Tuesday, April 6, 2010

OBAT OTONOMIK

Dr. Suparyanto, M.Kes

Apa Itu Obat Otonomik
  • Obat otonomik adalah obat yang mempunyai efek memperbesar/ menghambat aktivitas SSO (simpatik dan parasimpatik)

Macam SSO dan Reseptor
SSO dibagi dua divisi:
  • Sistem parasimpatik: cranio sacral division (ujung saraf mengeluarkan asetilkolin → kolinergik)
  • Sistem simpatik: thoracal lumbar division (ujung saraf mengeluarkan norepineprin (dulu diduga adrenalin → adrenergik)
  • Reseptor adrenergik: alfa (1,2); beta (1,2,3)
  • Reseptor kolinergik: muskarinik, nikotinik

Penggolongan
  1. Parasimpatomimetik atau kolinergik → mempunyai efek seperti asetilkolin (parasimpatik)
  2. Parasimpatolitik atau penghambat/antagonis kolinergik → menghambat efek asetilkolin
  3. Simpatomimetik atau adrenergik → efek seperti norepineprin (simpatik)
  4. Simpatolitik atau penghambat/antagonis adrenergik → menghambat efek norepineprin (mencegah respon pd reseptor)

Kolinergik
  • Kolinergik: merangsang sistem parasimpatis
Ada 2 macam reseptor kolinergik:
  • Reseptor muskarinik: merangsang otot polos dan memperlambat denyut jantung
  • Reseptor nikotinik/ neuromuskular → mempengaruhi otot rangka

Penggolongan Kolinergik
  • Cholinester (asetil kolin, metakolin, karbakol, betanekol)
  • Cholinesterase inhibitor (eserin, prostigmin, dilsopropil fluorofosfat)
  • Alkaloid yang berkasiat seperti asetikolin (muskarin, pilokarpin, arekolin)
  • Obat kolinergik lain ( metoklopramid, sisaprid)

Farmakodinamik Kolinergik
  • Meningkatkan TD
  • Meningkatkan denyut nadi
  • Meningkatkan kontraksi saluran kemih
  • Meningkatkan peristaltik
  • Konstriksi bronkiolus (kontra indikasi asma bronkiolus)
  • Konstriksi pupil mata (miosis)
  • Antikolinesterase: meningkatkan tonus otot

Efek Samping
  • Asma bronkial dan ulcus peptikum (kontraindikasi)
  • Iskemia jantung, fibrilasi atrium
  • Toksin; antidotum → atropin dan epineprin

Indikasi
  • Ester kolin: tidak digunakan pengobatan (efek luas dan singkat), meteorismus, (kembung), retensio urine, glaukoma, paralitic ileus, intoksikasi atropin/ alkaloid beladona, faeokromositoma
  • Antikolinesterase: atonia otot polos (pasca bedah, toksik), miotika (setelah pemberian atropin pd funduskopi), diagnosis dan pengobatan miastemia gravis (defisiensi kolinergik sinap), penyakit Alzheimer (defisiensi kolinergik sentral)

Intoksikasi
  • Efek muskarinik: mata hiperemis, miosis kuat, bronkostriksi, laringospasme, rinitis alergika, salivasi, muntah, diare, keringat berlebih
  • Efek nikotinik: otot rangka lumpuh
  • Efek kelainan sentral: ataksia, hilangnya refleks, bingung, sukar bicara, konvulsi, koma, nafas Cheyne Stokes, lumpuh nafas

Alkaloid Tumbuhan
Tumbuhannya:
  • Muskarin (jamur Amanita muscaria),
  • Pilokarpin (Pilocarpus jaborandi dan P.microphyllus)
  • Arekolin (Areca catechu = pinang)
  • Efek umumnya muskarinik
  • Intoksikasi: bingung, koma, konvulsi
  • Indikasi: midriasis (pilokarpin)

Obat Kolinergik Lain
  • Metoklopramid: digunakan untuk memperlancar jalanya kontras radiologik, mencegah dan mengurangi muntah
  • Kontraindikasi: obstruksi, perdarahan, perforasi sal cerna, epilepsi, gangguan ektrapiramidal
  • Sisaprid: untuk refluk gastroesofagial, gangguan mobilitas gaster, dispepsia
  • Efek samping: kolik, diare

Obat Anti Kolinergik
  • Obat parasimpatolitik adalah obat yang menghambat efek kolinergik yang muscarik, tidak efek nikotinik → karena itu juga disebut antimuskarinik/ antagonis kolinergik/ antispasmodik
  • Macam obat antimuskarinik:
  • Alkaloid beladona (atropin)
  • Obat sintetik mirip atropin: homatropin, skopolamin, metantelin, oksifenonium, karamifen, triheksifenidil, ipratropium, pirenzepin

Efek Anti Kolinergik
  • Meningkatkan denyut nadi
  • Mengurangi sekresi mukus
  • Menurunkan peristaltik
  • Meningkatkan retensi urine
  • Dilatasi pupil mata (midriasis)

Atropin
  • Atropin memblok asetilkolin endogen maupun eksogen
  • SSP → merangsang n.vagus → frekuensi jantung berkurang
  • Mata → midriasis
  • Saluran nafas → mengurangi sekret hidung, mulut, farink dan bronkus
  • Kardiovaskuler → frekuensi berkurang

  • Saluran cerna → antispasmodik (menghambat peristaltik lambung dan usus)
  • Otot polos → dilatasi saluran kemih
  • Eksokrin → saliva, bronkus, keringat → kering
  • Atropin mudah diserap, hati2 untuk tetes mata → masuk hidung → absorbsi sistemik → keracunan

  • Efek samping: mulut kering, gangguan miksi, meteorismus, dimensia, retensio urin, muka merah
  • Gejala keracunan: pusing, mulut kering, tidak dapat menelan, sukar bicara, haus, kabur, midriasis, fotopobia, kulit kering dan panas, demam, jantung tachicardi, TD naik, meteorismus, bising usus hilang, oligouria/anuria, inkoordinasi, eksitasi, bingung, delirium, halusinasi
  • Diagnosis keracunan: gejala sentral, midriasis, kulit merah kering, tachikardi

  • Antidotum keracunan: fisostigmin 2 – 4 mg sc → dapat menghilangkan efek SSP dan anhidrosis
  • Dosis atropin: 0,25 – 1 mg
  • Indikasi: parkinsonisme, menimbulkan midriasis (funduskopi), antispasmodik, mengurangi sekresi lendir sal nafas (rinitis), medikasi preanestetik (mengurangi lendir sal nafas)

Adrenergik
  • Obat simpatomimetik disebut adrenergik/ agonis adrenergik → memulai respon pada tempat reseptor adrenergik
  • Reseptor adrenergik: alfa, beta1 dan beta2
  • Norepineprin dilepaskan oleh ujung saraf simpatis → merangsang reseptor untuk menimbulkan respon

Efek Adrenergik
Alfa1:
  • Meningkatkatkan kontraksi jantung
  • Vasokontriksi: meningkatkan tekanan darah
  • Midriasis: dilatasi pupil mata
  • Kelenjar saliva: pengurangan sekresi
Alfa2:
  • Menghambat pelepasan norepineprin
  • Dilatasi pembuluh darah (hipotensi)

Beta1:
  • Meningkatkan denyut jantung
  • Menguatkan kontraksi
Beta2:
  • Dilatasi bronkiolus
  • Relaksasi peristaltik GI dan uterus

Contoh Obat Adrenergik
  • Epineprin
  • Norepineprin
  • Isoproterenol
  • Dopamin
  • Dobutamin
  • Amfetamin
  • Metamfenamin
  • Efedrin
  • Metoksamin
  • Fenilefrin
  • Mefentermin
  • Metaraminol
  • Fenilpropanolamin
  • Hidroksiamfetamin
  • Etilnorepineprin

Efineprin
  • Absorpsi: peroral tidak efektif , dirusak oleh enzim di usus dan hati, sub kutan lambat karena vasokonstriksi, im cepat
  • Intoksikasi: takut, kawatir, gelisah, tegang, nyeri kepala berdenyut, tremor, lemah, pusing, pucat, sukar nafas, palpitasi

  • Efek samping: takut, kawatir, gelisah, tegang, nyeri kepala berdenyut, tremor, rasa lemah, pusing, pucat, sukar nafas, palpitasi, hipertensi, perdarahan otak, hemiplegia, aritmia dan fibrilasi ventrikel
  • Kontraindikasi: penderita yang dapat alfa bloker non selektif → kerjanya tidak terimbangi pada reseptor alfa pembuluh darah → hipertensi hebat dan perdarahan otak

  • Penggunaan klinis: asma, alergi
Sediaan:
  • Suntikan: lar 1:1000 epi HCl (untuk syok → sk 0,2 – 0,5 ml)
  • Inhalasi: epi 1%, 2% → asma
  • Tetes mata: epi 0,1 – 2%

Obat Simpatolitik
  • Obat simpatolitik adalah obat yang menghambat efek obat simpatomimetik atau penghambat /antagonis adrenergik

Efek Simpatolitik
  • Menurunkan tekanan darah (vasodilatasi)
  • Menurunkan denyut nadi
  • Konstriksi bronkiolus
  • Kontraksi uterus
  • Reseptor adrenergik: alfa1, beta1 dan beta2

Penggolongan Simpatoplegik
Antagonis adrenoseptor alfa (alfa bloker)
  • Alfa bloker non selektif
  • Alfa1 bloker selektif
  • Alfa2 bloker selektif
Antagonis adrenoseptor beta (beta bloker)
Penghambat saraf adrenergik
  • Guanetidin dan guanedrel
  • Reserpin
  • Metirosin

Alfa Blocker
  • Alfa bloker menduduki adrenoseptor alfa sehingga menghalangi untuk berinteraksi dengan obat adrenergik atau rangsangan adrenergik
  • Efek vasodilatasi → TD turun, dan terjadi reflek stimulasi jantung
  • Efek samping: hipotensi postural
  • Penggunaan klinis: feokromositoma (tumor anak ginjal → sekresi NE dan epi ke sirkulasi), BPH → menghambat dihidrotestosteron yang merangsang pertumbuhan prostat

Beta Blocker
  • Menghambat secara kompetitif obat adrenergik NE dan Epi (eksogen dan endogen) pada adrenosptor beta
  • Asebutolol, metoprolol, atenolol dan bisoprolol → beta bloker kardioselektif (afinitas lebih tinggi pada reseptor beta1 daripada beta2)
  • Efek: denjut dan kontraksi jantung ↓, TD ↓,
  • Sediaan: propanolol, alprenolol, oksprenolol, metoprolol, bisoprolol, asebutolol, pindolol, nadolol, atenolol

  • Efek samping: gagal jantung, bradiaritmia, bronkospasme, gangguan sirkulasi perifer, gejala putus obat (infark, aritmia), hipoglikemia, gangguan tidur, mimpi buruk, insomnia
  • Penggunaan klinis: angina pectoris, aritmia, hipertensi, infark miokard, kardiomiopati obstruktif hipertropik, feokromositoma, tirotoksikosis, migren, glaukoma, ansietas

Penghambat Saraf Adrenergik
  • Menghambat aktivitas saraf adrenergik berdasar gangguan sintesis, atau penyimpanan dan pelepasan neurotransmiter di ujung saraf adrenergik
  • Sediaan; guanetidin, guanadrel, reserpin, metirosin

Obat Pelumpuh Otot
  • Obat ini digunakan untuk mengadakan relaksasi otot bergaris (reposisi tulang), atau untuk menangkap binatang buas hidup2
  • Cara kerja: kompetitif antagonis dengan asetilkolin pada reseptor nikotinik di motor end plate
  • Contoh: d-tubocurarine, gallamine, pancuronium, succinilkolin, decametonium, metokurin, vekuronium, atrakurium, alkuronium, heksafluorenium

Referensi
  • Deglin, Vallerand, 2005, Pedoman Obat Untuk Perawat, Jakarta, EGC
  • Ganiswarna, 1995, Farmakologi dan Terapi, Jakarta, FKUI
  • Kee, Hayes, 1996, Farmakologi Pendekatan Proses Keperawatan, Jakarta, EGC

