penyajian data
  4. Penganalisaan data
  5. Penarikan kesimpulan

  • Langkah berurutan, tidak dapat dibolak-balik
  • Statistik merubah data menjadi informasi

Contoh Statistik
  • Data umur mahasiswa: 18, 19, 18, 20, 21, 20, 19, 23, 19, 20, 19, 20, 21, 22, 20
  • Informasi apa yang dapat diambil dari data umur mahasiswa diatas?

Syarat Statistik
1. Merupakan agregat
2. Diperoleh dengan menghitung atau mengukur
3. Mempunyai variabilitas

Agregat
  • Agregat adalah kumpulan fakta yang diperoleh dari obyek yang kita amati
  • Cara memperoleh agregat: mengamati satu/sekelompok obyek secara berulang
Misal:
  • Agregat umur: 12, 13, 12, 15, 16
  • Agregat agama: Islam, Katolik, Kristen, Budha, Hindu
  • Agregat status nikah: tidak menikah, menikah, duda, janda

Beda Menghitung dan Mengukur
  • Menghitung: tidak ada alat ukurnya, bentuk angkanya bulat, tidak ada satuanya
  • Misal: jumlah mahasiswa, jumlah buku
  • Mengukur: ada alat ukurnya, bentuk angkanya desimal, ada satuanya
  • Misal: suhu tubuh, tekanan darah, berat badan, tinggi badan

Kegunaan Statistik
  • Memberikan gambaran tentang suatu objek secara lengkap dan ringkas
  • Membandingkan kejadian satu dengan kejadian lainya dengan memakai acuan waktu atau tempat
  • Membuat ramalan pada kejadian yang sama dimasa yang akan datang

Ruang Lingkup
  • Statistik deskriptif/deduktif adalah statistik yang bertujuan menggambarkan ciri suatu obyek berdasarkan data yang diperoleh, tanpa tindak lanjut (mencari penyebab)
  • Misal:
  • Statistik kunjungan Puskesmas
  • Statistik penderita Ca servix di poli kandungan

  • Statistik Inferensial/ induktif adalah statistik bertujuan menaksir secara umum suatu populasi dengan menggunakan hasil sampel, termasuk didalamnya teori penaksiran dan pengujian teori
  • Misal:
  • Uji faktor yang mempengaruhi kunjungan Puskesmas
  • Uji faktor pengaruh antara umur ibu dengan ca servix

Pendekatan Statistik
  • Pendekatan/ cara berpikir statistik dibagi:
  • Cara berpikir Deduktif adalah mengambil kesimpulan dari data yang bersifat umum ke kesimpulan yang bersifat spesifik
  • Kesimpulan yang ditarik adalah benar, jika premis (dasar pemikiran) benar dan prosedur penarikan kesimpulan benar
Contoh:
  • Premis mayor: semua manusia akan mati
  • Premis minor: Si Fulan adalah manusia
  • Kesimpulan: Si Fulan akan mati

  • Cara berpikir Induktif adalah mengambil kesimpulan dari data yang bersifat sfesifik ke kesimpulan yang bersifat umum
  • Walaupun premis benar, prosedur penarikan kesimpulan sah, kesimpulan belum tentu benar, tetapi bisa dikatakan bahwa kesimpulan tsb mempunyai peluang benar

Contoh:
  • Si Amir berkaki dua
  • Si Santi berkaki dua
  • Si Heru berkaki dua
  • Si Lina berkaki dua
  • Si Hasan berkaki dua
  • Amir, Santi, Heru, Lina, Hasan adalah manusia
  • Kesimpulan: semua manusia (mempunyai peluang besar) berkaki dua
REFERENSI:
  1. Budiarto, 2004, Metodologi Penelitian Kedokteran, Sebuah Pengantar, Jakarta, EGC
  2. Hasan, 2005, Pokok Pokok Materi Statistik 1 (statistik Deskriptif), Jakarta, Bumi Aksara
  3. Hasan, 2005, Pokok Pokok Materi Statistik 2 (statistik Infereansif), Jakarta, Bumi Aksara
  4. Nasution, 2004, Metode research (penelitian Ilmiah), Jakarta, Bumi Aksara
  5. Silalahi, 2003, Metodologi Penelitian dan Studi Kasus, Sidoarjo, Citramedia
  6. Tjokronegoro, 2004, Metologi Penelitian Bidang kedokteran, Jakarta, Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.


    FISIOLOGI SARAF 2

    Dr. Suparyanto, M.Kes

    Macam Saraf
    1. Saraf sensoris adalah saraf yang membawa impuls dari reseptor ke SSP (Sistem Saraf Pusat)
    2. Saraf konektor adalah saraf menghubungkan saraf sensoris dan saraf motoris di medula spinalis pada gerak reflek
    3. Saraf motoris adalah saraf yang membawa impuls dari SSP ke efektor

    Macam Saraf



    Sistem Lokomotorius



    Gerak Reflek
    • Gerak reflek adalah gerak (respon terhadap impuls sensoris) yang tidak disadari
    • Jarasnya: reseptor → saraf sensoris → saraf konektor (medulla spinalis) → saraf motorik → efektor

    Reseptor Sensoris
    • Reseptor sensorik adalah organ/sel yang berfungsi menerima rangsang/stimulasi lingkungan menjadi impuls saraf
    • Reseptor dibagi berdasarkan:
    • Sumber (lokasi) sensasi
    • Jenis sensasi yang terdeteksi

    Macam Reseptor
    • Eksteroseptor: reseptor yang menerima rangsang dari luar tubuh. (sentuhan, tekanan, nyeri, suhu, penciuman, penglihatan, pendengaran)
    • Propioseptor: reseptor yang menerima rangsang dari dalam tubuh. (otot, tendon, persendian, keseimbangan)
    • Interoseptor/viseroseptor: reseptor yang terletak di organ visera dan pembuluh darah yang diinervasi oleh SSO. (digesti, ekskresi dan sirkulasi)
    • Mekanoreseptor: reseptor untuk rangsangan mekanik. (vibrasi, tekanan, propriosepsi, pendengaran, keseimbangan, tekanan darah)
    • Termoreseptor: reseptor untuk suhu
    • Reseptor nyeri/nosiseptor: reseptor untuk kerusakan jaringan
    • Fotoreseptor: reseptor untuk cahaya
    • Kemoreseptor: reseptor untuk zat kimia

    Sistem Saraf
    • Sistem Saraf Pusat (SSP) terdiri dari cerebrum dan medulla spinalis
    • Sistem Saraf Tepi (SST) adalah saraf yang keluar dari SSP yang terdiri dari nervi cranialis dan nervi spinalis
    • Sistem Saraf Otonom (SSO) adalah saraf SST yang sifatnya tidak sadar (involunter) terdiri dari nervi simpatis dan nervi parasimpatis

    Jaras Saraf Sensoris
    • Jaras mulai dari reseptor → cortex sensoris cerebri → membawa impuls dari reseptor ke SSP
    • Badan sel saraf sensoris ada di ganglion radik posterior dekat medulla spinalis
    • Kerusakan pada jaras sensoris menyebabkan anestesia

    Ada dua jalur:
    1. Untuk Sentuhan/posisi saraf berjalan mulai ganglion radix posterior kemudian melalui serabut sentralis naik didalam kolumna dorsalis lalu menyilang di medulla oblongata dan berakhir di cortex sensoris cerebri
    2. Untuk Nyeri/suhu saraf berjalan mulai ganglion radix posterior kemudian memotong medulla spinalis lalu naik pada traktus antero lateral sisi yang berlawanan menuju cortex sensoris cerebri

    Jaras Motoris
    • Jaras motoris adalah jaras saraf mulai dari cortex motorik cerebri sampai ke efektor (otot, kelenjar)
    • Jaras menyilang di medulla oblongata
    • Dibagi dua yaitu:
    1. UMN
    2. LMN

    Upper Motor Neuron (UMN)
    • Jaras saraf mulai dari cortex motorik cerebrum sampai cornu anterior medulla spinalis
    • Kerusakan pada jaras UMN akan menyebabkan paralisa yang bersifat spastik

    Lower Motor Neuron (LMN)
    • Jaras saraf mulai dari cornu anterior medulla spinalis sampai ke efektor
    • Kerusakan LMN akan mengakibatkan paralise yang bersifat flacid (layuh)

    Fungsi Hemisfer:
    Fungsi hemisfer kiri:
    • Fungsi motorik/sensorik tubuh kanan
    • Fungsi berbahasa
    • Berpikir matematik atau logis

    Fungsi hemisfer kanan:
    • Fungsi motorik/sensorik tubuh kiri
    • Mengendalikan ruang
    • Pemikiran abstrak/imajiner/seni

    Sinap:
    • Sinap adalah hubungan satu neuron dengan neuron lain
    • Pada motorneuron siap terjadi pada soma atau dendrit (ribuan)
    • Diantara bongkol sinap (synaptic knob) ada yang bersifat eksitasi atau inhibisi
    • Bongkol sinap disebut juga terminal knob atau terminal presinaptik

    • Antara terminal sinaptik dan soma neuron terdapat celah sinap
    • Didalam bongkol sinap terdapat vesikel sinaptik dan mitokondria
    • Vesikel sinaptik mengandung senyawa transmiter yang bila dilepaskan kedalam celah sinap dapat merangsang atau menghambat neuron
    • Mitokondria menyediakan ATP yang digunakan untuk mensintesis transmiter baru