HIPNOTIK, SEDATIF DAN PSIKOTROPIK

Dr. Suparyanto, M.Kes

Hipnotik - Sedatif

  • Hipnotik-sedatif adalah obat depresan SSP yang tidak selektif, efek mulai ringan – berat (hilangnya kesadaran, anestesi, koma, mati)

SSP dirangsang ← normal → SSP dihambat
x-----x-----x----x----0-----x-----x------x-----x-----x-----x
mati      excitasi     normal      sedatif         anestetik          mati
      kejang     cerewet     tranquilizer     hipnotik         koma

  • Sedatif digunakan dalam pengobatan cemas
  • Hipnotik digunakan untuk pengobatan insomnia
  • Ada yang berfungsi antikonvulsan: klorazepat, diazepam, fenobarbital)
  • Relaksasi otot: diazepam

Cara Kerja Obat
  • Depresi SSP
  • Menimbulkan toleransi pada penggunaan kronis
  • Potensial menyebabkan ketergantungan psikologis dan fisiologis
  • Tidak memiliki sifat analgesik

Kontraindikasi
  • Hipersensitivitas
  • Koma dan depresi SSP
  • Nyeri berat yang tak terkendali
  • Hamil dan laktasi

Perhatian
  • Hati-hati pada gangguan fungsi; hati, ginjal dan paru
  • Hati-hati pada penderita yang cenderung ingin bunuh diri atau pernah kecanduan obat
  • Penggunaan hipnotik hendaknyaa jangka pendek
  • Pasien lansia dosis rendah

Interaksi
  • Depresi tambah berat jika bersama alkohol, antihistamin, antidrepresan, analgesik opioid, fenotiazin
  • Barbiturat dapat menginduksi enzim metabolisme obat hati dan dapat menurunkan efektifitas obat
  • Jangan diberikan bersama inhibitor MAO (monoamin oksidase): isokarboksazid, fenelzin, tranilsipromin

Penggolongan
  • Antihistamin: difenhidramin, hidroksizin, prometazin
  • Barbiturat: amobarbital, pentobarbital, fenobarbital, sekobarbital, tiopental
  • Benzodiazepin: alprazopam, klordiazepoksid, klorazepat, diazepam, flurazepam, lorazepam
  • Lain-lain: buspiron, kloralhidrat, meprobamat

Implikasi Keperawatan
  • Pantau TD, nadi, nafas pada pemberian IV
  • Penggunaan jangka panjang pantau: depresi, kecenderungan bunuh diri, ketergantungan
  • Insomnia: kaji pola tidur sebelum, dan secara periodik selama terapi
  • Kecemasan: kaji tingkat kecemasan dan sedasi (ataksia, pusing dan bicara tidak jelas) sebelum, dan secara periodik selama terapi

  • Kejang: observasi dan catat intensitas, durasi dan karakteristik kejang, lakukan tindakan kewaspadaan terhadap kejang
  • Spasme otot: kaji spasme otot, nyeri yang menyertai, dan keterbatasan gerak sebelum dan selama terapi
  • Gejala putus alkohol: kaji gejal putus obat: tremor, agitasi, delirium, halusinasi

Diagnose Keperawatan Potensial
  • Gangguan pola tidur (indikasi)
  • Risiko tinggi cedera (efek samping)
  • Kurang pengetahuan sehubungan dengan program pengobatan (penyuluhan keluarga/pasien)

Implementasi
  • Awasi ambulasi dan perpindahan pasien setelah pemberian dosis hipnotik
  • Buang sigaret
  • Penghalang tempat tidur harus dipasang dan bel panggil harus terus berada dalam jangkauan setiap saat
  • Beri posisi rendah pada tempat tidur

Penyuluhan
  • Mempersiapkan lingkungan untuk tidur: ruang gelap, tenang, hindari nikotin dan kafein
  • Jika efek kurang efektif setelah beberapa minggu, konsultasikan ke dokter, jangan menaikan dosis
  • Penghentian obat secara bertahap, jangan mendadak (menghindari reaksi putus obat)

  • Dapat menyebabkan kantuk di siang hari, hindari nyetir, bekerja yang berisiko tinggi kecelakaan
  • Hindari alkohol dan depresan SSP lainya
  • Anjurkan lapor ke dokter jika berencana hamil atau mencurigai kehamilan

Evaluasi
  • Efektivitas obat ditunjukan dengan:
  • Perbaikan tidur
  • Berkurangnya tingkat kecemasan
  • Terkendalinya kejang
  • Berkurangnya spasme otot
  • Berkurangnya tremor
  • Mempunyai ide yang lebih rasional

Apa Itu Psikotropika
  • Psikotropika adalah obat yang bekerja pada atau mempengaruhi fungsi psikis, kelakuan atau pengalaman
  • Psikotropika adalah obat simptomatik, karena patofisiologi penyakit jiwa belum jelas
  • ECT (Elektro Convulsive Therapy) → masih digunakan untuk terapi depresi berat dengan kecenderungan bunuh diri

Penggolongan Psikotropika
1. Anti Psikosis = neuroleptik = major tranquilizer
2. Anti Ansietas = anti neurosis = minor tranquilizer
3. Anti Depresi
4. Psikotogenik = psikotomimetik = psikodisleptik = halusinogenik

Anti Psikosis
Ciri neuroleptik:
1. Efek antipsikosis à mengatasi agresivitas, hiperaktivitas, labilitas emosional pada pasien psikosis
2. Dosis besar tidak menyebabkan koma atau anestesi
3. Dapat menyebabkan gejala ekstrapiramidal (reversibel/ireversibel)
4. Tidak menimbulkan ketergantungan fisik atau psikis

Menghambat reseptor dopamin di otak
Efek perifer → antikolinergik dan blok sdrenergik alfa

Kontraindikasi
  • Hipersensitivitas
  • Glaukoma sudut sempit
  • Depresi SSP

Interaksi
  • Hipotensi digunakan bersam alkohol, antihipertensi dan nitrat
  • Antasida dapat menurunkan absorpsi
  • Fenobarbital menurunkan efektivitas
  • Depresi tambahan jka digunakan bersama: alkohol, antihistamin, antidepresan, analgesik opioid, sedatif/hipnotik

Penggolongan Anti Psikosis
1. Derivat Fenotiazin
– Senyawa Dimetil Amino Propil (Klorpromazin, Promazin, Triflupromazin)
– Senyawa Piperidil (Mepazin, Tioridazin)
– Senyawa Piperazin (Asetofenazin, Karfenazin, Flufenazin, Perfenazin, Proklorperazin, Trifluoperazin tiopropazat)
2. Non Fenotiazin (Klorprotiksan)
3. Butirofenon (Haloperidol)

Anti Ansietas
  • Untuk pengobatan simptomatis penyakit psikoneurosis dan terapi penyakit somatik akibat kecemasan
  • Dapat menimbulkan ketergantungan fisik dan psikis
  • Mempunyai efek sedatif
  • Golongan Benzodiazepin: Klordiazeposid, Diazepam, Klorazepat, Lorazepam, Prazepam, Alprazolam, Halozepam.

Benzodiazepin
  • Efek hipnotis, sedasi, relaksasi otot, ansiolitik, antikonvulsi
  • Peningkatkan dosis menyebabkan sedasi → hipnotis → stupor
  • Efek pada pernafasan dan kardiovaskuler ringan
  • Efek samping: light headedness, lassitude, lambat bereaksi, inkooordinasi motorik, ataksia, gangguan fungsi mental, berpikir, psikomotor
  • Dosis: Diazepam 5 -10 mg

Anti Depresi
  • Antidepresi adalah obat untuk mengatasi depresi mental, juga digunakan untuk: kecemasan, enuresis, sindrom nyeri kronis
  • Perbaikan depresi ditandai dengan: perbaikan alam perasaan, bertambahnya aktivitas fisik dan kewaspadaan mental, nafsu makan dan pola tidur yang lebih baik dan berkurangnya pikiran morbid

Cara Kerja
  • Penghambat Mono Amin Oksidase (MAO) digunakan sebagai antidepresi sejak 1980
  • Hambatan MAO → kadar epinefrin, norepinefrin dan 5-HT (5 hidroksi triptamin) dalam otak naik → penderita menjadi aktif dan mau bicara
  • Hipertensi dan hipotensi keduanya bisa terjadi, hipertensi akibat katekolamin, hipotensi akibat terhambatnya terlepasnya norepinefrin dari ujung saraf

Contoh Anti Depresi
  • Antidepresan trisiklik: amitriptilin, amoksapin, doksepin, imipramin, nortriptilin
  • Antidrepesan lain: bupropion, fluoksetin, maprotilin, paroksetin, setralin, trazodon
  • Inhibitor MAO: isokarboksazid, fenelzin, tranilsipromin

Psikotogenik
  • Psikotogenik: obat yang dapat menimbulkan kelainan tingkah laku, disertai halusinasi, ilusi, gangguan cara berpikir dan perubahan alam perasaan, jadi dapat menimbulkan psikosis (psikotomimetik atau halusinogenik)
  • Contoh: meskapin dan dietil asam lisergat (LSD-25)

Referensi
  • Deglin, Vallerand, 2005, Pedoman Obat Untuk Perawat, Jakarta, EGC
  • Ganiswarna, 1995, Farmakologi dan Terapi, Jakarta, FKUI
  • Kee, Hayes, 1996, Farmakologi Pendekatan Proses Keperawatan, Jakarta, EGC

Friday, April 2, 2010

OBAT GINJAL (DIURETIK)

Dr. Suparyanto, M.Kes

Apa Itu Diuretik
  • Diuretik adalah obat yang dapat menambah kecepatan pembentukan urine
Penggolongan Diuretik:
  1. Diuretik Osmotik
  2. Penghambat transport elektrolit di tubuli ginjal
  3. Penghambat karbonik anhidrase
  4. Benzotiadiazid
  5. Diuretik hemat kalium
  6. Diuretik kuat

Diuretik Osmotik
  • Diuretik osmotik → meningkatkan osmaliritas plasma dan cairan dalam tubulus ginjal → Na, Cl, K, air diekresikan
Indikasi:
  • Payah ginjal, menurunkan tekanan intra kranial (edema otak), menurunkan tekanan intraokuler (glaukoma)
Sediaan: manitol, urea

Indikasi:
  • Oliguria akut akibat syok hipovolemik
  • Reaksi transfusi
  • Profilaksis GGA
  • Menurunkan tekanan/volume intraokuler/ cairan cerbrospinal
Sediaan:
  • Manitol: 5-25% iv → 1,5-2 g/Kg BB
  • Urea: 30% dalam D5 → 1-1,5 g/Kg BB
  • Gliserin 50%/75% → 1-1,5g/Kg BB
  • Isosorbid → 1-3 g/Kg BB

Cara Kerja Diuretik
Diuretik osmotik:
  • Tubuli proksimal → penghambatan reabsorbsi Na dan air melalui daya osmotiknya
  • Ansa Henle → penghambatan reabsorbsi Na dan air oleh karena hipertonisitas daerah medula menurun
  • Ductus koligentis → penghambatan reabsorbsi Na dan air akibat adanya papilary wash out, kecepatan aliran filtrat yang tinggi atau adanya faktor lain

Penghambat enzim karbonik anhidrase: (H + HCO3 → H2CO3)
  • Peningkatan pengeluaran Na, K dan bikarbonat
Diuretik hemat kalium:
  • Mengganggu pompa Na-K yang dikontrol ADH (Na ditahan, K diekresi) → K direabsorpsi, Na diekskresi

Tiazid:
  • Hulu tubuli distal → penghambatan terhadap reabsorbsi natrium klorida
Diuretik kuat:
  • Ansa Henle bagian ascenden pada bagian dengan epitel tebal → penghambatan terhadap transport elektrolit Na, K, Cl

Penghambat Karbonik Anhidrase
  • Karbonik anhidrase adalah enzim yang mengkatalisis C02 + H2O → H2CO3
  • Contoh penghambat karbonik anhidrase adalah: Asetazolamid
  • Asetazolamid → menghambat enzim KA → Sekresi H+ oleh tubuli berkurang → meningkatnya ekskresi bikarbonat, Na dan K melalui urine → meningkatnya sekresi elektrolit → meningkatkan ekskresi air