    • Bila potensial aksi menyebar sampai bongkol sinaptik, depolarisasi membran menyebabkan pengosongan sejumlah kecil vesikel kedalam celah sinap
    • Neurotransmiter akhirnya menyebabkan eksitasi / inhibisi

    Neurotransmiter:
    • Suatu transmiter akan menyebabkan eksitasi atau inhibisi tak hanya ditentukan oleh sifat transmiter tetapi juga oleh sifat reseptor didalam membran presinaptik
    • Misal :
    • Neuron yang sama akan terangsang oleh sinap yang melepaskan asetilkolin , tetapi terinhibisi oleh sinap lain yang melepaskan glisin
    • Jadi membran saraf mengandung reseptor eksitasi untuk asetilkolin dan reseptor inhibisi untuk glisin
    • Satu neuron hanya melepaskan satu jenis transmiter

    Organisasi Sistem Saraf:
    • Tugas pokok terpenting dari sistem saraf adalah mengatur kegiatan tubuh, dengan cara:
    • Kontraksi otot rangka → untuk gerak sadar (volunter)
    • Kontraksi otot polos (didalam organ internal) →untuk gerak otonom
    • Sekresi kelenjar eksokrin dan endokrin

    Pengolahan Informasi:
    • Sebenarnya > 99 % dari semua informasi sensoris terus dibuang oleh otak karena tidak penting, misal :
    • Orang sama sekali tidak menyadari bahwa pakaianya bersentuhan dengan kulit
    • Orang tidak menyadari tekanan pada tempat duduknya
    • Tempat pengaturan penghantaran impul saraf ada pada sinap

    • Ada sinap yang menghantarkan impuls dengan mudah ada juga yang sulit
    • Juga impuls fasilitasi atau inhibisi dari daerah lain didalam sistem saraf dapat ikut mengatur kegiatan sinaptik
    • Ada neuron yang bereaksi dengan sejumlah impuls dan ada yang sedikit
    • Jadi sinap merupakan tempat melakukan tindakan selektif impuls saraf

    • Hanya sebagian kecil informasi sensoris yang menyebabkan reaksi motorik segera
    • Sebagian besar informasi sensoris digunakan untuk mengatur kegiatan motorik dimasa yang akan datang dan untuk digunakan dalam proses berpikir

    • Letak penyimpanan memori ada di korteks serebri, dan proses penyimpanan informasi disebut daya ingat
    • Pada isyarat sensoris tertentu yang melalui serangkaian sinap, sinap tersebut akan lebih cepat menghantarkan isyarat yang sama pada kesempatan berikutnya, proses ini disebut : fasilitasi

    Tingkat Sistem Saraf
    1. Tingkat Medulla Spinalis
    2. Tingkat Otak rendah (batang otak/ truncus encephali)
    3. Tingkat Otak tinggi / korteks cerebri

    Tingkat Medulla Spinalis
    • Pada dasarnya semua reaksi motorik medulla spinalis bersifat otomatis dan terjadi hampir segera sebagai reaksi terhadap isyarat sensoris yang disebut : Reflek
    • Contoh : Otot teregang tiba tiba → muscle spindle (sensoris) →medulla spinalis → motor neuron cornu anterior → Otot (efektor) → kontraksi

    Tingkat Otak Rendah
    • Hampir semua kegiatan bawah sadar tubuh diatur didalam otak yang lebih rendah, seperti :
    • Medulla Oblongata, Pons, Mesensefalon, Hipotalamus, Talamus, Serebelum, Ganglia basalis
    • Tekanan darah arteria & pernafasan → pusatnya ada di medulla oblongata & pons
    • Keseimbangan pusatnya ada di serebelum, medulla oblongata, pons, mesensefalon
    • Gerakan yang terkoordinasi antara kepala, seluruh tubuh, mata pusatnya ada di mesensefalon, serebelum, ganglia basalis
    • Reflek makanan seperti pengeluaran air liur merupakan koordinasi antara medulla oblongata, pons, mesensefalon, hipotalamus

    Tingkat Otak Tinggi:
    • Korteks serebri merupakan suatu daerah penyimpanan informasi yang luas sekali
    • Cortex serebri juga berfungsi sebagai proses berpikir
    • Bagian otak yang berfungsi menerima impuls sensoris disebut: Area sensoris
    • Bagian otak yang berfungsi mengatur impuls motoris disebut: Area motoris

    Tugas Individu
    1. Mengapa pada penderita kusta, dapat terjadi mati rasa. Apa yang diserang? Bagaimana prosesnya?
    2. Pada penderita polio, kakinya lumpuh layuh dan menjadi kecil. Apa yang diserang? Bagaimana prosesnya?
    3. Penderita yang menjalani operasi lokal, dia sadar tetapi tidak merasa sakit. Mengapa itu bisa terjadi, jelaskan?

    REFERENSI

    1. Anderson, 1999, Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia, Jones and barret Publisher Boston, Edisi Bahasa Indonesia, Jakarta, EGC
    2. Verralis, Sylvia, 1997, Anatomi dan Fisiologi Terapan dalam Kebidanan, Jakarta, EGC
    3. Pearce, 1999, Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis, Jakarta, Gramedia
    4. Landan, 1980, Essential Human Anatomy and Physiology, Scott Foresman and Company Gienview
    5. Martini, 2001, Fundamentals of Anatomy and Physiology, Prentice Hall, New Jersey
    6. Gibson, 1995, Anatomi dan Fisiologi Modern untuk Perawat, Jakarta, EGC
    7. Ganong, 1995, Review of Medical Physiology, Philadelphia
    8. Guyton, 1995, Tex Book of Medical Physiology, Philadelphia
    9. Watson, R., 2002, Anatomi dan Fisiologi untuk Perawat, edisi 10, EGC, Jakarta
    10. Kahle, W., et all, 1991, Atlas dan Buku Teks Anatomi Manusia, EGC, Jakarta
    11. Lutjen, et all, 2001, Atlas foto anatomi: struktur dan fungsi tubuh manusia, edisi 2, EGC, Jakarta

    SEL EKSITABEL

    Dr. Suparyanto, M.Kes

    Renungkan:
    1. Mengapa tangan kamu bisa bergerak?
    2. Siapa yang menyuruh?
    3. Bagaimana caranya?
    4. Bagaimana payudara bisa tumbuh?
    5. Siapa yang menyuruh?
    6. Bagaimana caranya?

    Apa Itu Sel?
    • Sel adalah unit struktural terkecil makluk hidup yang mampu mengurus kehidupannya sendiri
    • Sel manusia terdiri 75 triliun
    • Sel terdiri 2 bagian utama: nukleus dan sitoplasma
    • Antara nukleus dan sitoplasma dipisahkan oleh membran inti
    • Antara sitoplasma dan dunia luar dipisahkan oleh membran sel

    Koordinasi Kehidupan
    • Manusia termasuk organisme multiseluler
    • Sel, jaringan, organ, sistem organ
    • Pusat pengaturan sistem organ: otak
    • Otak menyampaikan pesan kepada organ melalui:
    1. Impuls listrik: via neuron
    2. Impuls kimia: via hormon

    Apa Itu Sel Eksitabel
    • Sel eksitabel adalah sel yang peka terhadap rangsang (saraf dan otot)
    • Neuron terdiri: dendrit, badan sel, akson dan neurit
    • Arah impuls dari dendrit ke neurit

    Komponen Neuron
    • Dendrit
    • Badan sel
    • Akson
    • Neurit
    • Mielin
    • Sel Schwan berfungsi sebagai regenerasi sel saraf

    Macam Rangsangan
    • Listrik
    • Kimia
    1. Asam
    2. Basa
    3. Garam
    • Fisika
    1. Suara
    2. Sinar
    3. Trauma
    4. Warna

    Komposisi Mineral Sel



    Potensial Membran:
    • Sel dalam keadaan istirahat diluar bermuatan (+) dan didalam (-) , perbebadaan potensial antara didalam sel dan diluar sel disebut potensial membran
    • Potensial membran ini akibat adanya “pompa Na-K” dimana pada pompa Na-K, mengeluarkan K dari sitoplasma keluar sel, dan memasukan Na dari CES ke dalam sel (3K, 2Na)
    • K tinggi didalam sel (CIS), Na tinggi diluar sel (CES)

    Potensial Aksi
    • Pada saat ada rangsangan saraf, rangsangan menyebabkan pompa Na-K berhenti
    • Rangsangan menyebabkan permiabilitas Na kedalam sel meningkat 5000x yang menyebabkan ion dalam sel berubah jadi positif dan diluar negatif , perubahan ion dari negatif menjadi positif disebut depolarisasi
    • Perbedaan polaritas ini menyebabkan aliran impuls yang disebut potensial aksi
    • Potensial aksi adalah perubahan mendadak seperti denyutan dalam potensial membran yang berlangsung 1/10.000 s/d 1/1.000 detik, akibat adanya beda potensial
    • Potensial aksi berpindah sepanjang jaringan saraf dan menimbulkan isyarat/impuls saraf

    Aliran Impuls



    Stadium Potensial Aksi
    Potensial aksi terdiri 2 stadium :
    1. Depolarisasi membran
    2. Repolarisasi membran

    Depolarisasi
    • Depolarisasi adalah perubahan muatan ion didalam sel dari negatif menjadi positif
    • Perubahan ion tsb akibat permiabilitas Na masuk kedalam sel yang meningkat
    • Permiabilitas Na yang meningkat akibat adanya rangsangan pada sel (listrik, zat kimia)
    • Potensial positif didalam sel disebut: Potensial Reversal

    Repolarisasi
    • Potensial Reversal (potensial positif) menyebabkan, permiabilitas Na tertutup, akibatnya hanya ion K saja yang keluar dari sel, hal tersebut menyebabkan potensial didalam sel berubah lagi dari positif menjadi negatif
    • Perubahan potensial positif menjadi negatif didalam sel disebut: Repolarisasi

    Fisiologi Neuron Otot
    • Potensial aksi menyebabkan vesikel dalam bongkol sinap mengeluarkan neurotransmiter
    • Neurotransmiter adalah zat kimia yang meneruskan impuls dari satu neuron ke neuron/badan sel lainya

    Neurotransmiter
    • Sifat neurotransmiter ada dua yaitu: eksitasi dan inhibisi
    • Neurotransmiter dapat bekerja jika sel penerima mempunyai reseptor didalam membran presinaptik
    • Misal: neuron yang sama akan terangsang(exitasi) oleh sinap yang melepaskan asetilkolin , tetapi terinhibisi (dihambat) oleh sinap lain yang melepaskan glisin
    • Jadi membran saraf mengandung reseptor eksitasi untuk asetilkolin dan reseptor inhibisi untuk glisin
    • Satu neuron hanya melepaskan satu jenis neurotransmiter
    Transmiter Eksitasi:
    • Asetilkolin: Disekresi oleh neuron di area otak, umumnya bersifat eksitasi efek inhibisi terjadi pada sistem saraf parasimpatik perifer seperti inhibisi jantung oleh nervus vagus
    • Asam Glutamat: disekresi oleh bongkol sinaptik lintasan sensorik, umumnya eksitasi
    • Zat P, disekresi oleh ujung saraf nyeri dalam substansia gelatinosa medulla spinalis, umumnya eksitasi
    • Enkefalin dan Endorfin, disekresi oleh ujung saraf medulla spinalis, batang otak, talamus dan hipotalamus, umumnya eksitasi

    Transmiter Inhibisi:
    • Norepineprin: disekresi oleh neuron di formatiorecularis batang otak dan hipotalamus, umumnya bersifat inhibisi, tapimada yang eksitasi
    • Epineprin: disekresi sedikit neuron, sifat sama dengan norepineprin
    • Dopamin: disekresi oleh neuron substansia nigra, umumnya bersifat inhibisi
    • Glisin: disekresi oleh sinap medulla spinalis, umumnya inhibisi
    • Asam Gama Amionobutirat: disekresi oleh sinap medulla spinalis, serebelum, ganglia basalis, umumnya inhibisi
    • Serotonin: disekresi oleh batang otak, penghambat lintasan nyeri di medulla spinalis

    Sinap:
    • Sinap adalah hubungan satu neuron dengan neuron lain
    • Hubungan sinap dapat: neurit – dendrit atau neurit – badan sel (tidak dapat neurit – neurit)
    • Pada motorneuron sinap terjadi pada soma atau dendrit (ribuan)
    • Diantara bongkol sinap (synaptic knob) ada yang bersifat eksitasi atau inhibisi
    • Bongkol sinap disebut juga terminal knob atau terminal presinaptik

    • Antara terminal sinaptik dan soma neuron terdapat celah sinap
    • Didalam bongkol sinap terdapat vesikel sinaptik dan mitokondria (menyediakan ATP yang digunakan untuk mensintesis transmiter baru)
    • Vesikel sinaptik mengandung neurotransmiter , yang akan terlepas jika ada potensial aksi.

    • Bila potensial aksi menyebar sampai bongkol sinaptik, depolarisasi membran menyebabkan pengosongan sejumlah kecil vesikel kedalam celah sinap
    • Neurotransmiter akhirnya menyebabkan eksitasi atau inhibisi, tergantung sifatnya

    Transmisi Sinap



    Fisiologi Otot:
    • Bagian otot yang berperan untuk gerak adalah: Aktin dan Miosin
    • Jarasnya adalah: SSP (area motoris) menyampaikan impuls lewat saraf motorik menuju motor end plate yang mengeluarkan acetil kolin kemudian merangsang Otot (aktin & miosin) dan menyebakan kontraksi

    Tonus Otot
    • Dalam keadaan sadar, otot tidak pernah istirahat, tetapi selalu berkontraksi untuk membentuk tonus yang berfungsi mempertahankan postur tubuh

    Rangsangan Tonus
    Tonus otot terjadi akibat rangsangan yang berasal dari:
    1. Spindel otot (propioseptor)
    2. Mata
    3. Organ vestibuler

    Koordinasi Gerak
    Gerak yang harmonis terjadi akibat koordinasi antara:
    1. Otot Penggerak Utama contohnya m. Bisep
    2. Otot Antagonis contohnya m. Trisep
    3. Otot Fiksasi contohnya otot depan dan bawah bahu (sekitar bahu)

    Tugas Individu
    1. Apa yang disebut sel eksitabel
    2. Jelaskan bagaimana cara otak mengkoordinasi semua sitem organ dalam tubuh
    3. Sebutkan 10 macam sistem organ dalam tubuh
    4. Apa yang dimaksud dengan potensial membran
    5. Jelaskan mengapa potensial membran bisa terjadi
    6. Apa yang dimaksud dengan Potensial aksi
    7. Apa yang menyebabkan potensial aksi
    8. Apa hubungan antara potensial aksi dengan bongkol sinaptik
    9. Apa yang dimaksud dengan neuro transmiter
    10. 1Jelaskan mengapa otot bisa bergerak
    11. Jelaskan mengapa otot geraknya bisa harmonis
    12. Apa yang disebut tonus otot dan apa gunanya 
    REFERENSI


    1. Anderson, 1999, Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia, Jones and barret Publisher Boston, Edisi Bahasa Indonesia, Jakarta, EGC
    2. Verralis, Sylvia, 1997, Anatomi dan Fisiologi Terapan dalam Kebidanan, Jakarta, EGC
    3. Pearce, 1999, Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis, Jakarta, Gramedia
    4. Landan, 1980, Essential Human Anatomy and Physiology, Scott Foresman and Company Gienview
    5. Martini, 2001, Fundamentals of Anatomy and Physiology, Prentice Hall, New Jersey
    6. Gibson, 1995, Anatomi dan Fisiologi Modern untuk Perawat, Jakarta, EGC
    7. Ganong, 1995, Review of Medical Physiology, Philadelphia
    8. Guyton, 1995, Tex Book of Medical Physiology, Philadelphia
    9. Watson, R., 2002, Anatomi dan Fisiologi untuk Perawat, edisi 10, EGC, Jakarta
    10. Kahle, W., et all, 1991, Atlas dan Buku Teks Anatomi Manusia, EGC, Jakarta
    11. Lutjen, et all, 2001, Atlas foto anatomi: struktur dan fungsi tubuh manusia, edisi 2, EGC, Jakarta

      Tuesday, March 2, 2010

      KONSEP DASAR EPIDEMIOLOGI PENYAKIT

      Dr. Suparyanto, M.Kes

      Segitiga Epidemiologi
      • Segitiga epidemiologi merupakan konsep dasar epidemiologi yang memberi gambaran tentang hubungan antara tiga faktor yg berperan dalam terjadinya penyakit dan masalah kesehatan lainnya
      • Segitiga epidemiologi merupakan interaksi antara Host (penjamu), Agent (penyebab) dan Environment (lingkungan)

      Segitiga Epidemiologi



      • Keadaan di masyarakat dikatakan ada masalah kesehatan jika terjadi ketidak seimbangan antara Host, Agent dan Environment
      • Pada saat terjadi ketidakseimbangan antara Host, Agent dan Environment akan menimbulkan penyakit pada individu atau masalah kesehatan di masyarakat

      Faktor Host
      • Adalah faktor yang melekat pada Host
      • Genetik: DM, asma, hipertensi
      • Umur: osteoporosis, campak, polio, ca servix, ca mammae
      • Jenis kelamin: ca servik, BPH, ca paru
      • Suku/ras/warna kulit: negro lebih kuat dari kulit putih
      • Fisiologis: kelelahan, kehamilan, pubertas, stres, kurang gizi
      • Imunologis: ASI, imunisasi, sakit
      • Perilaku: gaya hidup, personal higienis, HAM, rekreasi, merokok, napza

      Faktor Agent
      • Faktor yang menyebabkan penyakit atau masalah kesehatan
      • Gizi: kurang gizi, vitamin, mineral, kelebihan gizi
      • Kimia: pengawet, pewarna, asbes, cobalt, racun, antigen
      • Fisik: radiasi, trauma, suara, getaran
      • Biologis: amoeba, bakteri, jamur, riketsia, virus, plasmodium, cacing