  • Asetazolamid → menghambat pembentukan cairan bola mata → dapat digunakan untuk glaukoma
  • Asetazolamid → dapat digunakan untuk mengobati epilepsi (efek asidosis)
  • Mudah diserap saluran cerna, dosis optimum 2 jam
  • Intoksikasi jarang terjadi

  • Asetazolamid → mempermudah terjadinya batu ginjal
  • Efek merugikan: demam, reaksi kulit, depresi sumsum tulang dan lesi renal, disorientasi mental
  • Asetazolamid → sebaiknya tidak diberikan pada wanita hamil
  • Indikasi: glaukoma, acute mountain sickness

Sediaan:
  • Asetazolamid: tablet 125 mg dan 250 mg, dosis 250 – 500 mg per hari
  • Diklorofenamid: Tablet 50 mg

Benzotiadiazide
  • Benzotiadiazide atau Tiazid → efek utamanya meningkatkan ekskresi Na, Cl dan sejumlah air
  • Efek diatas disebabkan penghambatan mekanisme reabsorbsi elektrolit pada hulu tubuli distal
  • Menurunkan TD → efek diuresis dan vasodilatasi
  • Pada Diabetes insipidus → menurunkan diuresis (mekanisme belum jelas)

  • Efek pada ginjal → mengurangi kecepatan filtrasi glomerulus
  • Efek kaliuresis → akibat bertambahnya natriuresis
  • Tiazid berfungsi menghambat ekskresi asam urat → (1) meningkatkan reabsorbsi asam urat di tubuli proksimal; (2) menghambat ekskresi asam urat oleh tubuli

  • Absorbsi di saluran cerna baik, distribusi ke seluruh ekstrasel, dapat melewati sawar uri, ditimbun di jaringan ginjal saja
Efek samping:
  • Intoksikasi jarang terjadi
  • Reaksi alergi (karena penyakitnya sendiri): purpura, dermatitis, fotosensitive dan kelainan darah
  • Kadar Na, K, Cl diperiksa berkala
  • Memperberat insufisiensi ginjal

Indikasi:
  • Payah jantung ringan – sedang
  • Pada pengobatan digitalis kombinasi dengan diuretik hemat K → mencegah hipokalemi dan intoksikasi digitalis
  • Hipertensi
  • Diabetes insipidus

Sediaan dan Dosis Tiazid



Diuretik Hemat Kalium
Yang termasuk diuretik hemat kalium:
  • Antagonis aldosteron
  • Triamteren
  • Amilorid

Antagonis Aldosteron
  • Aldosteron atau mineralokortikoid → memperbesar reabsorbsi Na dan Cl di tubuli serta memperbesar ekskresi K
  • Mekanisme kerja antagonis aldosteron adalah penghambatan kompetitif terhadap aldosteron
  • Penyerapan di saluran cerna 70%
  • Efek toksik: hiperkalemia
  • Efek samping ginekomasti, efek androgen, gejala saluran cerna

  • Indikasi: hipertensi, udem, digunakan bersama diuretik lain untuk mengurangi efek hipokalemi
  • Sediaan dan dosis:
  • Tablet 25, 50, 100 mg
  • Dosis dewasa: 25 – 100 mg
  • Kombinasi tetap: spironolakton 25 mg dan HCT 25 mg atau spironolakton 25 mg dan tiabutazid 2,5 mg

TRIAMTEREN DAN AMILORID

  • Efek: memperbesar ekskresi Na dan Cl, ekskresi K berkurang, ekskresi bikarbonat tetap
  • Absorbsi melalui saluran cerna baik
  • Efek toksik: hiperkalemia
  • Efek samping: mual, muntah, kejang kaki, pusing

  • Indikasi: udema
Sediaan dan dosis:
  • Triamteren; kapsul 100 mg, dosis: 100 – 300 sehari
  • Amilorid: Tablet 5 mg, dosis: 5 – 10 mg
  • Kombinasi tetap: amilorid 5 mg dengan HCT 50 mg dalam bentuk tablet dosis 1 – 2 tablet sehari

Diuretik Kuat
  • Yang termasuk diuretik kuat: asam etakrinat, furosemid, bumetanid
  • Mudah diserap dalam saluran cerna
Efek samping:
  • Reaksi toksik → gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit
  • Nefritis interstitialis alergik (akibat furosemid dan tiazide) → gagal ginjal reversibel
  • Asam etakrinat → ketulian

  • Penggunaan klinik: udema akibat gangguan jantung, hati dan ginjal
Sediaan dan dosis:
  • Asam etakrinat: tab 25, 50 mg, dosis: 50 – 200 mg per hari
  • Furosemid: tab 20, 40, 80 mg, dosis: < 600 mg per hari
  • Bumetanide: tab 0,5 dan 1 mg, dosis: 0,5 – 2 mg sehari

Indikasi Diuretik
  • Udem paru → diuresis cepat (furosemid atau asam etakrinat)
  • Udem → semua diuretik
  • Hipertensi → HCT lebih baik
  • Diabetes insipidus → HCT
  • Batu ginjal → HCT
  • Hiperkalsemia → Furosemid

Efek Samping Diuretik
  • Hipokalemia: tiazid, furosemid
  • Hiperuresemia: semua diuretik
  • Gangguan toleransi glukose dan diabetes: tiazid dan furosemid
  • Hiperkalsemia: tiazid
  • Hiperkalemia: diuretik hemat kalium
  • Sindrome udem idiopatik: diuresis kuat
  • Volume deplesion: diuretik kuat
  • Hiponatremia: furosemid

ADH (Anti Diuretik Hormon)
  • ADH: anti diuretik hormon = vasopresin
  • Tempat kerja ADH di ductus koligen → meningkatkan permiabilitas membran thd air
  • Efek kardiovaskuler: vasokonstriksi
  • ADH per oral tidak efektif → dirusak oleh tripsin → diberikan iv, im, sk
  • Efek samping: vasokonstriksi, hipertensi, kulit pucat, peristaltik usus meningkat

  • Penggunaan klinik: diabetes insipidus
Sediaan dan dosis:
  • Vasopresin=Pitresin → suntikan 20U/ml dalam ampul 0,5 dan 1 ml (im dan sk)
  • Vasopresin tanat: 5U/ml (im)
  • Bubuk hipofisis posterior: insuflasi hidung
  • Lipresin: semprot hidung 50 U/ml
  • Desmopresin acetat: lar 0,1 mg/ml dalm botol 2,5 ml (intranasal)

Benzotidiazid
  • Klorotiazid dan tiazid telah diketahui dapat digunakan untuk diabetes insipidus
  • Mekanisme belum jelas
  • Penggunaan klinik: dibanding ADH, benzotiazid kurang efektif untuk diabetes insipidus → berguna bagi penderita yang alergi terhadap ADH
  • Dosis: klorotiazid: 1 – 1,5 g/hr, hidroklorotiazid 50 – 150 mg/hari

  • Penghambat Sintesis Prostaglandin
  • Indometasin → efektif untuk diabetes insipidus nefrogen
  • Cara kerja belum jelas
  • Ibuprofen kurang efektif dibanding indometasin

DIURETIK (HCT/Furosemid)

Farmakodinamik:
  • Absorpsi: GI: H cepat, F 65-75%
  • Distribusi: PP: H: 65%, F: 95%
  • Metabolisme: t ½ : H: 6-15 jam, F: 30-50 menit
  • Eliminasi: ginjal

Farmakodinamik:
  • H: PO: M: <2jam, P: 3-6jam, L: 6-12jam
  • F: PO: M: < 1jam, P: 1-2 jam, L: 6-8jam
  • IV: M: 5 menit, P: 20-30 menit, L: 2jam

Efek terapeutik:
  • Menurunkan volume darah dan menambah ekskresi Na, sehingga menurunkan tekanan darah
Efek samping:
  • Pusing, vertigo, sakit kepala, mual, muntah, diare
Reaksi merugikan:
  • Dehidrasi berat, hipotensi nyata, trombositopenia, agranulositosis
Kontraindikasi:
  • Payah ginjal, penurunan elektrolit

PROSES KEPERAWATAN DIURETIK

Pengkajian Perencanaan
Pengkajian:
  • Kaji tanda vital, elektrolit serum
  • Periksa edema pitting
  • Periksa bunyi nafas (cairan paru)
Perencanaan:
  • Edema tungkai hilang 1 minggu
  • Hasil lab elektrolit normal (penggantian K mungkin diperlukan)

Intervensi Keperawatan
  • Pantau tanda vital (TD, denyut jantung) → syock
  • Panatau BB klien
  • Pantau volume urine
  • Pantau hasil lab (elektrolit serum, gula, asam urat, BUN (blood urea nitrogen)
  • Periksa tanda: hipokalemia (lemah otot, BU ↓, aritmia, bingung)

Penyuluhan
  • Pertahankan nutrisi, kurangi garam, tingkatkan makanan kaya K (pisang, kacang, daging, ikan)
  • Pantau klien minum digoksin dan HCT → keracunan digitalis (bradikardi)
  • Panatau klien DM dengan HCT → hipoglikemia
  • Pelan2 bangun dari tidur ke berdiri

Referensi
  1. Deglin, Vallerand, 2005, Pedoman Obat Untuk Perawat, Jakarta, EGC
  2. Ganiswarna, 1995, Farmakologi dan Terapi, Jakarta, FKUI
  3. Kee, Hayes, 1996, Farmakologi Pendekatan Proses Keperawatan, Jakarta, EGC

Thursday, April 1, 2010

OBAT KARDIOVASKULER

Dr. Suparyanto, M.Kes

OBAT KARDIOVASKULER

  • Obat kardiovaskuler: adalah obat yang digunakan untuk kelainan jantung dan pembuluh darah
  • Obat kardiovaskuler dibedakan:
  1. Obat Antiangina
  2. Obat Antiaritmia
  3. Obat Glikosida
  4. Obat Antihipertensi

Anti Angina
  • Antiangina adalah obat untuk angina pectoris (ketidak seimbangan antara permintaan (demand) dan penyediaan (supply) oksigen pada salah satu bagian jantung
  • Penyebab angina:
  • Kebutuhan O2 meningkat → exercise berlebihan
  • Penyediaan O2 menurun → sumbatan vaskuler

Cara kerja Antiangina:
  • Menurunkan kebutuhan jantung akan oksigen dengan jalan menurunkan kerjanya. (penyekat reseptor beta)
  • Melebarkan pembuluh darah koroner → memperlancar aliran darah (vasodilator)
  • Kombinasi keduanya

Obat Antiangina:
  1. Nitrat organik
  2. Beta bloker
  3. Calsium antagonis

Farmakodinamik
Khasiat farmakologik:
  • Dilatasi pembuluh darah → dapat menyebabkan hipotensi → sinkop
  • Relaksasi otot polos → nitrat organik membentuk NO → menstimulasi guanilat siklase → kadar siklik-GMP meningkat → relaksasi otot polos (vasodilatasi)
  • Menghilangkan nyeri dada → bukan disebabkan vasodilatasi, tetapi karena menurunya kerja jantung

  • Pada dosis tinggi dan pemberian cepat → venodilatasi dan dilatasi arteriole perifer → tekanan sistol dan diastol menurun , curah jantung menurun dan frekuensi jantung meningkat (takikardi)
  • Efek hipotensi terutama pada posisi berdiri → karena semakin banyak darah yang menggumpul di vena → curah darah jantung menurun

  • Menurunya kerja jantung akibat efek dilatasi pembuluh darah sistemik → penurunan aliran darah balik ke jantung
  • Nitrovasodilator menimbulkan relaksasi pada hampir semua otot polos: bronkus, saluran empedu, cerna, tetapi efeknya sekilas → tidak digunakan di klinik

Farmakokinetik
  • Metabolisme nitrat organik terjadi di hati
  • Kadar puncak 4 menit setelah pemberian sublingual
  • Ekskresi sebagian besar lewat ginjal