      Faktor Environment
      • Faktor lingkungan yang mempengaruhi Host dan Agent
      • Fisik: iklim (kemarau dan hujan), geografis (pantai dan pegunungan), demografis (kota dan desa)
      • Biologis: flora dan fauna
      • Sosial: migrasi/urbanisasi, lingkungan kerja, perumahan, bencana alam, perang, banjir

      Karakteristik Host
      • Resistensi: kemampuan Host untuk bertahan hidup terhadap infeksi (agent)
      • Imunitas: kemampuan Host mengembangkan sistem kekebalan tubuh, baik didapat maupun alamiah
      • Infectiousness: potensi Host yg terinfeksi untuk menularkan penyakit yang diderita kepada orang lain

      Karakteristik Agent
      • Infektivitas: kesanggupan agent untuk beradaptasi sendiri terhadap lingkungan Host untuk mampu tinggal, hidup dan berkembang biak dalam jaringan Host
      • Patogenesitas: kesanggupan agent untuk menimbulkan reaksi patologis (penyakit) pada Host setelah infeksi
      • Virulensi: kesanggupan agent untuk menghasilkan reaksi patologis berat yang menyebabkan kematian
      • Toksisitas: kesanggupan agent untuk memproduksi toksin yang merusak jaringan Host
      • Invasivitas: kesanggupan agent untuk penetrasi dan menyebar kedalam jaringan Host
      • Antigenisitas: kesanggupan agent merangsang reaksi imunologis Host (membentuk antibodi)

      Karakteristik Environment
      • Topografi: situasi lokasi tertentu (letak/posisi/peta), baik alamiah maupun buatan manusia, yang mempengaruhi terjadinya dan penyebaran penyakit tertentu (danau, sungai, hutan, sawah)
      • Geografis: keadaan yang berhubungan dengan permukaan bumi (struktur geologi, iklim, penduduk, flora, fauna) yang mempengaruhi terjadinya dan penyebaran penyakit tertentu (tanah pasir atau tanah liat)

      Portal of Entry dan Portal of Exit
      • Portal of entry: pintu masuknya Agent kedalam Host contoh: oral, kulit, nafas, kemih
      • Portal of exit: pintu keluarnya Agent dari Host contoh: nafas, anal, darah, cairan tubuh
      • Transmisi: vektornya?
      • Bagaimana preventifnya?
      • Cuci tangan sebelum makan
      • Menolong partus memakai sarung tangan
      • Jangan meludah sembarang tempat

      Kejadian Penyakit Dalam Komunitas
      • Endemis: penyakit yang menetap pada suatu tempat, populasi dan masyarakat tertentu (minimal 3 tahun berturut-turut)
      • Epidemi: terjadi peningkatkan penyakit melebihi normal (2 x lipat sebelumnya) di masyarakat  wabah
      • Pandemi: epidemi yang terjadi pada daerah yang sangat luas (mendunia)

      Tugas Individu: buat makalah

      • Pendahuluan
      1. Latar Belakang
      2. Tujuan
      • Tinjuan Pustaka
      1. Faktor Agent
      2. Faktor Host
      3. Faktor Environment
      4. Port of entry and exit
      5. Transmisi
      • Pembahasan
      1. Pencegahan
      2. Pemberantasan
      3. Pengobatan/ Penatalaksanaan
      • Penutup
      1. Kesimpulan
      2. Saran

      Referensi
      1. Noor, 1997, Pengantar Epidemiologi Penyakit Menular, Jakarta, PT. Rineka Cipta
      2. Bustan, 2000, Epidemiologi Penyakit Tidak Menular, Jakarta, PT. Rineka Cipta
      3. Bustan, 2002, Pengantar Epidemiologi, Jakarta, PT. Rineka Cipta
      4. Notoatmojo, 2003, Ilmu Kesehatan Masyarakat, Prinsip Prinsip Dasar, Jakarta, PT. Rineka Cipta
      5. Entjang, 2000, Ilmu Kesehatan Masyarakat, Bandung, PT. Citra Aditya Bakti
      6. Vaughan, Morrow, 1993, Panduan Epidemiologi Bagi Pengelolaan Kesehatan Kabupaten, Bandung, ITB

      DIAGNOSIS SAKIT

      Dr. Suparyanto, M.Kes

      Cara Diagnosis
      • Diagnosis adalah upaya untuk menegakan atau mengetahui jenis penyakit yang diderita oleh seseorang atau maslah kesehatan yang dialami oleh masyarakat
      Cara diagnosis: (Ahlbom)
      1. Anamnesis
      2. Pemeriksaan fisik
      3. Tes Pemeriksaan

      Anamnesis
      • Anamnesis adalah upaya untuk mencari keluhan yang berupa gejala (simptom) yang dirasakan pasien
      • Berdasarkan apa yang dirasakan pasien (hasil observasi objektif pasien)
      • Contoh: sakit kepala, mual, sakit perut, linu-linu

      Pemeriksaan Fisik
      • Pemeriksaan fisik adalah upaya untuk mencari Tanda (sign) yaitu hasil pengamatan obyektif dokter/tenaga kesehatan terhadap keluhan pasien
      • Berdasarkan apa yang ditemukan tenaga kesehatan dalam pemeriksaan
      • Contoh: panas, edem, memar, kembung

      Test Pemeriksaan
      • Test pemeriksaan adalah upaya untuk membantu menegakan diagnosis dengan Pemeriksaan laboratorium atau alat lain (USG, EKG, Rontgen)
      • Contoh: pemeriksaan darah lengkap, widal, foto dada, USG abdomen

      Beda Diagnosis Sakit antara UKM dan UKP



      Definisi Kasus
      • Kasus adalah mereka yang menderita suatu penyakit (UKP) atau masalah kesehatan (UKM)
      • Upaya diagnosis adalah upaya mendefinisikan jenis penyakit atau masalah kesehatan
      • Pada UKP, diagnosis perlu untuk intervensi Terapi
      • Pada UKM, diagnosis perlu untuk strategi pemberantasan atau pencegahan penyakit di masyarakat

      Untuk mendefinisikan kasus perlu kriteria diagnosis:
      1. Pemisahan sehat dan sakit
      2. Status sakit: mungkin (possibel); barangkali (probable); pasti (definitif)
      3. Status sakit: ringan; sedang; berat
      4. Stadium penyakit: stadium I; II; III dan IV

      Contoh Kasus TB
      • Diagnosis Possible jika ada keluhan batuk berdahak > 2 minggu
      • Diagnosis Probable jika ada respon dengan pengobatan anti TB atau gejala batuk berdahak warna kuning kehijauan dan batuk darah (hematemisis)
      • Diagnosis Definitif jika ditemukan BTA dalam sputum

      Apa diagnosis possible, probable dan definitif untuk kasus: Polio, kusta, DBD, HIV/AIDS

      Status Kesehatan
      1. The Traditional (Ecological) Model
      2. The Health Field Concept (H.L. Laframboise, 1973)
      3. The Environment of Health (Hendrik L. Blum, 1974)

      The Traditional (Ecological) Model



      • Status kesehatan menurut model ekologi adalah hasil interaksi antara Host, Agent & Environment
      • Status kesehatan Sehat, jika hasil interaksi ketiga faktor dalam keadaan seimbang
      • Status kesehatan Sakit jika hasil interaksi negatif atau ada gangguan

      Gangguan Keseimbangan
      • Kemampauan agent meningkat misal virulensi bertambah atau resistensi bertambah
      • Kepekaan Host meningkat misal gizi turun, kecapekan, kekebalan tubuh menurun

      • Pergeseran lingkungan yang meningkatkan kemampuan agent misal lingkungan kotor, hujan
      • Perubahan lingkungan yang meningkatkan kepekaan Host misal kepadatan penduduk, hujan, kemarau

      The Health Field Concept (Laframboise)



      • Status Kesehatan Sehat menurut Model Laframboise jika semua faktor mendukung
      • Status Kesehatan Sakit, jika ada salah satu atau lebih faktor tidak mendukung

      The Environment of Health (Blum)



      • Status Kesehatan Sehat menurut Blum, jika semua faktor mendukung
      • Status Kesehatan Sakit, jika satu atau lebih faktor tidak mendukung
      • Bedanya dengan konsep Lamframboise adalah pada model Blum telah ditentukan faktor prioritas terhadap faktornya
      Prioritas faktor:
      1. Lingkungan
      2. Perilaku
      3. Pelayanan kesehatan
      4. Keturunan

      Referensi
      1. Noor, 1997, Pengantar Epidemiologi Penyakit Menular, Jakarta, PT. Rineka Cipta
      2. Bustan, 2000, Epidemiologi Penyakit Tidak Menular, Jakarta, PT. Rineka Cipta
      3. Bustan, 2002, Pengantar Epidemiologi, Jakarta, PT. Rineka Cipta
      4. Notoatmojo, 2003, Ilmu Kesehatan Masyarakat, Prinsip Prinsip Dasar, Jakarta, PT. Rineka Cipta
      5. Entjang, 2000, Ilmu Kesehatan Masyarakat, Bandung, PT. Citra Aditya Bakti
      6. Vaughan, Morrow, 1993, Panduan Epidemiologi Bagi Pengelolaan Kesehatan Kabupaten, Bandung, ITB