Sediaan dan Posologi
  • Untuk serangan, baik digunakan sediaan sublingual: isosorbit dinitrat 30%: 2,5 – 10 mg dan nitrogliserin 38%: 0,15 – 0,6 mg
  • Untuk pencegahan digunakan sediaan per oral: kadar puncak 60 – 90 menit, lama kerja 3 – 6 jam
  • Par enteral (IV) baik digunakan untuk vasospasme koroner dan angina pectoris tidak stabil, angina akut dan gagal jantung kongestif
  • Salep untuk profilaksis: puncak 60 menit, lama kerja 4 – 8 jam

Sediaan
Nitrat kerja singkat (serangan akut)
  • Sediaan sublingual (nitrogliserin, isosorbit dinitrat, eritritil tetranitrat)
  • Amil nitrit inhalasi
Nitrat kerja lama:
  • Sediaan oral (nitrogliserin, isosorbit dinitrat, eritritil tetranitrat, penta eritritol tetranitrat)
  • Nitrogliserin topikal (salep 2%, transdermal)
  • Nitrogliserin transmucosal/buccal
  • Nitrogliserin invus intravena

Efek Samping
  • Efek samping: sakit kepala, hipotensi, meningkatnya daerah ischaemia
Indikasi:
  1. Angina pectoris
  2. Gagal jantung kongestif
  3. Infark jantung

Beta Blocker
  • Beta bloker adalah obat yang memblok reseptor beta dan tidak mempengaruhi reseptor alfa
  • Beta Bloker menghambat pengaruh epineprin → frekuensi denyut jantung menurun
  • Beta bloker → meningkatkan supply O2 miokard → perfusi subendokard meningkat

Farmakodinamik
  • Beta bloker menghambat efek obat adrenergik, baik NE dan epi endogen maupun obat adrenergik eksogen
  • Beta bloker kardioselektif artinya mempunyai afinitas yang lebih besar terhadap reseptor beta-1 daripada beta-2
  • Propanolol, oksprenolol, alprenolol, asebutolol, metoprolol, pindolol dan labetolol mempunyai efek MSA (membrane stabilizing actvity) → efek anastesik lokal

  • Kardiovaskuler: mengurangi denyut jantung dan kontraktilitas miokard
  • Menurunkan tekanan darah
  • Antiaritmia: mengurangi denyut dan aktivitas fokus ektopik
  • Menghambat efek vasodilatasi, efek tremor (melalui reseptor beta-2)
  • Efek bronkospasme (hati2 pada asma)
  • Menghambat glikogenolisis di hati
  • Menghambat aktivasi enzim lipase
  • Menghambat sekresi renin → antihipertensi

Farmakokinetik
  • Beta bloker larut lemak (propanolol, alprenolol, oksprenolol, labetalol dan metoprolol) diabsorbsi baik (90%)
  • Beta bloker larut air (sotolol, nadolol, atenolol) kurang baik absorbsinya
  • Sediaan
  • Kardioselektif: asebutolol, metoprolol, atenolol, bisoprolol
  • Non kardioselektif: propanolol, timolol, nadolol, pindolol, oksprenolol, alprenolol
Contoh Obat Beta Blocker:
  1. Propanolol: tab 10 dan 40 mg, kapsul lepas lambat 160 mg
  2. Alprenolol: tab 50 mg
  3. Oksprenolol: tab 40 mg, 80 mg, tab lepas lambat 80 mg
  4. Metoprolol: tab 50 dan 100 mg, tab lepas lambat 100 mg
  5. Bisoprolol: tab 5 mg
  6. Asebutolol: kap 200 mg dan tab 400 mg
  7. Pindolol: tab 5 dan 10 mg
  8. Nadolol: tab 40 dan 80 mg
  9. Atenolol: tab 50 dan 100 mg

Efek Samping
  • Akibat efek farmakologisnya: bradikardi, blok AV, gagal jantung, bronkospasme
  • Sal cerna: mual, muntah, diare, konstipasi
  • Sentral: mimpi buruk, insomnia, halusinasi, rasa capai, pusing, depresi
  • Alergi; rash, demam dan purpura
Dosis lebih: hipotensi, bradikardi, kejang, depresi

Indikasi Dan Kontraindikasi
  • Indikasi: angina pectoris, aritmia, hipertensi, infark miokard, kardiomiopati obstruktif hipertropik, feokromositoma (takikardi dan aritmia akibat tumor), tirotoksikosis, migren, glaukoma, ansietas
  • Kontra indikasi: Penyakit Paru Obstruktif, Diabetes Militus (hipoglikemia), Penyakit Vaskuler, Disfungsi Jantung

Calsium Antagonis
  • Nama lain Ca antagonis = Calcium entry blocker = Calcium channel blocker
  • Macam:
  • Dihidropiridin: nifedipin, nikardipin, felodipin, amlodipin
  • Difenilalkilamin: verapamil, galopamil, tiapamil
  • Benzotizepin: diltiazem
  • Piperazin: sinarizin, flunarizin
  • Lain-lain: prenilamin, perheksilin

Farmakodinamik
  • Ion ca diperlukan untuk kontraaksi otot polos dan jantung
  • Ca antagonis → menghambat masuknya Ca kedalam membran sel (sarkolema) → kontraksi menurun
  • Mekanisme antiangina:
  • Vasodilatasi perifer
  • Pengurangan kontraktilitas miokard
  • Penurunan frekuensi jantung

Farmakokinetik
  • Nifedipin, verapamil dan diltiazem mudah larut dalam lemak  mudah diabsorbsi pada pemberian po dan sublingual
Dosis:
  • Nifedipin (3x10-20mg),
  • Verapamil (3x80-120mg) dan
  • Diltiazem (3-4x60mg)
Efek Samping
  • Nyeri kepala berdenyut
  • Muka merah
  • Pusing
  • Edema perifer
  • Hipotensi
  • Takikardia
  • Kelemahan otot
  • Mual
  • Konstipasi
  • Gagal jantung
  • Syok kardiogenik

Glikosida Jantung
  • Digitalis berasal dari daun Digitalis purpurea
  • Digitalis adalah obat yang meningkatkan kontraksi miokardium
  • Digitalis mempermudah masuknya Ca dari tempat penyimpananya di sarcolema kedalam sel →digitalis mempermudah kontraksi
  • Digitalis menghambat kerja Na-K-ATP-ase → ion K didalam sel menurun → aritmia (diperberat jika dikombinasi dengan HCT)

Farmakodinamik
  • Efek pada otot jantung: meningkatkan kontraksi
  • Mekanisme kerjanya:
  • Menghambat enzim Na, K ATP-ase
  • Mempercepat masukanya Ca kedalam sel
  • Efek pada payah jantung: menurunya tekanan vena, hilangnya edema, meningkatnya diuresis, ukuran jantung mengecil
  • Konstriksi vaskuler, sal cerna (mual, muntah, diare), nyeri pada tempat suntukan (iritasi jaringan)

Farmakokinetik
  • Absorbsi dipengaruhi makanan dalam lambung, obat (kaolin, pectin) serta pengosongan lambung
  • Distribusi glikosida lambat
  • Eliminasi melalui ginjal

Intoksikasi
  • Keracunan biasanya terjadi karena:
  • Pemberian dosis yang terlalu cepat
  • Akumulasi akibat dosis penunjang yang terlalu besar
  • Adanya predisposisi keracunan
Dosis berlebihan
  • Gejala: sinus bradikardi, blokade SA node, takikardi ventrikel, fibrilasi ventrikel, gangguan neurologik (sakit kepala, letih, lesu, pusing, kelemahan otot), penglihatan kabur

Sediaan
  • Tablet Lanatosid C (cedilanid) 0,25 mg
  • Digoksin 0,25 mg
  • Beta-metildigoksin 0,1 mg

Anti Hipertensi
  • Obat yang dipergunakan untuk menurunkan tekanan darah
Obat Antihipertensi dibedakan:
  1. Diuretik
  2. Beta bloker
  3. Alfa bloker
  4. Ca antagonist
  5. Penghambat ACE
  6. Penghambat saraf sentral
  7. Vasodilator

Klasifikasi HT



Tahapan Terapi HT
  • Modifikasi pola hidup:
  • Penurunan BB
  • Aktivitas fisik teratur
  • Pembatasan garam dan alkohol
  • Berhenti merokok
Pilihan antihipertensi
  • Diuretik atau beta bloker
  • Penghambat ACE, antagonis Ca, alfa bloker, alfa,beta bloker

Diuretik
  • Cara kerja: meningkatkan ekskresi Na, Cl dan air → mengurangi volume plasma dan cairan ekstrasel → tekanan turun
  • Efek samping: hipokalemia, hipomagnesemia, hiponatremia, hiperuresemia, hiperkalsemia, hiperglikemia, hiperkolesterolemia, dan hipertrigliseridemia → mengurangi efek dengan dosis rendah dan pengaturan diet

  • Diuretik tiazid: Hidroklorotiazid, Klortalidon, Bendroflumetiazid, Indapamid, Xipamid
  • Diuretik kuat: furosemid
  • Diuretik hemat kalium: Amilorid, Spironolakton

Beta Blocker

Cara kerja:
  • Pengurangan denyut jantung dan kontraktilitas miokard → curah jantung berkurang
  • Hambatan pelepasan NE (nor epineprin) melalui hambatan reseptor beta-2
  • Hambatan sekresi renin melalui hambatan reseptor beta-1 di ginjal
  • Efek sentral

Alfa Blocker
  • Alfa-1 bloker menghambat reseptor alfa-1 di pembuluh darah terhadap efek vasokontriksi NE dan E → terjadi dilatasi arteriole dan vena → tekanan turun
  • Efek NE di jantung tidak dihambat → kontraksi jantung meningkat → alfa bloker yang non selektif tidak efektif sbg AH
  • Efek samping: hipotensi ortostatik (pada dosis awal besar), sakit kepala, palpitasi, rasa lelah, udem perifer, hidung tersumbat, nausea
Contoh:
  • Doxazosin
  • Prazosin
  • Terazosin
  • Bunazosin

Alfa beta bloker: Labetalol

Penghambat ACE
  • Mengurangi pembentukan A2 (angiotensin2) → vasodilatasi dan penurunan sekresi aldosteron → ekskresi natrium dan air serta retensi K → penurunan TD
  • Efek samping: batuk kering, rash, gangguan pengecap (disgeusia), GGA, hiperkalemia

Contoh Penghambat ACE
  1. Kaptopril
  2. Lisinopril
  3. Enalapril
  4. Benazepril
  5. Delapril
  6. Fosinopril
  7. Kinapril
  8. Perindopril
  9. Ramipril
  10. Silazapril

Calsium Antagonis
  • Ca antagonis → menghambat masuknya Ca kedalam membran sel (sarkolema) → kontraksi menurun → TD menurun
  • Gol dihidropiridin (nifedipin, nikardipin, isradipin, felodipin, amlodipin): bersifat vaskuloselektif → (1) tidak ada efek pd nodus AV dan SA, (2) menurunkan resistensi perifer tanpa depresi fungsi jantung, (3) relatif aman dlm kombinasi dng beta bloker
  • Efek samping: hipotensi berlebihan, takikardi, palpitasi, sakit kepala, pusing, muka merah

Adrenolitik Sentral
  • Adrenolitik sentral (alfa-2 agonis): Metildopa, Klonidin, Guanfasin
  • Klonidin, metildopa, guanfasin, guanabenzin adalah obat AH yang bekerja menghambat perangsangan neuron adrenergik di SSP → denyut jantung lambat → TD turun
Efek samping:
  • Klonidin: mulut kering, sedasi
  • Metildopa: mulut kering, sedasi, hipotensi postural, pusing, sakit kepala

Penghambat Saraf Adrenergik
  • Penghambat saraf adrenergik: Reserpin, Rauwolfia (akar), Guanetidin, guanadrel
  • Reserpin dan Alkaloid Rauwolfia →mengurangi resistensi perifer, denyut jantung dan curah jantung → TD turun
  • Efek samping: bradikardi, mulut kering, diare, mual, muntah, anoreksia, bertambahnya nafsu makan, hiperasiditas lambung, mimpi buruk, depresi mental, disfungsi seksual

Vasodilator
  • Vasodilator: Hidralazin, Minoksidil, Diazoksid, Na Nitroprusid
  • Merelaksasi otot polos → vasodilatasi → TD turun
  • Hidralazin menurunkan TD diastol > TD sistol dengan menurunkan resistensi perifer → lebih selektif mendilatasi arteriole daripada vena → hipotensi postural jarang terjadi
  • Efek samping: retensi Na dan air, sakit kepala, takikardi