      SCREENING / SKRINING / PENYARINGAN

      Dr. Suparyanto, M.Kes

      Apa Itu Screening
      • Penyaringan atau screening adalah upaya mendeteksi/ mencari penderita dengan penyakit tertentu dalam masyarakat dengan melaksanakan pemisahan berdasarkan gejala yang ada atau pemeriksaan laboratorium untuk memisahkan yang sehat dan yang kemungkinan sakit, selanjutnya diproses melalui diagnosis dan pengobatan

      Tujuan Screening
      • Mengetahui diagnosis sedini mungkin agar cepat terapi nya
      • Mencegah meluasnya penyakit
      • Mendidik masyarakat melakukan general check up
      • Memberi gambaran kepada tenaga kesehatan tentang suatu penyakit (waspada mulai dini)
      • Memperoleh data epidemiologis, untuk peneliti dan klinisi

      Bentuk Pelaksanaan Screening
      • Mass screening adalah screening secara masal pada masyarakat tertentu
      • Selective screening adalah screening secara selektif berdasarkan kriteria tertentu, contoh pemeriksaan ca paru pada perokok; pemeriksaan ca servik pada wanita yang sudah menikah
      • Single disease screening adalah screening yang dilakukan untuk satu jenis penyakit
      • Multiphasic screening adalah screening yang dilakukan untuk lebih dari satu jenis penyakit contoh pemeriksaan IMS; penyakit sesak nafas

      Kriteria Program Penyaringan
      • Penyakit yang dipilih merupakan masalah kesehatan prioritas
      • Tersedia obat potensial untuk terapi nya
      • Tersedia fasilitas dan biaya untuk diagnosis dan terapinya nya
      • Penyakit lama dan dapat dideteksi dengan test khusus
      • Screeningnya memenuhi syarat sensitivitas dan spesivisitas
      • Teknik dan cara screening harus dapat diterima oleh masyarakat
      • Sifat perjalanan penyakit dapat diketahui dengan pasti
      • Ada SOP tentang penyakit tersebut
      • Biaya screening harus seimbang (lebih rendah) dengan resiko biaya bila tanpa screening
      • Penemuan kasus terus menerus

      Contoh Screening
      • Mammografi untuk mendeteksi ca mammae
      • Pap smear untuk mendeteksi ca cervix
      • Pemeriksaan Tekanan darah untuk mendeteksi hipertensi
      • Pemeriksaan reduksi untuk mendeteksi deabetes mellitus
      • Pemeriksaan urine untuk mendeteksi kehamilan
      • Pemeriksaan EKG untuk mendeteksi Penyakit Jantung Koroner

      Apa Itu Validitas
      • Validitas adalah kemampuan dari test penyaringan untuk memisahkan mereka yang benar sakit terhadap yang sehat
      • Besarnya kemungkinan untuk mendapatkan setiap individu dalam keadaan yang sebenarnya (sehat atau sakit)
      • Validitas berguna karena biaya screening lebih murah daripada test diagnostik

      Komponen Validitas
      • Sensitivitas adalah kemampuan dari test secara benar menempatkan mereka yang positif betul-betul sakit
      • Spesivicitas adalah kemampuan dari test secara benar menempatkan mereka yang negatif betul-betul tidak sakit

      Hasil Screening



      Rumus
      Sensitivitas: TP / (TP + FN)

      Spesivisitas: TN / (TN + FP)

      Contoh Soal


      Hitung berapa sensitivitas dan spesivisitas test diatas?

      Latihan:
      1. Hasil pemeriksaan screening terhadap 5000 orang PSK dengan pemeriksaan HIV cara dipstik didapatkaan hasil sebagai berikut: 100 orang hasil test positif, diantaranya dikonfirmasi dengan Western Blot positif 20, untuk yang dipstik negatif positif 1. Hitung sensitivitas dan spesificitas alat tersebut 

      1. Pemeriksaan Hb terhadap 1000 MHS D3 Kebidanan Stikes Sehat dengan cara Sahli didapatkan hasil yang anemia 400 MHS, konfirmasi dengan alat HB meter ternyata yang anemia 300 MHS, yang tidak anemia dengan cara Sahli didapatkan 30 MHS anemia. Hitung efektivitas dan spesifisitasnya

      Apa Itu Reliabilitas
      • Reliabilitas adalah kemampuan suatu test memberikan hasil yang sama/ konsisten bila test diterapkan lebih dari satu kali pada sasaran yang sama dan kondisi yang sama
      Ada 2 faktor yg mempengaruhi;
      1. Variasi cara screening: stabilitas alat; fluktuasi keadaan (demam)
      2. Kesalahan/perbedaan pengamat: pengamat beda/ pengamat sama dengan hasil beda

      Upaya Meningkatkan Reliabilitas
      • Pembakuan/standarisasi cara screening
      • Peningkatan ketrampilan pengamat
      • Pengamatan yg cermat pada setiap nilai pengamatan
      • Menggunakan dua atau lebih pengamatan untuk setiap pengamatan
      • Memperbesar klasifikasi kategori yang ada, terutama bila kondisi penyakit juga bervariasi/ bertingkat

      Bentuk mScreening
      • Screening Seri adalah screening yang dilakukan 2 kali penyaringan dan hasilnya dinyatakan positif jika hasil kedua penyaringan tersebut positif
      • Bentuk screening seri akan menghasilkan positive palsu rendah, negative palsu meningkat
      • Screenig paralel adalah screening yang dilakukan 2 kali penyaringan dan hasilnya dinyatakan positif jika hasil salah satu hasil penyaringan adalah positive
      • Bentuk screening paralel akan menghasilkan positive palsu meningkat; negative palsu lebih rendah

      Predictive Value
      • Nilai Prediktif adalah besarnya kemungkinan sakit terhadap suatu hasil tes
      • Nilai prediktif positive adalah porsentase dari mereka dengan hasil tes positive yang benar benar sakit
      • Nilai prediktif negative adalah porsentase dari mereka dengan hasil tes negative yang benar benar tidak sakit

      Rumus predictive Value:

      PPV: TP / (TP + FP)

      NPV: TN / (TN + FN)

      Latihan:
      • Pemeriksaan terhadap 500 Napi untuk penyakit HIV/AIDS dengan cara ELISA didapat hasil 50 Napi positif diantaranya yang benar menderita HIV 5 Napi, dan diantara yang negative ada 1 Napi yang menderita HIV. Hitung PPV dan NPV

      • Pemeriksaan kehamilan dengan tes urine terhadap 100 Ibu didapatkan hasil 40 ibu positif, ternyata yang benar hamil 25, sedang yang hasil urine negatif terdapat 2 ibu yang benar hamil. Hitung PPV dan NPV

      Derajat Screening (Yied)
      • Yied adalah kemungkinan menjaring mereka yang sakit tanpa gejala melalui screening, sehingga dapat ditegakan diagnosis pasti serta pengobatan dini
      Faktor yg mempengaruhi:
      1. Derajat sensitivitas tes
      2. Prevalensi penyakit
      3. Frekuensi penyaringan
      4. Konsep sehat masyarakat sehari-hari

      Referensi
      1. Noor, 1997, Pengantar Epidemiologi Penyakit Menular, Jakarta, PT. Rineka Cipta
      2. Bustan, 2000, Epidemiologi Penyakit Tidak Menular, Jakarta, PT. Rineka Cipta
      3. Bustan, 2002, Pengantar Epidemiologi, Jakarta, PT. Rineka Cipta
      4. Notoatmojo, 2003, Ilmu Kesehatan Masyarakat, Prinsip Prinsip Dasar, Jakarta, PT. Rineka Cipta
      5. Entjang, 2000, Ilmu Kesehatan Masyarakat, Bandung, PT. Citra Aditya Bakti
      6. Vaughan, Morrow, 1993, Panduan Epidemiologi Bagi Pengelolaan Kesehatan Kabupaten, Bandung, ITB

      Monday, March 1, 2010

      EPIDEMIOLOGI DESKRIPTIF

      Dr. Suparyanto, M.Kes

      Apa Itu Epidemiologi Deskriptif
      • Epidemiologi deskriptif adalah ilmu yang menggambarkan penyebaran/distribusi penyakit yang terjadi di masyarakat berdasarkan variabel epidemiologi yang mempengaruhinya.
      • Variabel epidemiologi tersebut dikelompokan menurut: orang (person), tempat (place) dan waktu (time)

      Variabel Orang/ Person:
      • Meliputi: umur, jenis kelamin, kelas sosial, pekerjaan, etnik/suku, status perkawinan, besarnya keluarga, paritas

      Variabel Templat/ Place:
      • Meliputi: alamat, RT, RW, dusun, desa, kecamatan, kabupaten, propinsi, pulau, negara. Kota, desa, pantai, pegunungan, hutan, rawa, Pasar, mal, jalan raya, stasiun, tempat wisata, hotel

      Variabel Waktu/Time:
      • Jam, hari, bulan, tahun, tanggal, Musim penghujan, kemarau, Terus menerus, berkala, insidentil, Musim buah, perayaan, upacara

      Cara Penyajian Data
      1. Narasi
      2. Tabel Distribusi
      3. Tabulasi Silang
      4. Diagram/Grafik/Gambar

      Komponen tabel:
      1. Ada judul: yang memuat What, Where dan When
      2. Ada Badan Tabel
      3. Ada Sumber: nama (nama pengarang, institusi), tahun

      Contoh Judul:
      Tabel 1.2: Distribusi tenaga kesehatan menurut pendidikan di Puskesmas Jombang Tahun 2010

      Contoh Sumber:
      Sumber: suparyanto, 2010

      Contoh Badan Tabel Distribusi/frekuensi:




      Contoh Badan Tabel Silang: colum


      Contoh Badan Tabel Silang: raw

      Contoh Badan Tabel Silang: total



      Histogram:
      Untuk grafik, gambar, cara penulisan judul ada dibawah grafik, baru sumbernya



      Latihan soal:



      Tugas Individu:
      Buat table frekuensi berdasarkan:
      1. Umur dengan interval 10 tahun
      2. Pendidikan
      3. Status perkawinan
      4. Kinerja

      Buat tabel silang antara:
      1. Pendidikan dan status perkawinan (raw)
      2. Umur (kelas interval 10) dan kinerja (colum)
      3. Status perkawinan dan kinerja (total)

      Buat Grafik Histogram
      1. Pendidikan
      2. Status perkawinan
      3. Kinerja

      Waktu pengerjaan 1 minggu, ditulis dalam kertas HVS atau folio bergaris

      Referensi
      1. Noor, 1997, Pengantar Epidemiologi Penyakit Menular, Jakarta, PT. Rineka Cipta
      2. Bustan, 2000, Epidemiologi Penyakit Tidak Menular, Jakarta, PT. Rineka Cipta
      3. Bustan, 2002, Pengantar Epidemiologi, Jakarta, PT. Rineka Cipta
      4. Notoatmojo, 2003, Ilmu Kesehatan Masyarakat, Prinsip Prinsip Dasar, Jakarta, PT. Rineka Cipta
      5. Entjang, 2000, Ilmu Kesehatan Masyarakat, Bandung, PT. Citra Aditya Bakti
      6. Vaughan, Morrow, 1993, Panduan Epidemiologi Bagi Pengelolaan Kesehatan Kabupaten, Bandung, ITB

      WABAH - OUTBREAK

      Dr. Suparyanto, M.Kes

      Apa Itu Wabah:
      • Menurut UU : 4 Tahun 1984 Tentang Wabah Penyakit Menular
      • Wabah adalah kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi dari pada keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka.

      Apa Itu KLB
      • Kejadian Luar Biasa (KLB) adalah timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan/kematian yang bermakna secara epidemiologis pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu

      Kriteria KLB
      1. Timbulnya suatu penyakit/menular yang sebelumnya tidak ada/tidak dikenal.
      2. Peningkatan kejadian penyakit/kematian terus-menerus selama 3 kurun waktu berturut-turut menurut jenis penyakitnya (jam, hari, minggu, bulan, tahun)
      3. Peningkatan kejadian penyakit/kematian, 2 kali atau lebih dibandingkan dengan periode sebelumnya (jam, hari, minggu, bulan, tahun).
      4. Jumlah penderita baru dalam satu bulan menunjukkan kenaikan dua kali lipat atau lebih bila dibandingkan dengan angka rata-rata perbulan dalam tahun sebelumnya.
      5. Angka rata-rata per bulan selama satu tahun menunjukkan kenaikan dua kali lipat atau lebih dibanding dengan angka rata-rata per bulan dari tahun sebelumnya.
      6. Case Fatality Rate dari suatu penyakit dalam suatu kurun waktu tertentu menunjukan kenaikan 50% atau lebih, dibanding dengan CFR dari periode sebelumnya.
      7. Propotional Rate (PR) penderita baru dari suatu periode tertentu menunjukkan kenaikan dua kali atau lebih dibanding periode yang sama dan kurun waktu/tahun sebelumnya.
      8. Beberapa penyakit khusus : Kholera, "DHF/DSS", (a)Setiap peningkatan kasus dari periode sebelumnya (pada daerah endemis). (b)Terdapat satu atau lebih penderita baru dimana pada periode 4 minggu sebelumnya daerah tersebut dinyatakan bebas dari penyakit yang bersangkutan.
      9. Beberapa penyakit yg dialami 1 atau lebih penderita: Keracunan makanan, Keracunan pestisida.

      Klasifikasi KLB menurut Penyebab:
      1. Toksin
      2. Infeksi
      3. Toksin Biologis
      4. Toksin Kimia

      Toxin
      1. Entero toxin, misal yang dihasilkan oleh Staphylococus aureus, Vibrio, Kholera, Eschorichia, Shigella.
      2. Exotoxin (bakteri), misal yang dihasilkan oleh Clostridium botulinum, Clostridium perfringens.
      3. Endotoxin.

      Infeksi
      1. Virus.
      2. Bacteri.
      3. Protozoa.
      4. Cacing.

      Toxin Biologis
      1. Racun jamur.
      2. Alfatoxin.
      3. Plankton
      4. Racun ikan
      5. Racun tumbuh-tumbuhan

      Toxin Kimia
      1. Zat kimia organik: logam berat (seperti air raksa, timah), logam-logam lain cyanida.
      2. Zat kimia organik: nitrit, pestisida.
      3. Gas-gas beracun: CO, CO2, HCN, dan sebagainya

      Sumber KLB
      • Manusia misal: jalan napas, tenggorokan, tangan, tinja, air seni, muntahan, seperti : Salmonella, Shigella, Staphylococus, Streptoccocus, Protozoa, Virus Hepatitis.
      • Kegiatan manusia, misal : Toxin biologis dan kimia (pembuangan tempe bongkrek, penyemprotan, pencemaran lingkungan, penangkapan ikan dengan racun).
      • Binatang seperti : binatang piaraan, ikan, binatang mengerat, contoh : Leptospira, Salmonella, Vibrio, Cacing dan parasit lainnya, keracunan ikan/plankton
      • Serangga (lalat, kecoa, dan sebagainya) misal : Salmonella, Staphylokok, Streptokok.
      • Udara, misal : Staphyloccoccus, Streptococcus, Virus, pencemaran udara.
      • Permukaan benda-benda/alat-alat misal : Salmonella.
      • Air, misalnya : Vibrio Cholerae, Salmonella.
      • Makanan/minuman, misal : keracunan singkong, jamur, makanan dalam kaleng.

      Penyakit Wabah
      1. Kholera
      2. Pes
      3. Demam kuning
      4. Demam bolak-balik
      5. Tifus bercak wabah
      6. Demam Berdarah Dengue
      7. Campak
      8. Polio
      9. Difteri
      10. Pertusis
      11. Rabies
      12. Malaria
      13. Influensa
      14. Hepatitis
      15. Tipus perut
      16. Meningitis
      17. Encephalitis
      18. Anthrax
      19. SARS

      Kholera:
      • Diare mendadak disertai muntah-muntah.
      • Tinja mengucur seperti air sehingga dalam waktu singkat tubuh kekurangan cairan ( dehidrasi) .
      • Pemeriksaan laboratorium pada najis/muntahan ditemukan adanya kuman kholera (Vibrio cholera) dan dalam darah terdapat zat antinya.

      Pes:
      • Demam tinggi mendadak,
      • Pembengkakan kelenjar (bubo) dilipat paha atau ketiak, atau leher,
      • Batuk darah mendadak (tanpa didahului sakit batuk).
      • Pemeriksaan laboratorium pada darah, cairan bubo, sputum atau usap tenggorok menunjukkan adanya kuman pes (Yersinia pestis).

      Demam Kuning
      • Demam mendadak,
      • Kulit kuning, sakit kepala, lemah/lesu, mual, muntah, denyut nadi lambat dan lemah,
      • Seringkali disertai dengan pendarahan berupa mimisan, perdarahan mulut, muntah darah, berak darah.
      • Pemeriksaan laboratorium pada darah menunjukkan adanya virus demam kuning atau zat antinya.

      Demam Bolak Balik
      • Demam 2-9 hari diikuti masa tanpa demam 3-4 hari yang berulang-ulang 2-10 kali.
      • Kadang-kadang selama masa demam ditemukan bercak-bercak merah di kulit.
      • Pemeriksaan laboratorium pada darah menunjukkan adanya kuman demam bolak-balik (Borellia recurrentis).

      Tifus Bercak Wabah
      • Demam ± 2 minggu, sakit kepala, menggigil, badan lemah, kadang-kadang disertai bercak merah menimbul (erupsi macular) pada kulit.
      • Pemeriksaan laboratorium pada darah menunjukkan adanya zat anti terhadap tifus bercak wabah (Rickettsia prowazeki).

      DBD
      • Demam mendadak 2-7 hari tanpa penyebab yang jelas,
      • Lemah/lesu atau gelisah, nyeri ulu hati, hati membesar dan disertai pendarahan di kulit berupa bintik merah (petechiae), ruam (purpura), atau lebam (ecchymosis) .
      • Kadang­kadang berak darah, muntah darah, kesadaran menurun, dan renjatan (shock).
      • Pemeriksaan laboratorium pada darah menunjukkan adanya pengentalan darah (hemokonsentrasi) dan kekurangan sel pembeku darah (trombosit), dan ditemukan virus dengue atau zat antinya (antibodi).