Referensi
  1. Deglin, Vallerand, 2005, Pedoman Obat Untuk Perawat, Jakarta, EGC
  2. Ganiswarna, 1995, Farmakologi dan Terapi, Jakarta, FKUI
  3. Kee, Hayes, 1996, Farmakologi Pendekatan Proses Keperawatan, Jakarta, EGC

ANALGETIK ANTIPIRETIK NON NARKOTIK 2

Dr. Suparyanto, M.Kes

Antipiretik
  • Penggunaan umum: menurunkan demam (infeksi, inflamasi dan neoplasma)
Kerja obat dan informasi umum:
  • Mempengaruhi Termostat hipotalamus
  • Menghambat kerja prostaglandin
  • Kontra indikasi: hindari pemakaian aspirin atau ibuprofen pada pasien gangguan perdarahan (juga pada anak dan remaja)

  • Perhatian: hati2 penggunaan aspirin atau ibuprofen pada penderita ulkus peptikum
  • Interaksi:
  • Aspirin dosis berat menggeser obat lain yang berikatan dengan protein
  • Iritasi GI tambahan dengan: ibuprofen, aspirin, anti inflamasi non steroid, glukokortikoid
  • Aspirin atau ibuprofen meningkatkan risiko perdarahan bila digunakan bersama obat hemostasis (antikoagulan, trombolitik, antineoplastik, antiinfeksi)

Implikasi keperawatan:
  • kaji demam, catat gejala penyerta (diforesis, takikardia, malaise)
  • Diagnosis keperawatan potensial:
  • Risti gangguan suhu tubuh (indikasi)
  • Kurang pengetahuan sehubungan dengan program pengobatan (penyuluhan px/kel)
Implementasi:
  • Pemberian bersama makan atau antasid dapat meminimalkan iritasi GI (aspirin dan ibuprofen)
  • Sediaan oral, rektal atau kombinasi dng obat lain

Penyuluhan Penderita / Keluarga:
  • Anjurkan penderita konsultasi dng dokter bila demam tidak berkurang atau demam > 39,5oC atau demam lebih dari 3 hari
  • Hati2 pemberian aspirin pada anak atau remaja terutama penyakit virus (varisela, influenza) → Sindrome Reye (muntah, letih, delirium dan koma)
  • Evaluasi: efektivitas terapi ditunjukan dengan penurunan demam

Parasetamol

Farmakokinetik:
  • Absorpsi: PO: diserap dengan baik
  • Distribusi: luas, menembus plasenta, ASI
  • Metabolisme: 85-95% di hati, metabolik bersifat toksik pada overdosis, t ½ : 1 – 4 jam
  • Eliminasi: ginjal
Kerja obat:
  • Menghambat sintesis prostaglandin (sebagai mediator nyeri dan demam)

Efek terapeutik:
  • Analgesik (inhibisi prostaglandin perifer)
  • Antipiretik (mengatur setting termostat)
  • Inhibisi prostaglandin di SSP
  • Tidak memiliki antiinflamasi yg signifikan
  • Indikasi: nyeri ringan sampai sedang, demam
Kontraindikasi:
  • Hipersensitivitas
  • Hati2: penyakit hati, ginjal, pencandu alkohol, malnutrisi, kehamilan dan laktasi

Efek samping:
  • Nekrotik hepatis, ruam dan urtikaria
Interaksi:
  • Penggunaan bersama antipsikotik fenotiazin → menyebabkan hipotermia berat
  • Penggunaan bersama alkohol, fenobarbital → hepatotoksik
  • Dosis: 325 – 1000 mg setiap 6 jam

IMPLIKASI KEPERAWATAN ANTIPIRETIK

Pengkajian
  • Kaji status gizi (malnutrisi), pencandu alkohol → risiko hepatotoksik
  • Nyeri: kaji jenis, lokasi dan intensitas nyeri sebelum dan 30-60 menit setelah pemberian
  • Demam: kaji adanya tanda penyerta: diaforesis, takikardia dan malaise
  • Test: fungsi hati dan ginjal, hematopoitik

Penyuluhan
  • Minum obat tidak boleh dosis lebih dan lama →hepatotoksik (dewasa mak 10 hari, anak mak 5 hari)
  • Hubungi dokter jika ada rasa tidak nyaman, demam tidak berkurang, demam >39,5 oC atau setelah >3 hari
  • Evaluasi efektivitas terapi: berkurangnya demam, berkurang rasa tidak nyaman ringan - sedang

ANALGETIK

Asetosal

Farmakokinetik:
  • PO: cepat diabsorpsi, rectal tidak tentu
  • Distribusi: PP 20 – 50%
  • Metabolisme: t ½ : 1 – 3,5 jam
  • Eliminasi: ginjal, diekskresi sebagai metabolit
Farmakodinamik:
  • P: 1 – 2 jam (kadar puncak)
  • L: 3 – 5 jam (lama kerja)

  • Efek terapeutik: analgesik dan antipiretik
  • Efek samping: anoreksia, muntah, diaforesis
  • Reaksi yang merugikan: hipoglikemia berat, perdarahan, oliguria, anemia hemolitik, lekopenia
  • Dosis: 325 – 650 mg (4x sehari)

PROSES KEPERAWATAN ANALGETIK NON NARKOTIK

Pengkajian
  • Tentukan apakah ada riwayat: rasa tidak enak di lambung, perdarahan lambung atau penyakit hati (aspirin dan ibuprofen dapat menimbulkan iritasi lambung)
  • Pemakaian asetaminofen dosis tinggi jangka lama dapat menyebabkan hepatotoksisitas

Perencanaan dan Intervensi Keperawatan
  • Perencanaan: nyeri klien akan reda dalam waktu 24 – 48 jam
  • Intervensi:
  • Amati klien thd tanda dan gejala: perdarahan (melena, petekie, ekimosis) ketika klien memakai dosis besar
  • Atas ijin dokter, hentikan aspirin 3 – 7 hari sebelum pembedahan untuk mengurangi risiko perdarahan

Penyuluhan pada Klien
  • Beritahu klien untuk menjaga obat aspirin dari jangkauan anak2 (dapat menimbulkan toksik)
  • Nasehatkan untuk tidak memakai aspirin bersama dengan alkohol, dan antikoagulan (warfarin) → aspirin mengambil alih warfarin dari ikatan protein → banyak warfarin bebas → masa perdarahan memanjang → dapat terjadi perdarahan
  • Ajari klien untuk minum aspirin bersama makan

  • Beritahu orangtua untuk segera membawa anak yang minum asetosal dengan dosis besar ke UGD
  • Beritahu klien untuk tidak memberikan aspirin pada anak sakit virus → dapat menyebabkan Sindrome Reye (muntah, letih, delirium dan koma)
  • Beritahu orangtua untuk mengobati anak dengan aspirin sesuai dosis

  • Beritahu klien melaporkan: rasa mengantuk, tinitus, sakit kepala, flushing, pusing, perubahan penglihatan → ini merupakan tanda toksisitas aspirin
  • Beritahu klien melaporkan: tanda alergi (ruam, biduran, gatal)
  • Nasehatkan klien untuk memeriksa label obat bebas, karena beberapa mungkin mengandung aspirin

Evaluasi
  • Evaluasi efektivitas: meredakan nyeri
  • Jika nyeri menetap → mungkin perlu dilakukan penggantian NSAID atau penyesuaian dosis
  • Tentukan jika klien mengalami efek samping → mungkin perlu penggantian obat atau perubahan dosis

Anti Inflamasi
  • Antiinflamasi: proses peradangan sebagai respon terhadap cedera jaringan dan infeksi
  • Cedera jaringan menyebabkan: pelepasan mediator kimia (histamin, kinin, prostaglandin) → mediator tsb menyebabkan;
  • Vasodilatsi (eritema)
  • Permeabilitas meningkat (edema)
  • Nyeri (akibat edem)
  • Demam (akibat pirogen)

  • Prostaglandin: menyebabkan vasodilatasi, relaksasi otot polos, meningkatkan permiabilitas kapiler, sensitisasi saraf thd nyeri
  • Obat anti prostaglandin (aspirin) bekerja menghambat prostaglandin → karena itu disebut obat antiinflamasi

Ibuprofen

Farmakokinetik:
  • Absorpsi: PO: diserap dengan baik
  • Distribusi: PP: 98%
  • Metabolisme: t ½ : 2 – 4 jam
  • Eliminasi: ginjal sebagi metabolit inaktif

Farmakodinamik:
  • PO: mula: 30 menit
  • P: 1 – 2 jam
  • L: 4 – 6 jam

Efek terapeutik:
  • Antiinflamasi untuk: artritis rematoid, osteoastritis dan gout
  • Meredakan nyeri: dismenorea, perawatan gigi, nyeri muskuloskeletal
  • Efek samping: anoreksia, mual, muntah, diare, edema, ruam kulit, purpura, tinitus, pusing letih
  • Reaksi merugikan:perdarahan gastrointestinal, diskrasia darah, aritmia jantung, nefrotoksisitas, anafilaksis
  • Kontra indikasi: penyakit hati dan ginjal yang berat, asma, tukak tukak peptik

PROSES KEPERAWATAN NSAID

Pengkajian Perencanaan
  • Tanyakan riwayat alergi termasuk aspirin → bila ada alergi laporkan dokter
  • Kaji klien thd adanya: tidak enak gastrointestinal, edem perifer (keduanya tanda/gejala efek samping NSAID)
  • Perencanaan: proses inflamasi akan mereda dalam waktu 1 – 3 minggu

Intervensi Keperawatan
  • Laporkan gejala:gastrointestinal, nyeri lambung, mual, muntah, atau diare ketika minum obat antigout
  • Rasa tidak enak di lambung dapat dikurangi dengan minum obat bersama makan
  • Pantau urine → asam urat dibuang lewat urine, dpt terbentuk batu ginjal → perlu minum banyak

Penyuluhan Pada Klien
  • Beritahu klien untuk banyak minum → menambah ekskresi asam urat
  • Beritahu klien untuk melaporkan setiap keluhan lambung
  • Anjurkan klien untuk minum obat bersama makan
  • Anjurkan klien untuk kontrol dan pemeriksaan darah teratur → antigout menyebabkan diskrasia darah

Evaluasi
  • Evaluasi respon klien terhadap obat antigout
  • Jika nyeri tetap, regimen obat perlu diubah

Referensi
  1. Deglin, Vallerand, 2005, Pedoman Obat Untuk Perawat, Jakarta, EGC
  2. Ganiswarna, 1995, Farmakologi dan Terapi, Jakarta, FKUI
  3. Kee, Hayes, 1996, Farmakologi Pendekatan Proses Keperawatan, Jakarta, EGC

ANALGETIK ANTIPIRETIK NON NARKOTIK

Dr. Suparyanto, M.Kes

Pengertian
  • Analgesik: anti nyeri
  • Antipiretik: anti demam
  • Obat non narcotik analgetik antipiretik: obat yang dapat menghilangkan/ mengurangi rasa nyeri dan dapat menurunkan suhu tubuh dalam keadaan demam, tanpa mengganggu kesadaran

Cara Kerja
Analgesik:
  • Central (Thalamus) → dengan jalan meningkatkan nilai ambang rasa nyeri
  • Perifer: merubah interpretasi rasa nyeri
  • Antipiretik: melalui termostat di hipotalamus → mempengaruhi pengeluaran panas dengan cara: vasodilatasi perifer dan meningkatkan pengeluaran keringat
  • Anti inflamasi: menghambat sintesa prostaglandin
  • Prostaglandin menimbulkan eritema, vasodilatasi dan peningkatan aliran darah lokal

Farmakodinamik
  • Efek analgesik: efektif terhadap nyeri intensitas rendah sampai sedang (sakit kepala, mialgia, artralgia, nyeri yang berasal dari integumen, nyeri inflamasi)
  • Efek antipiretik: menurunkan suhu saat demam, (fenil butason dan antirematik tidak dibenarkan sbg antipiretik)
  • Efek anti inflamasi: untuk kelainan muskuloskeletal (artritis rematoid, osteoartritis, spondilitis ankilosa), hanya simptomatis

Efek samping
  • Induksi tukak lambung, kadang disertai anemia skunder akibat perdarahan saluran cerna
  • Gangguan fungsi trombosit → gangguan biosintesis tromboksan A2 (TXA2) → perpanjangan waktu perdarahan (efek ini dimanfaatkan untuk profilaksin trombo-emboli)
  • Gagal ginjal pada penderita gangguan ginjal → gangguan homeostasis ginjal
  • Reaksi alergi: rinitis vasomotor, edem angioneurotik, urtikaria luas, asma bronkial, hipotensi sampai syok

Klasifikasi non narkotik Analgesik Antipiretik
  1. Salisilat
  2. Asam organik
  3. Para aminofenol
  4. Firazolon
  5. Quinolon
  6. Non Addicting Opioid

Golongan Salisilat
  • Merupakan derivat asam salisilat, berasal dari tumbuhan Willow Bark = Salix alba
  • Efek farmakologi:
  • Anti inflamasi → menghambat sintesa prostaglandin
  • Analgesik → sentral dan perifer
  • Antipiretik → termostat hipotalamus
  • SSP →respirasi (dosis tinggi → depresi pernafasan → respirasi alkalosis → metabolik asidosis, behavior, nausea dan vomiting

Efek farmakologi:
  • Endokrin → ACTH ↑, sintesa protrombin ↓, menghambat agregasi trombosit (blooding time ↑)
  • Farmakokinetik:
  • Reabsorbsi di lambung dan usus,
  • Distribusi ke semua jaringan, dapat menembus plasenta
  • Ekskresi melalui urine

Penggunaan Klinis:
  • Sistemik: analgetik, antipiretik, anti inflamasi, anti gout
  • Lokal: keratolitik, counter iritant
  • Reaksi merugikan:
  • Efek samping: iritasi lambung, alergi
  • Toksisitas: salicylisme, hipertermis, gangguan behavior, respirasi alkalosis

Sediaan:
  • Acetyl Salicylic Acid (aspirin, acetosal)
  • Sodium salisilat
  • Salicylamid
  • Salicylic acid → sebagai topikal
  • Metil salicylat → sebagai topikal

Golongan Asam Organik
  • Dibanding aspirin, kurang efektif (sebagai antiinflamasi, analgesik), toksisitasnya lebih kecil
  • Efek: analgesik, antipiretik, anti inflamasi, iritasi pada lambung, menghambat sintesa protrombin dan agregasi trombosit

Sediaan:
  • Mefenamic acid (Ponstan), Indometacin (Indocin), Ibuprofen (Brufen), Meclofenamat (Meclomen), Fenbufen (Cybufen), Carprofen (Imadil), Diclofenac (Voltaren), Ketoprofen (Profenid)

Golongan Para Amino Fenol

Indikasi:
  • Sebagai analgesik dan antipiretik
  • Jangan digunakan dalam jangka waktu lama → nefropati analgesik
Sediaan;
  • Tablet 500mg
  • Sirup 120mg/5ml
Dosis:
  • Dewasa: 300 – 1g per kali maksimum 4x
  • Anak: 10 mg/kgBB/kali maksimum 4x

Perbedaan dengan salisilat:
  • Kurang atau tidak iritasi terhadap gaster
  • Tidak mempunyai sifat anti inflamasi
  • Tidak mempunyai efek uricosuric
Reaksi merugikan:
  • Alergi: eritem, urtikaria, demam, lesi mukosa
  • Intoksikasi akut: dizzines, excitement, diorientasi, central lobuler necrosis hepar, renal tubuler necrosis, methaemogloninemia, anemia hemolitik

Reaksi merugikan:
  • Intoksikasi kronis: hemolitic anemia, methaemoglobinemia, kelainan ginjal (interatitiel necrosis, papillary necrosis)
Sediaan:
  • Fenasetin
  • Asetaminofen (Parasetamol)

Golongan Pirazolon

Efek farmakologi:
  • Analgesik →meningkatkan nilai ambang rasa nyeri
  • Antipiretik → mempengaruhi termostat
  • Anti inflamasi → efeknya lemah
  • Kurang iritasi lambung → kecuali fenilbutazon
Reaksi merugikan:
  • Agranulositosis, anemia aplastik, trombositopenia, hemolisis, udem, tremor, mual, muntah, perdarhan lambubg, anuria

Efek merugikan;
  • Fenil butazon, Oksifenbutazon: edema (retensio urina), mulut kering, nausea, vomiting, perdarahan lambung, renal tubuler necrosis, liver necrosis, alergi (dermatitis exfoliative), agranulositosis
  • Kontra indikasi: ulcus pepticum, hipertensi, (karena sifat retensi air dan natrium) dan alergi

  • Fenilbutazon: digunakan untuk mengobati artritis rematoid
  • Efek antiinflamasinya sama kuat dengan salisilat, serta punya efek uricosuric ringan
  • Efek retensi natrium dan klorida menyebabkan edema dan bertambahnya volume plasma  payah jantung
  • Diabsorbsi cepat po → kadar maksimum 2 jam
  • Indikasi: pirai akut, artritia rematoid, gangguan sendi (spondilitis ankilosa, osteoartritis)

Sediaan:
  • Aminopirin (piramidon) dan Antipirin (fenazon) → tidak digunakan lagi (1977) karena toksik → nitrosamin (karsinogenik)
  • Fenilbutazon (butazolidin) dan Oksifenbutazon → karena toksisitasnya (koma, trismus, kejang, syok, asidosis metabolik, depresi sumsum tulang, proteinuria, hematuria, oliguria, gagal ginjal, ikterus) digunakan jika obat lain yang lebih aman tidak ada
  • Dipiron (antalgin/novalgin): Tablet 500 mg dan larutan suntik 500 mg/ml

  • Dipiron: hanya digunakan sebagai analgesik antipiretik, antiinflamasinya lemah
  • Keamanan diragunakan, sebaiknya digunakan secara suntikan
Efek samping dan intoksikasi:
  • Agranulositosis, anemia aplastik dan trombositopenia (perhatikan penggunaan jangka panjang)
  • Hemolisis, udem, tremor, mual, muntah, perdarahan lambung dan anuria

AINS lainnya
  • Asam mefenamat dan Meklofenamat → digunakan sebagai analgesik, sebagai anti inflamasi kurang efektif dibanding aspirin, tidak dianjurkan untuk anak, wanita hamil dan pemakaian >7 hari
  • Terikat sangat kuat pada protein plasma → perhatikan interaksi dengan antikoagulan
  • Efek samping: dispepsia, iritasi lambung, diare, alergi(eritem kulit, bronkospasme), anemia hemolitik
  • Dosis: 2-3kali 250-500mg

  • Diklofenak: absorbsi cepat dan lengkap
  • Efek samping: mual, gastritis, eritema kulit, sakit kepala
  • Tidak disarankan pada waktu wanita hamil
  • Dosis dewasa; 100 – 150 mg sehari terbagi 2-3 dosis

  • Ibuprofen → bersifat analgesik, antiinflamasinya tidak kuat, tidak dianjurkan pada wanita hamil dan menyusui
  • Absorbsi melalui lambung, kadar maksimum 1-2 jam
  • Efek samping: saluran cerna (lebih ringan dibanding aspirin), eritema kulit, sakit kepala, trombositopenia
  • Dosis: 4 x 400mg

  • Piroksikam: indikasi untuk antiinflamasi sendi (artritis reumatoid, osteoartritis, spondilitis ankilosa),
  • Efek samping: iritasi lambung, pusing, tinitus, nyeri kepala, eritema kulit,
  • Tidak dianjurkan pada wanita hamil, ulcus peptikum dan terapi antikoagulan
  • Dosis: 10 – 20 mg per hari

Obat Pirai

Ada 2 macam:
  1. Obat yang menghentikan proses inflamasi akut: kolkisin, fenilbutason, oksifenbutason, indometasin
  2. Obat yang mempengaruhi kadar asam urat: probenesid, alopurinol dan sulfinpirazon

Kolkisin
  • Merupakan alkaloid dari bunga leli (Colchicum autumnale)
  • Sifat anti inflamasi-nya spesifik untuk pirai tidak secara umum
  • Tidak meningkatkan: ekskresi, sintesis atau kadar asam urat dalam darah
  • Indikasi: pirai
  • Dosis: 0,5 – 0,6 mg tiap jam sampai gejala akut reda atau gangguan saluran cerna timbul

Alopurinol
  • Menurunkan kadar asam urat
  • Obat ini bekerja menghambat xantin oksidase, enzim yang mengubah hipoxantin → xantin → asam urat
  • Efek samping: reaksi kulit (kemerahan), alergi (demam, menggigil, leukopenia, leukositosis, eosinofilia, artralgia, pruritus)
  • Dosis: 200 – 400 mg sehari

Referensi
  1. Deglin, Vallerand, 2005, Pedoman Obat Untuk Perawat, Jakarta, EGC
  2. Ganiswarna, 1995, Farmakologi dan Terapi, Jakarta, FKUI
  3. Kee, Hayes, 1996, Farmakologi Pendekatan Proses Keperawatan, Jakarta, EGC

    Thursday, March 18, 2010

    PENGUKURAN NILAI TENGAH

    Dr. Suparyanto, M.Kes

    Apa Itu Nilai Tengah
    • Tendensi sentral atau nilai tengah: ialah angka yang mewujudkan nilai yang terletak ditengah dari hasil observasi pada suatu agregat
    Macam tendensi sentral:
    1. Mean
    2. Median
    3. Modus

    Mean
    • Mean adalah nilai yang diperoleh dengan cara menjumlahkan semua nilai pengamatan dibagi jumlah semua pengamatan dalam agregat
    Sifat mean adalah:
    • Mempertimbangkan semua nilai pengamatan
    • Dapat dimanipulasi secara matematis, sehingga dapat dipergunakan untuk keperluan statistik
    • Hanya berlaku untuk data kuantitatif
    • Sangat dipengaruhi oleh nilai ekstrem besar atau kecil

    Rumus Mean Data Distribusi Tunggal

    X = ∑x / n

    • X = mean
    • ∑x = hasil penjumlahan nilai observasi
    • n = jumlah observasi

    Contoh Soal
    • Sepuluh pegawai di PT Samudra penghasilan sebulanya dalam satuan ribu rupiah adalah sebagai berikut:
    • 90, 120, 160, 180, 190, 90, 180, 70, 160, 100
    • Me = (90+120+160+180+190+90+180+70+160+100) : 10 = 150
    • Jadi penghasilan rata-rata pegawai di PT Samudra = Rp.150.000,-

    Median
    • Median: merupakan nilai observasi yang terletak ditengah setelah data pengamatan diurutkan menurut besar kecilnya (array data)
    Sifat nilai median:
    • Median mudah dihitung dan mudah dimengerti
    • Dipengaruhi jumlah observasi
    • Tidak dipengaruhi oleh nilai observasi
    • Sering dipakai pada distribusi frekuensi yang miring
    • Digunakan pada data yang bersifat kuantitatif maupun kualitatif berskala ratio, interval maupun ordinal

    • Untuk menentukan nilai median harus terlebih dahulu diurutkan dan ditentukan posisi dengan cara:
    • Bila seri pengamatan genap, maka posisi median n/2
    • Bila seri pengamatan ganjil, maka posisi median n+1 / 2

    Contoh Median
    • Tinggi badan 11 Mhs Stikes Pemda: 180, 171, 170, 167, 166, 165, 164, 160, 147, 145, 144
    • Berat badan 10 Mhs Stikes Pemda: 39, 45, 52, 43, 37, 51, 65, 56, 71, 44
    • Pendidikan 5 Dosen Stikes Pemda: D3, S2, S1, S1, D3
    • 50, 60, 70 Median à 60
    • 50, 60, 70, 100.000 Median à (60+70)/2 = 65
    • SD, SMP, PT Median à SMP
    • SD, SD, SD, PT Median à SD
    • SD, SD, SMP, PT Median à antara SD dan SMP