      Campak
      • Panas tinggi, sakit kepala, batuk pilek dan conjunctivitis fotophoby yang berakhir lebih kurang setelah 3-7 hari.
      • Masa timbulnya bercak-bercak merah (rash) pada kulit sesudah kira-kira 3 hari panas. Mula-mula timbul pada belakang telinga menyebar ke seluruh muka, dada dan anggota badan lainnya.
      • Bercak bertahan selama 4-6 hari, bila tidak ada komplikasi panas akan turun setelah timbul bercak.
      • Sebelum bercak timbul ada "koplik spot" yaitu bercak seperti putih garam pada mukosa (selaput lendir) pipi.
      • Pada fase penyembuhan bekas bercak menjadi kehitaman (hiperpigmentasi) .
      • Pemeriksaan laboratorium pada lendir conjungtiva dan tenggorokan menunjukkan adanya virus campak, dan pada darah terdapat virus campak atau zat antinya.

      Polio:
      • Panas, ingusan, batuk, lemas, muntah, diare.
      • Panas menurun kemudian timbul kelemahan/kelumpuhan anggota gerak (lengan/kaki) , biasanya asimetris.
      • Pemeriksaan laboratorium pada najis atau lendir tenggorokan menunjukan adanya virus polio dan pada darah terdapat zat antinya.

      Difteri
      • Panas lebih kurang 38 derajat celcius.
      • Adanya pseudo­membrane putih keabu-abuan, tak mudah lepas dan mudah berdarah. Letak pseudomembrane bisa di faring, laring atau tonsil,
      • Sakit waktu menelan, leher membengkak seperti leher sapi (bullneck) disebabkan karena pembengkakan kelenjar leher dan sesak napas disertai bunyi (stridor) .
      • Pemeriksaan laboratorium pada jaringan luka (lesi) menunjukkan adanya kuman difteri.

      Pertusis
      • Batuk beruntun, pada akhir batuk anak menarik nafas panjang dan terdengar, suara "hup" (whoop) khas, biasanya disertai muntah.
      • Batuk lebih sering pada malam hari. Anak mengeluarkan riak liat dan kental. Akibat batuk yang berat dapat terjadi perdarahan conjungtiva atau edema periorbital.
      • Lamanya batuk 1-3 bulan (sering disebut batuk 100 hari).
      • Pemeriksaan laboratorium pada lendir tenggorokan menunjukkan adanya kuman pertusis (Bordetella pertussis).

      Rabies
      • Demam tinggi, sakit kepala hebat, kelumpuhan mulai dari tungkai menjalar ke atas, sulit menelan, takut air (hydro­phobia), sulit bernapas, kesadaran menurun,
      • Terjadi beberapa minggu sampai satu tahun setelah digigit anjing, kucing, kera, yang menderita rabies.
      • Pemeriksaan laboratorium pada otak dan kelenjar air liur hewan yang menggigit, dan pada air liur, air mata serta jaringan otak penderita menunjukkan adanya virus Rabies.

      Malaria
      • Demam berkeringat-dingin, menggigil, yang berulang setiap I-3 hari, sakit kepala hebat, badan lemah, muka pucat, sering disertai mual, muntah dan nyeri otot.
      • Kadang­kadang limpa membesar, kejang dan kesadaran menurun.
      • Pemeriksaan laboratorium pada darah menunjukkan adanya parasit malaria (Plasmodium)

      Influenza
      • Demam, perasaan dingin dan ingusan 1-6 hari, seringkali disertai sakit kepala, sakit pada otot-otot clan batuk.
      • Pemeriksaan laboratorium pada darah menunjukkan adanya virus influenza atau zat antinya.

      Hepatitis
      • Demam badan lemas, mual, selaput mata kuning, air seni berwarna seperti air teh kental.
      • Pemeriksaan laboratorium pada darah/tinja menunjukkan adanya virus Hepatitis dan pada darah juga terdapat antigen virus tersebut

      Tifus Abdominalis
      • Demam tinggi terus menerus 1 minggu atau lebih, badan lemah, sakit kepala, sembelit (obstipasi) kadang-kadang diare, permukaan lidah kotor dan pinggirnya merah, disertai dengan kesadaran menurun.
      • Pemeriksaan laboratorium pada darah, air seni, tinja atau sumsum tulang menunjukkan kuman Salmonella typhi dan pada darah terdapat adanya kenaikan kadar zat antinya

      Meningitis
      • Panas, kaku kuduk, kejang-kejang, kesadaran menurun reflek patologis positif.
      • Pemeriksaan laboratorium pada cairan serebrospinal menunjukkan adanya kuman/virus penyebab meningitis

      Enchephalitis
      • Panas tinggi, kejang-kejang, kesadaran menurun dan reflek patologis positif.
      • Pemeriksaan laboratorium pada darah/cairan serebrospinal menunjukkan adanya virus/kuman atau zat antinya

      Anthrax
      Tipe Kulit :
      • Kulit melepuh (vesikel) tanpa sebab yang jelas atau tukak (ulcus) dengan pinggir menonjol dan bagian tengahnya berwarna merah tua-kehitaman, kadang-kadang disertai demam tinggi.
      Tipe gastrointestinal :
      • Sakit perut hebat yang terjadi beberapa jam sesudah makan daging hewan yang menderita penyakit anthrax.
      • Pemeriksaan laboratorium pada darah, lesi di kulit, tinja/ rektal swab, bangkai hewan (tulang, daging, alat organ dalam), dan tanah yang tercemar hewan penderita anthrax menunjukkan adanya kuman anthrax (Bacillus Anthracis).

      Referensi
      1. Noor, 1997, Pengantar Epidemiologi Penyakit Menular, Jakarta, PT. Rineka Cipta
      2. Bustan, 2000, Epidemiologi Penyakit Tidak Menular, Jakarta, PT. Rineka Cipta
      3. Bustan, 2002, Pengantar Epidemiologi, Jakarta, PT. Rineka Cipta
      4. Notoatmojo, 2003, Ilmu Kesehatan Masyarakat, Prinsip Prinsip Dasar, Jakarta, PT. Rineka Cipta
      5. Entjang, 2000, Ilmu Kesehatan Masyarakat, Bandung, PT. Citra Aditya Bakti
      6. Vaughan, Morrow, 1993, Panduan Epidemiologi Bagi Pengelolaan Kesehatan Kabupaten, Bandung, ITB

      KONSEP DASAR TIMBULNYA PENYAKIT

      Dr. Suparyanto, M.Kes

      Kronologis Konsep Sakit
      • Konsep terjadinya penyakit/sakit didasarkan pada adanya gangguan makluk halus atau karena kemurkaan dari yang maha pencipta
      • Hipocrates: timbulnya penyakit disebabkan oleh pengaruh lingkungan yang meliputi air, udara, tanah, cuaca
      • Teori masyarakat Cina, timbulnya penyakit karena adanya gangguan keseimbangan cairan dalam tubuh manusia (teori humoral).
      • Dalam teori ini dikatakan bahwa dalam tubuh manusia ada empat macam cairan yaitu cairan putih, kuning, merah dan hitam, bila terjadi gangguan keseimbangan akan menimbulkan penyakit.
      • Terjadinya penyakit akibat terjadinya pembusukan sisa makluk hidup sehingga menimbulkan pengotoran udara dan lingkungan sekitarnya
      • Setelah ada mikroskop, terjadinya penyakit diketahui disebabkan jasad renik, gangguan hormonal, imunitas dan sebagainya
      • Pengertian penyebab penyakit dalam epidemiologi berkembang dari rantai sebab akibat ke suatu proses kejadian penyakit, yaitu proses interaksi antara manusia (Host) dengan berbagai sifatnya (biologis, filosofis, psikologis, sosiologis, antropologis) dengan penyebab (Agent) serta dengan lingkungan (Environment).
      • Dalam teori keseimbangan, maka interaksi antara ketiga unsur tersebut harus dipertahankan keadaan keseimbanganya, dan bila terjadi gangguan keseimbangan antara ketiganya, akan menyebabkan timbulnya penyakit tertentu/ masalah kesehatan

      Unsur Penyebab Sakit (Agent)
      Unsur penyebab penyakit dapat dibedakan menjadi 2 bagian utama:
      1. Penyebab/ kausal primer: Agent penyebab langsung terjadinya penyakit
      2. Penyebab/ kausal skunder:Agent penyebab tidak langsung terjadinya penyakit, namun ikut memperparah sakit

      Agent Causal Primer
      • Biologis: virus, bakteri, jamur, cacing, insekta
      • Nutrisi: protein, lemak, karbohidrat, vitamin, mineral dan air
      • Kimiawi: obat, racun, zat pengawet, zat warna
      • Fisika: panas, iris, tikam
      • Psikis: stress, depresi

      Agent Causal Scunder
      • Merupakan unsur pembantu/penambah parah dalam proses kejadian penyakit dan ikut dalam proses kejadian sebab akibat terjadinya penyakit.
      • Misal penyakit TB penyebab primer M. tuberkulosa, penyebab skundernya, kurang gizi, sanitasi jelek, kepadatan penduduk

      Apa Causa-nya?
      1. Diabetes mellitus
      2. Mastitis
      3. Pneumonia
      4. Asfiksia
      5. Tetanus neonatorum
      6. Genoblenoroe
      7. Bumil KEK