    Modus
    • Modus adalah nilai yang memiliki frekuensi terbanyak atau sering muncul
    Sifat modus adalah:
    • Tidak dipengaruhi nilai ekstrim
    • Digunakan baik pada data kualitatif (nominal dan ordinal) maupun data kuantitatif (interval dan rasio)

    Contoh Modus


    Data kualitatif
    • Kebanyakan Mahasiswa di Jogja naik sepeda
    • Kebanyakan pemuda Indonesia merokok
    • Pada umumnya Pegawai Negeri Sipil tidak disiplin
    • Pada umumnya warna mobil tahun 70-an adalah cerah, sedangkan tahun 80-an adalah gelap

    Data kuantitatif
    • Data umur pegawai di Departemen X adalah: 20, 45, 60, 56, 45, 45, 20, 19, 57, 45, 45, 51, 35

    Modus Data Kelompok

    Modus = b + p (f1 / (f1+f2))

    • b = batas klas bawah frekuensi terbanyak
    • p = panjang klas
    • f1 = frek klas terbanyak – f sebelumnya
    • f2 = frek klas terbanyak – f sesudahnya

    Median Data Kelompok

    Median = b + p (1/2n – F / f)

    • b = batas bawah, dimana median akan terletak
    • p = panjang klas
    • n = banyak data
    • F = cf = jumlah semua frekuensi sebelum klas median
    • f = frekuensi klas median

    Mean Data Kelompok



    Mean = ∑f x / f

    • f = jumlah data
    • x = nilai rata-rata batas interval/ midpoint kelas interval
    • Misal interval: 21 – 30 → x = 21 + 30 / 2 = 25,5

    Contoh Soal Nilai Tengah
    Hitungan Modus
    • Klas modus = klas ke-4 (f=30)
    • b = 51 – 0,5 = 50,5
    • f1 = 30 – 18 = 12
    • f2 = 30 – 20 = 10
    • Modus = 50,5 + 10 (12 / (12+10)) = 55,95

    Hitungan Median
    Klas median = klas ke-4 (f=30)
    • b = 51 – 0,5 = 50,5
    • p = 10
    • f = 30
    • F = cf = 2 + 6 + 18 = 26
    • Median = 50,5 + 10 ((50-26) / 30)

    Hitungan Mean
    • Mean = 6072/100 = 60,72

    Latihan
    • Hasil pemeriksaan tinggi badan pada 10 Mhs: 171, 168, 158, 172, 165, 158, 169, 164, 178, 163
    • Berapa tinggi rata-rata atau mean tinggi badan Mhs tersebut?
    • Mean = 166,6 cm

    • Hasil ujian UTS biostatistik Mahasiswa Stikes dengan nilai rata-rata 65,9. sedangkan hasil ujian UAS rata-rata 71,2. Berapa mean nilai tersebut jika UTS diberi bobot 1 dan UAS diberi bobot 2
    • (65,9 x 1) + (71,2 x 2) / (1 + 2) =
    • Mean = 69,4

    • Berat badan 15 Mhs Stikes: 51, 54, 55, 58, 63, 64, 65, 68, 69, 71, 72, 78, 79, 80
    • Berapa mean, median, modus?
    • Mean = 65,7
    • Median = 65
    • Modus = 58

    Latihan
    Hasil nilai ujian 40 Mhs Stikes dibagi menjadi 4 group sebagai berikut:




    Hitung: Mean, Modus dan Median?

    REFERENSI:
    1. Budiarto, 2004, Metodologi Penelitian Kedokteran, Sebuah Pengantar, Jakarta, EGC
    2. Hasan, 2005, Pokok Pokok Materi Statistik 1 (statistik Deskriptif), Jakarta, Bumi Aksara
    3. Hasan, 2005, Pokok Pokok Materi Statistik 2 (statistik Infereansif), Jakarta, Bumi Aksara
    4. Nasution, 2004, Metode research (penelitian Ilmiah), Jakarta, Bumi Aksara
    5. Silalahi, 2003, Metodologi Penelitian dan Studi Kasus, Sidoarjo, Citramedia
    6. Tjokronegoro, 2004, Metologi Penelitian Bidang kedokteran, Jakarta, Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

    PENGUKURAN DISPERSI

    Dr. Suparyanto, M.Kes

    Pengertian Dispersi
    • Ukuran Dispersi/ Variasi/ Penyimpangan adalah ukuran yang menyatakan seberapa jauh penyimpangan nilai-nilai individu terhadap nilai pusatnya (rata-rata)
    • Jenis ukuran dispersi ada 4:
    • Jangkauan = Range
    • Deviasi rata-rata = Simpangan rata-rata
    • Varians
    • Simpangan baku = Standar Deviasi

    Range
    • Range atau Jangkauan adalah selisih nilai terbesar dengan nilai terkecil
    • Range data tunggal:
    • Contoh: Tentukan range data berikut:
    • 7,4,11,1,9, 8
    • Range = 11 – 1 = 10

    Contoh Soal
    • Sepuluh pegawai Stikes Jombang, gaji masing-masing tiap bulanya dalam ribuan rupiah adalah sbb:
    • 50, 75, 150, 170, 175, 190, 200, 400, 600, 700
    • Berapa range gaji pegawai tsb?
    • Range: 700 – 50 = 650
    • Makin besar range → makin bervariasi

    Range Data Kelompok
    Cara menghitung range data kelompok:
    1. Selisih titik tengah kelas tertinggi dengan titik tengah kelas terendah
    2. Selisish tepi atas kelas tertinggi dengan tepi bawah kelas terendah

    Contoh Soal Range



    Hitung range data kelompok diatas;
    • Titik tengah kelas terendah = 142
    • Titik tengah kelas tertinggi = 172
    • Tepi bawah kelas terendah = 139,5
    • Tepi bawah kelas tertinggi = 174,5
    • Range = 172 – 142 = 30
    • Range = 174,5 – 139,5 = 35

    Deviasi Rata-rata
    • Deviasi rata-rata: adalah nilai rata-rata hitung dari harga mutlak simpangannya
    Deviasi rata-rata data tunggal:

    DR = ∑ ⅼ X – X1 ⅼ/ n =

    X = nilai individu
    X1 = nilai rata-rata
    n = jumlah data

    Contoh Soal
    Tentukan deviasi rata-rata dari:
    • 2, 3, 6, 8, 11
    • X1 = (2+3+6+8+11) / 5 = 6
    • Cara mencari deviasi rata-rata dapat menggunakan tabel bantu sbb:
    • DR = 14 / 5 = 2,8

    Tabel Bantu



    Deviasi Rata-rata Kelompok

    Rumus:

    DR = (∑ f ⅼ X – X1 ⅼ) / n

    • f = frekuensi kelompok
    • X = nilai tengah kelompok
    • X1 = rata-rata nilai tengah kelompok
    • n = jumlah f

    Contoh Soal Deviasi Kelompok 1



    Contoh Soal Deviasi Kelompok 2




    DR = (∑ f ⅼ X – X1 ⅼ) / n

    DR = 282 / 50 = 5,64

    Varians
    • Varians merupakan jumlah kuadrat semua deviasi nilai-nilai individu terhadap rata-rata nilai kelompok
    • Akar varians disebut standart deviasi atau simpangan baku
    • Varians sample = s2
    • Varians populasi = σ2 (sigma)

    Varians Data Tunggal
    Untuk sample besar (>30)

    s2 = ∑ (X – X1)2 / n

    • s2 = Varians
    • X = nilai individu
    • X1 = nilai rata-rata
    • n = jumlah data

    Untuk sample kecil (n≤30)

    s2 = ∑ (X – X1)2 / n-1

    • s2 = Varians
    • X = nilai individu
    • X1 = nilai rata-rata
    • n = jumlah data
    • Varians Data Kelompok
    Varians Data Kelompok
    Untuk sample besar (>;30)

    s2 = ∑ f(X – X1)2 / n

    • s2 = Varians
    • f = frekuensi kelompok
    • X = nilai tengah kelompok
    • X1 = rata-rata nilai tengah kelompok
    • n = jumlah f

    Untuk sample kecil (n≤30)

    s2 = ∑ f(X – X1)2 / n-1

    • s2 = Varians
    • f = frekuensi kelompok
    • X = nilai tengah kelompok
    • X1 = rata-rata nilai tengah kelompok
    • n = jumlah f

    Contoh Soal
    Tentukan varians dari data:
    • 2, 3, 6, 8, 11
    • n = 5
    • X1 = (2+3+6+8+11)/5 = 6

    Contoh Soal Varian



    s2 = ∑ (X – X1)2 / n-1

    (54)/ (5-1) = 13,5

    Contoh Soal Varians 2



    Contoh Soal Varians 3



    X1 =(66+69+72+75+78+81) / 6 = 73,425

    s2 = ∑ f(X – X1)2 / n

    s2 = (467,790) / 40 =
    11,694

    Standart Deviasi (SD)
    • Simpangan Baku atau Standart deviasi adalah akar dari varians
    • Standart Deviasi sample = s
    • Standart Deviasi populasi = σ (sigma)
    Untuk sample besar (> 30)

    s = √ ∑ (X – X1)2 / n

    • s = Standart Deviasi
    • X = nilai individu
    • X1 = nilai rata-rata
    • n = jumlah data

    Untuk sample kecil (n≤30)

    s = √ ∑ (X – X1)2 / n-1

    • s = Standart Deviasi
    • X = nilai individu
    • X1 = nilai rata-rata
    • n = jumlah data
    Data Kelompok
    Untuk sample besar (>30)

    s = √ ∑ f(X – X1)2 / n

    • s = Standart Deviasi
    • f = frekuensi kelompok
    • X = nilai tengah kelompok
    • X1 = rata-rata nilai tengah kelompok
    • n = jumlah f

    Untuk sample kecil (n≤30)

    s = √ ∑ f(X – X1)2 / n-1

    • s = SD (standart deviasi)
    • f = frekuensi kelompok
    • X = nilai tengah kelompok
    • X1 = rata-rata nilai tengah kelompok
    • n = jumlah f

    Contoh Soal
    Berikut adalah sample nilai UTS Biostatistik dari sekelompok Mahasiswa Stikes Pemda Jombang:
    30, 35, 42, 50, 58, 66, 74, 82, 90, 98
    Tentukan Simpangan Bakunya!

    Contoh soal varians 4



    s = √ ∑ (X – X1)2 / n-1


    s = √ 4.950,5 / 9

    √ 550,056 = 23,45

    Contoh Soal Varians 5



    Contoh Soal Varians 6



    X1 = ∑fx / ∑f = 5.585 / 100 = 55,85

    s = √ ∑ (X – X1)2 / n

    S = √ (5.342,75) / 100 =
    7,31

    REFERENSI:
    1. Budiarto, 2004, Metodologi Penelitian Kedokteran, Sebuah Pengantar, Jakarta, EGC
    2. Hasan, 2005, Pokok Pokok Materi Statistik 1 (statistik Deskriptif), Jakarta, Bumi Aksara
    3. Hasan, 2005, Pokok Pokok Materi Statistik 2 (statistik Infereansif), Jakarta, Bumi Aksara
    4. Nasution, 2004, Metode research (penelitian Ilmiah), Jakarta, Bumi Aksara
    5. Silalahi, 2003, Metodologi Penelitian dan Studi Kasus, Sidoarjo, Citramedia
    6. Tjokronegoro, 2004, Metologi Penelitian Bidang kedokteran, Jakarta, Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

    Wednesday, March 17, 2010

    VARIABEL STATISTIK

    Dr. Suparyanto, M.Kes

    Apa Itu Variabel
    • Variabel: adalah suatu sifat atau fenomena yang menunjukan sesuatu yang dapat diamati dan nilainya berbeda-beda
    Sesuatu dikatakan variabel, jika:
    • Mempunyai nama
    • Dapat diamati atau diukur
    • Nilainya berbeda-beda
    • Memiliki definisi verbal
    • Ada kelompok penggolongan atau satuan

    Contoh variabel tinggi badan:
    • Nama : tinggi badan
    • Dapat diukur : dapat
    • Nilai pengukuran : berbeda
    • Definisi verbal : jarak antara kepala – kaki
    • Satuan : centimeter

    • Bagian dari variabel disebut: atribut
    • Variabel: jenis kelamin, tingkat pendidikan
    • Atribut: laki, perempuan →atribut dari variabel jenis kelamin
    • Atribut: SD, SMP, SMA, PT → atribut dari variabel tingkat pendidikan

    Subyek dan Obyek Penelitian
    • Jika kita akan meneliti tingkat pengetahuan ibu hamil → maka ibu hamil disebut subyek penelitian →sedangkan tingkat pengetahuan disebut obyek penelitian
    • Meneliti jumlah kunjungan Puskesmas → Puskesmas: subyek, kunjungan: obyek
    • Meneliti kemanjuran obat → obat: subyek, kemanjuran: obyek

    Macam Variabel
    • Variabel Tergantung/ Akibat / Terpengaruh/ Dependen → variabel yang dipengaruhi oleh variabel lain
    • Variabel Bebas/ Sebab/ mempengaruhi/ Independen →variabel yang mempengaruhi variabel lain
    • Contoh: variabel pendidikan dan pekerjaan →variabel pendidikan (variabel bebas), variabel pekerjaan (tergantung) → sebab pendidikan mempengaruhi pekerjaan

    Sebutkan, mana yang termasuk variabel bebas dan variabel tergantung
    1. Jenis olah raga dan bakat
    2. Pekerjaan dan jenis kelamin
    3. Kepribadian, pendidikan, dan keturunan

    Hubungan Antar Variabel
    1. Hubungan Asimetris
    2. Hubungan Simetris
    3. Hubungan Timbal Balik (Resiprocal)

    Hubungan Variabel Asimetris
    • Hubungan variabel Asimetris adalah hubungan suatu variabel yang mempengaruhi variabel lainya
    • X → Y
    • X = variabel bebas, independent, pengaruh, prediktor
    • Y = variabel tergantung, dependent, terpengaruh, kriterium

    Hubungan Variabel Simetris
    • Hubungan simetris artinya kedua variabel ada hubungan tetapi tidak saling mempengaruhi
    • Contoh: variabel Tinggi badan (Y1) dan Berat Badan (Y2) dipengaruhi oleh variabel pertumbuhan (X)
    • Antara Y1 dan Y2 ada hubungan, tetapi tidak saling mempengaruhi

    Hubungan Variabel Timbal Balik
    • Hubungan antar dua variabel yang saling mempengaruhi
    • Misal: hubungan antara variabel malnutrisi dan variabel malabsorbsi
    • Malabsorbsi akan menyebabkan malnutrisi
    • Malnutrisi akan menyebabkan atropi mukosa usus halus → malabsorbsi

    Variabel Perantara
    • Variabel perantara atau penghubung: variabel yang menjadi penghubung antara variabel bebas dan variabel tergantung
    • Misal: modernisasi (status wanita) dapat mempengaruhi fertilitas, tetapi tidak secara langsung, namun melalui kontrasepsi atau penundaan usia perkawinan → variabel kontrasepsi dan penundaan usia perkawinan disebut: Variabel Perantara

    Variabel Penekan/ Pra Kondisi
    • Variabel penekan atau prakondisi adalah variabel yang merupakan prasyarat bekerjanya variabel bebas dan variabel tergantung
    • Contoh: Kuman M. TB (variabel bebas) menyebabkan penyakit TB (varibel tergantung) → proses diatas dapat berlangsung pada saat kondisi tubuh lemah (variabel penekan/ prakondisi)

    Variabel Pengganggu/ Distorter
    • Variabel pengganggu/ distorter adalah variabel yang mengganggu bekerjanya variabel bebas dan variabel tergantung
    • Contoh: Hipotesis: akseptor KB ekonomi lemah akan lebih banyak daripada ekonomi tinggi →ternyata hipotesis tersebut salah, hal ini disebabkan ada variabel pengganggu yaitu variabel status pekerjaan: PNS dan Non PNS → ternyata hipotesis tsb benar pada pegawai non PNS

    Definisi Operasional Variabel
    • Definisi operasional adalah seperangkat instruksi yang lengkap untuk menetapkan apa yang akan diukur dan bagaimana cara mengukur variable.
    • Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun definisi operasional sebuah variable adalah:
    • Nama variable
    • Definisi verbal variable
    • Kelompok penggolongan variable
    • suatu cara untuk menggolongkannya

    • Agar variabel dapat diamati dan diukur, maka setiap konsep yang ada dalam permasalahan atau yang ada dalam hipotesis harus disusun Definisi Operasional.
    • Definisi operasional dari variabel sangat diperlukan terutama untuk menentukan alat atau instrumen yang akan digunakan dalam pengumpulan data.

    • Sebagai contoh konsep orang lapar: Orang lapar dapat didefinisikan sebagai:
    • Orang yang dapat menghabiskan sepiring nasi dalam waktu kurang dari dua menit
    • Orang yang kelihatan mengantuk, tidak suka berbicara dan kelihatan lesu.
    • Untuk menentukan seseorang lapar atau tidak, berdasarkan definisi 1 diperlukan sepiring nasi dan sebuah pencatat waktu, sedang berdasar definisi 2 tidak diperlukan alat, kecuali indera pengamatan

    Tuliskan Definisi Operasional Variabel Berikut:
    1. Pengetahuan
    2. Persepsi
    3. Sikap
    4. Perilaku
    5. Kinerja
    6. Adat
    7. Tradisi
    8. Budaya
    REFERENSI:
    1. Budiarto, 2004, Metodologi Penelitian Kedokteran, Sebuah Pengantar, Jakarta, EGC
    2. Hasan, 2005, Pokok Pokok Materi Statistik 1 (statistik Deskriptif), Jakarta, Bumi Aksara
    3. Hasan, 2005, Pokok Pokok Materi Statistik 2 (statistik Infereansif), Jakarta, Bumi Aksara
    4. Nasution, 2004, Metode research (penelitian Ilmiah), Jakarta, Bumi Aksara
    5. Silalahi, 2003, Metodologi Penelitian dan Studi Kasus, Sidoarjo, Citramedia
    6. Tjokronegoro, 2004, Metologi Penelitian Bidang kedokteran, Jakarta, Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.


      POPULASI SAMPLE SAMPLING

      Dr. Suparyanto, M.Kes

      Apa Itu Populasi
      • Populasi: kumpulan individu atau obyek yang mempunyai kateristik yang akan dihitung/diukur
      • Misal: penduduk Jombang, pasien poli kandungan, perawat puskesmas
      • Macam Populasi:
      • Populasi Finit (terhingga): diketahui jumlahnya
      • Populasi Infinit (tak terhingga): tidak diketahui jumlahnya, dapat diubah menjadi terhingga dengan cara membatasi wilayah atau jumlah

      Apa Itu Sampel
      • Sampel: adalah perwakilan dari populasi, yang dapat menggambarkan keadaan populasi yang sebenarnya
      • Pengambilan sample dilakukan dengan cara acak/random →agar semua anggota pupolasi mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih

      Apa Itu Sampling
      • Sampling adalah cara memperoleh sample dari populasi
      • Sampling dibedakan menjadi dua; random dan non random

      Random Sampling
      1. Simple Random Sampling
      2. Systematic Sampling
      3. Stratified Sampling
      4. Cluster Sampling
      5. Multistage Sampling

      Non Random Sampling
      1. Asidentil sampling
      2. Kuota sampling
      3. Purpose sampling

      Sample Random Sampling
      • Pengambilan sample dengan menggunakan tabel random atau diundi
      • Tabel Random Sampling: 88, 00, 23, 67, 14, 45, 17, 48, 79, 59, 42, 08, 54, 65, 61, 84, 86, 33, 64, 90, 15, 69, 97, 58, 80, 25, 72, 52, 35, 40, 98, 24, 21, 66, 01, 08, 23, 15, 55, 02, 32, 83, 24, 54, 52, 07, 44, 53, 64, 33, 80, 87, 18, 01, 39, 84, 62, 25, 72, 07, 17, 52, 86, 14, 06, 33, 70, 75, 89, 10, 22, 91 dst

      Sistematic Random Sampling
      • Populasi diurutkan terlebih dahulu
      • Pemilihan random diperoleh dengan cara mencari angka kelipatan
      • Angka kelipatan diperoleh dari: populasi/sample → misal: 100/50=2
      • Hasil pemilihan sample dengan angka kelipatan 2 adalah: 00, 02, 04, 06, 08, 10, 12, 14, 16, 18, 20, 22 dst

      Stratified Random Sampling
      • Populasi dibagi menjadi beberapa kelompok atau strata → baru dilakukan random sampling
      • Misal penelitian IQ siswa SD →dikelompokan dulu per kelas → lalu masing2 kelas dilakukan random sampling
      • Misal jumlah sample 60 siswa → maka masing2 kelas diambil 10 sample dipilih secara random

      Cluster Random Sampling
      • Cluster sampling dipergunakan saat unit samplingnya terdiri lebih dari satu elemen populasi
      • Misalnya: survey kualitas air minum penduduk didesa
      • Penduduk kita kelompokan dulu → dapat berdasar RT/RW, jalan, sungai

      Multistage Random Sampling
      • Teknik pemilihan sample yang dilakukan secara bertingkat dan biasanya berdasarkan pembagian wilayah kerja suatu pemerintahan
      • Misal: survey jamban di jawa timur → kita tentukan dulu berapa kabupaten/kota yang disampling →berapa kecamatan →berapa desa → berapa dusun → berapa RW → berapa RT

      Asidentil Sampling
      • Pengambilan saple secara kebetulan
      • Misalnya, pada hari dan jam kapan peneliti sempat atau pengunjung puskesmas yang saat itu datang

      Kuota sampling
      • Pengambilan sample yang jumlahnya telah ditentukan oleh peneliti

      Purpose sampling
      • Pengambilan sample yang kriterianya sesuai dengan keinginan atau tujuan peneliti

      Pengumpulan Data
      1. Sensus: mencari data dengan mengamati atau mengukur semua responden
      2. Survey: mencari data dengan mengamati atau mengukur sebagian responden
      • Keuntungan survey:
      • Biaya murah, waktu dan tenaga sedikit, data lebih valid
      • Kerugian survey:
      • Data bersifat sesaat, tidak dapat menggambarkan perubahan yang terjadi dengan berjalannya waktu

      Teknik Pengumpulan Data
      1. Pengamatan
      2. Wawancara
      3. Angket
      4. Pengukuran

      Instrumen Pengumpulan Data
      1. Formulir isian
      2. Check list
      3. Kuesioner tertutup atau terbuka
      4. Alat ukur: timbangan, tersimeter

      Formulir Isian
      • Formulir isian → menggunakan beberapa pertanyaan yang berisi apa yang akan diamati dan pengamat hanya menulis hasil dari obyek yang diamati
      • Tidak ada komunikasi antara responden dan peneliti
      • Misal: Apakah penyakit Flu burung membahayakan?

      Check List
      • Check list terdiri dari beberapa pertanyaan yang jawabanya sudah disediakan oleh peneliti, responden tinggal memberi tanda centang (√)
      • Misal: Pendidikan saudara: □ SD, □ SMP, □ SMA, □ PT
      Kuesioner
      • Kuesioner: daftar pertanyaan yang sudah tersusun secara tertulis dan responden tinggal menulis jawabanya
      • Kuesioner tertutup: jika jawaban sudah disediakan peneliti, responden tinggal memilih jawaban yang telah disediakan
      • Kuesioner terbuka: jika jawaban tidak disediakan peneliti, responden harus menulis jawaban dimana jawabannya tergantung pemikiran responden
      REFERENSI:
      1. Budiarto, 2004, Metodologi Penelitian Kedokteran, Sebuah Pengantar, Jakarta, EGC
      2. Hasan, 2005, Pokok Pokok Materi Statistik 1 (statistik Deskriptif), Jakarta, Bumi Aksara
      3. Hasan, 2005, Pokok Pokok Materi Statistik 2 (statistik Infereansif), Jakarta, Bumi Aksara
      4. Nasution, 2004, Metode research (penelitian Ilmiah), Jakarta, Bumi Aksara
      5. Silalahi, 2003, Metodologi Penelitian dan Studi Kasus, Sidoarjo, Citramedia
      6. Tjokronegoro, 2004, Metologi Penelitian Bidang kedokteran, Jakarta, Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.