      Unsur Penjamu (Host)
      Unsur penjamu (host) terutama manusia dapat dibagi dalam dua kelompok sifat utama:
      1. Sifat biologis
      2. Sifat sosial

      Sifat Biologis Host
      • Umur, jenis kelamin, ras dan keturunan
      • Bentuk anatomis tubuh
      • Fungsi fisiologis tubuh
      • Imunitas tubuh
      • Kemampuan interaksi antara host dan agent secara biologis
      • Status gizi dan status kesehatan

      Sifat Sosial Host
      • Kelompok etnik, adat, kebiasaan, agama, hubungan keluarga, hubungan sosial
      • Kebiasaan hidup, pola hidup

      Unsur Lingkungan
      Environment dibedakan 3 macam:
      1. Lingkungan Biologi
      2. Lingkungan Fisika
      3. Lingkungan Sosial

      Lingkungan Biologi
      • Segala flora dan fauna yang ada disekitar kita, sangat berpengaruh dan memegang peranan penting dalam interaksi antara host dan agent
      • Pengaruh lingkungan biologi dapat mendukung Host atau agent maupun merusak

      Lingkungan Fisika
      • Udara, keadaan cuaca, geografis dan geologis
      • Air, baik sebagai sumber kehidupan, pencemar
      • Unsur kimia, radiasi, yang mencemari udara, air, tanah

      Lingkungan Sosial
      • Sistem hukum, administrasi, politik, ekonomi
      • Organisasi masyarakat
      • Sistem pelayanan kesehatan, kebiasaan hidup
      • Kepadatatan penduduk, kepadatan rumah tangga

      Interaksi Host, Agent dan Environment
      • Antara ketiga komponen (host, agent dan environment) terdapat keseimbangan yang disebut keseimbangan ekologi.
      • Mengingat kompleknya interaksi antara hospes, penyebab dan lingkungan tadi, maka tidak ada satupun jenis penyakit yang hanya disebabkan oleh satu faktor saja, selalu ada beberapa faktor yang saling berinteraksi dan akhirnya menimbulkan penyakit (mulitiple causation of disease).

      Tiga Konsep Model Sakit
      1. Segitiga Epidemiologi (The Epidemiologic Triangle)
      2. Jaring-jaring sebab akibat (The web of causation)
      3. Roda (The Wheel)

      PENGANTAR EPIDEMIOLOGI

      Dr. Suparyanto, M.Kes

      Apa Itu Epidemiologi
      • Epi = pada
      • Demos = rakyat / masyarakat
      • Logos = ilmu
      • Epidemi = wabah
      • Ilmu yg mempelajari sesuatu (penyakit) yang berhubungan dengan masyarakat
      • Ilmu yang mempelajari tentang distribusi penyakit dan faktor yang menyebabkan penyakit tersebut di masyarakat
      • Ilmu yang mempelajari penyebaran penyakit dan faktor yang menentukan terjadinya penyakit pada manusia (MacMahon dan Pugh)

      • Epidemiologi awalnya diartikan sebagai ilmu yang mempelajari epidemi (wabah)
      • Wabah adalah berjangkitnya penyakit menular di masyarakat yang berjalan sangat cepat dan menimbulkan banyak kesakitan/kematian

      Sejarah Epidemiologi
      • Pada abad ke-14, terjadi bencana penyakit menular (wabah) yang melanda Eropa.
      • Penyakit tersebut dinamakan “Black Death” karena para korban yang terserang, tubuhnya menjadi hitam bila meninggal.
      • Penyakit tersebut amat ganas, sehingga banyak orang yang meninggal dalam waktu singkat.
      • Sejak saat itu setiap bencana penyakit yang timbul pada penduduk dinamakan epidemi (wabah)

      • Mula-mula istilah epidemiologi hanya dipergunakan untuk mempelajari terjadinya wabah penyakit menular yang ganas
      • Akhir-akhir ini epidemiologi juga dipakai untuk mempelajari penyakit tidak menular, seperti penyakit kanker, penyakit jantung bahkan kecelakaan lalu lintas.
      • Apa yang diartikan dengan ”epidemi” dalam pengertian epidemiologi yang baru, bukan hanya wabah penyakit menular saja, tetapi juga masalah lain yang terjadi di masyarakat.

      • Bila kita mempelajari sejarah ilmu kedokteran, maka konsep epidemiologi sudah lama dikenal.
      • Hippocrates, kira-kira 2000 tahun yang lalu, dalam karangannya yang berjudul: ”On airs, waters and places” sudah mengemukakan bahwa penyakit ada kaitannya dengan lingkungan dimana orang itu berada

      Macam Epidemiologi
      1. Epidemiologi Deskriptif: epidemiologi yang hanya menggambarkan besarnya masalah kesehatan yg terjadi di masyarakat
      2. Epidemiologi Analitik: epidemiologi yang selain menggambarkan besarnya masalah kesehatan, juga mencari faktor yg menyebabkan masalah kesehatan tersebut di masyarakat

      Epidemiologi Deskriptif
      • Besarnya masalah kesehatan digambarkan dalam 3 variabel epidemiologi: orang (person), tempat (place) dan waktu (time)
      • Cara menggambarkan masalah kesehatan dapat dalam bentuk: narasi, tabel, grafik atau gambar/peta

      Epidemiologi Analitik
      • Epidemiologi analitik selain menggambarkan besarnya masalah dengan 3 variabel epidemiologi juga mencari faktor penyebab masalah kesehatan tsb
      • Cara mencari faktor penyebab dengan melakukan penelitian

      Langkah Penelitian
      • Masalah à kajian teori à hipotesis à rancangan penelitian à pengumpulan data à analisis data à konseptual (kesimpulan) à teori konsep

      Tujuan Epidemiologi
      1. Menguraikan distribusi dan besarnya masalah suatu penyakit dalam masyarakat (Epidemiologi Deskriptif)
      2. Memberikan data untuk perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi program pencegahan pemberantasan dan pengobatan penyakit, serta menentukan prioritas antara program-program tersebut.
      3. Mencari factor penyebab dan asal mula penyakit. (Epidemiologi analitika)

      Penerapan Epidemiologi
      • Pengamatan Epidemiologi (surveilance epidemiologi): pengamatan akan tanda-tanda akan munculnya wabah di masyarakat.
      • Kegiatan surveilance dilakukan dengan pengumpulan data, kemudian mencatat dan menganalisa akan munculnya kejadian-kejadian penyakit (wabah)
      • Penelitian Epidemiologi: bersifat lebih mendalam dan mengadakan analisis serta kesimpulan.
      • Penelitian bertujuan mencari faktor penyebab penyakit atau membuktikan hipotesa yang telah dibuat berdasarkan kajian masalah yang telah terjadi

      Peranan Epidemiologi
      1. Mengidentifikasi faktor terjadinya penyakit atau masalah kesehatan dalam masyarakat
      2. Menyediakan data untuk perencanaan kesehatan dan pengambilan keputusan
      3. Membantu mengevaluasi program kesehatan yang sedang atau telah dilakukan.
      4. Mengembangkan metodologi untuk menganalisis keadaan suatu penyakit dalam upaya untuk mengatasi atau menanggulanginya
      5. Mengarahkan intervensi yang diperlukan untuk menanggulangi masalah yang perlu dipecahkan

      Ruang Lingkup Epidemiologi
      1. Epidemiologi Penyakit Menular
      2. Epidemiologi Penyakit Tidak Menular
      3. Epidemiologi Klinik (Kebidanan)
      4. Epidemiologi Kependudukan
      5. Epidemiologi Pengolahan Pelayanan Kesehatan
      6. Epidemiologi Lingkungan dan Kesehatan Kerja
      7. Epidemiologi Kesehatan Jiwa
      8. Epidemiologi Gizi

      Tugas Individu
      1. Apa yang dimaksud dengan epidemiologi?
      2. Apa perbedaan dari Epidemiologi Deskriptif dan Epidemiologi Analitik?
      3. Apa manfaat dari aplikasi epidemiologi dalam bidang kecelakaan lalu lintas?
      4. Apa manfaat epidemiologi dalam bidang kebidanan/keperawatan
      5. Dengan menggunakan konsep epidemiologi, jelaskan (a) cara menghitung kebutuhan obat dan (b) produk kebidanan/keperawatan apa yang sesuai, pada saat Saudara akan membuka praktek di desa?

      Referensi
      1. Noor, 1997, Pengantar Epidemiologi Penyakit Menular, Jakarta, PT. Rineka Cipta
      2. Bustan, 2000, Epidemiologi Penyakit Tidak Menular, Jakarta, PT. Rineka Cipta
      3. Bustan, 2002, Pengantar Epidemiologi, Jakarta, PT. Rineka Cipta
      4. Notoatmojo, 2003, Ilmu Kesehatan Masyarakat, Prinsip Prinsip Dasar, Jakarta, PT. Rineka Cipta
      5. Entjang, 2000, Ilmu Kesehatan Masyarakat, Bandung, PT. Citra Aditya Bakti
      6. Vaughan, Morrow, 1993, Panduan Epidemiologi Bagi Pengelolaan Kesehatan Kabupaten, Bandung, ITB